Jembatan Akar Bayang: Keunikan Alam di Painan

0
246
Jembatan Akar di Atas Sungai Batang Bayang

Kalau berdasarkan perkiraan Google Maps, seharusnya perjalanan dari hotel tempat aku menginap di Padang menuju Jembatan Akar Bayang tak sampai tiga jam atau sekitar 2,5 jam perjalanan untuk rute 88 km. Sayangnya, kondisi di lapangan sering kali berbeda dengan yang diperkirakan oleh mesin. Salah satu yang tidak bisa diperkirakan oleh mesin adalah ada banyak titik perhentian yang terpaksa kami lakukan dalam perjalanan ini.

Memang sih ketika mempersiapkan itinerary berlibur ke Sumatera Barat, aku sempat membaca salah satu ulasan di blog yang mengatakan kalau rute perjalanan menuju Kabupaten Pesisir Selatan dari Padang itu terasa “wow”. Tetapi aku tak menyangka kalau wow yang dimaksud adalah seperti ini.

Semula aku mengira kalau perjalanan ini akan banyak belokan yang bisa membuat mabuk perjalanan. Juga sempat berpikir bahwa mungkin jalanannya jelek. Aku sudah merencakana untuk tidur saja sepanjang perjalanan ini. Apalagi kami memang berangkat pagi hari agar belum terlalu siang tiba di Kabupaten Pesisir Selatan. Sebuah alasan untuk tidur sepanjang jalan.

Sungai Batang Bayang.

Tetapi ternyata semua dugaan aku itu salah. Wow yang dimaskud dalam tulisan itu mengacu pada tidak bisa menutup mata karena mengagumi pemandangan sepanjang perjalanan. Entah ada berapa banyak air terjun, sawah, dan pemandagan indah yang aku temui dalam perjalanan ini. Sampai-sampai aku sering meminta pak supir untuk berhenti sejenak agar bisa mengabadikan pemandangan ini. Jadi, bisa mengerti bukan kenapa perjalanan menuju Jembatan Akar Bayang ini jadi lebih lama dari yang seharusnya?

Pesona Jembatan Akar Bayang

Enggak salah sepertinya kalau Sumetara Barat dikatakan memiliki banyak keindahan alam. Seakan belum cukup dimanjakan dengan pemandangan cantik sepanjang perjalanan, destinasi utama pagi ini pun tak kalah indahnya: jembatan akar.

Jembatan Akar Sungai Batang Bayang ini berlokasi di Kenagarian Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Setelah perjalanan dengan pemandangan yang indah, terus terang akhirnya aku mulai lelah justru ketika sudah mendekati lokasi tujuan. Dengan jalanan yang menanjak dan pemandangan yang mulai aku rasa kurang menarik, aku mulai mengantuk dan bosan. Untung saja, tak lama akhirnya, kendaraan yang aku naiki parkir di area wisata Jembatan Akar. Cukup dengan membayar Rp 5.000, aku sudah bisa masuk ke area wisata ini.

Jembatan akar ini memang sangat unik. Sebagaimana namanya, jembatan yang berada di atas ketinggian sekitar 10 meter dari Sungai Bayang ini terbuat dari akar pohon beringin yang tumbuh di kedua sisi Sungai Batang Bayang. Seiring berjalannya waktu, jembatan ini justru semakin kuat dengan pertumbuhan kedua pohon tersebut. Tak heran, meski sudah lebih dari 100 tahun, jembatan ini masih tampak kokoh. Akar-akar pohon yang melilit di badan jembatan tumbuh semakin besar. Tak heran, bila jembatan ini bisa menampung hingga 10 orang sekaligus. Meski begitu, demi melindungi akar pohon beringin ini, Pemkab setempat telah menambahkan tali besi pada jembatan ini.

Jembatan Akar yang Sudah Beusia Lebih dari 100 Tahun.
Sejarah Jembatan Akar

Tak kalah unik dari jembatan itu sendiri adalah asal mulanya. Menurut cerita yang beredar, jembatan ini dibangun oleh Pakin Sokan, seorang ulama setempat. Ia melihat murid-miridnya kesulitan untuk menyeberangi sungai ketika hendak mengaji di musim hujan. Karenanya beliau membuat jembatan dan menanam dua buah pohon di kedua tepi sungai. Kejadian ini berlangsung pada tahun 1890. Meski begitu, butuh 26 tahun untuk jembatan ini menjadi cukup kuat agar bisa diseberangi oleh warga. Dan kini, jembatan yang memiliki panjang 25 meter dengan lebar 1.5 meter ini tampak semakin kokoh.

Selain jembatan akarnya yang cantik, Sungai Batang Bayang juga tak kalah menarik. Kesejukan dan kerjernihan airnya menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung diperbolehkan untuk bermain air dan ikan-ikan yang terdapat di dalamnya. Hanya saja, perlu diingat, ada larangan untuk menangkap ikan di Sungai Batang Bayang. Ikan-ikan di sini dianggap kramat, dan hanya boleh ditangkap pada waktu-waktu tertentu.

Aku memilih untuk tidak bermain air di sungai ini. Biarlah aku cukup puas menikmati jembatan dan sungainya dari atas saja karena aku masih harus menuju tempat berikutnya, yaitu air terjun Bayang Sani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.