Jalan-jalan Sambil Buka Lapak Baca di ‘Satu Malam Bersama Alam’

0
939
Satu malam bersama alam.

Membuka lapak baca merupakan kegiatan rutin yang dilakukan tim Sanjayo dalam setiap perjalanannya. Bersamaan dengan petualangan yang kami lakukan, hampir bisa dipastikan bahwa buku selalu terselip dalam ransel atau menumpuk di kardus yang kami bawa. Sejak awal, Sanjayo memang telah berkomitmen untuk jalan-jalan sambil menebarkan virus literasi di setiap tempat yang dikunjungi. Membaca bersama masyarakat dan pulang untuk menulis catatan perjalanan ialah kewajiban yang tak boleh dilewatkan.

Namun ada yang spesial dengan lapak baca kali ini. Jika biasanya kami menggelar buku di perkampungan padat penduduk yang jauh dari akses layanan baca, kali ini kami membukanya pada acara pentas seni bertajuk ‘Satu Malam Bersama Alam’ di salah satu objek wisata bernama Rumah Pohon.

Membuka lapak baca dan menyumbangkan buku.

Objek wisata Rumah Pohon (D’Tree House) adalah objek wisata keluarga yang beralamat di Desa Mertasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Selain menjadi objek wisata, lokasi ini juga sering dijadikan tempat berkumpulnya para pelaku seni.

Sekitar pukul empat sore, kami tiba di objek wisata Rumah Pohon. Hijaunya pohon bambu menjadi pemandangan pertama yang memanjakan mata kami. Tempat ini dipagari oleh tanaman bambu berukuran kecil. Sedangkan di dalamnya terdapat pohon bambu kuning yang tinggi menjulang. Jika bukan rumah pohon, barangkali tempat ini bisa juga disebut sebagai rumah bambu.

Rumah pohon yang terbuat dari bambu.

Tanaman bambu sangat erat hubungannya dengan masyarakat Suku Kaili. Dalam bahasa Suku Kaili, bambu kuning disebut volo bulava yang berarti bambu emas. Cerita rakyat yang berkembang di masyarakat kami menyebutkan bahwa manusia pertama berasal dari dalam ruas bambu kuning. Hampir semua anak Suku Kaili mengenal cerita yang dikisahkan turun-temurun ini. Maka dari itu, kita akan sering mendapati bambu kuning dalam berbagai upacara adat Suku Kaili dan di berbagai tempat wisata.

Hampir semua instalasi yang ada di Objek Wisata Rumah Pohon terbuat dari bambu. Mulai dari pintu gerbang, gapura, gazebo, hingga rumah pohon itu sendiri. Panitia kegiatan ‘Satu Malam Bersama Alam’ juga menggunakan bambu sebagai properti pada pintu masuk dan panggung utama.

Setelah menggelar buku dan mendirikan tenda, kami berjalan mengelilingi lokasi objek wisata Rumah Pohon. Rumah pohon yang menjadi ikon tempat ini merupakan rangkain bambu menyerupai rumah dengan ketinggian sekitar 8 meter, yang melekat pada pohon mangga berukuran besar. Sayangnya, beberapa bagian pada instalasi rumah pohon ini sudah menampakkan gejala rusak. Tapi tenang saja, rumah pohon masih aman untuk dinaiki. Apalagi jika ada seseorang yang bersedia menemani dan menjagamu agar tak jatuh. Cieee.

Panggung pentas seni ‘Satu Malam Bersama Alam’ yang terbuat dari instalasi bambu.

Selain rumah pohon, di tempat ini juga terdapat beberapa gazebo untuk beristirahat, kolam ikan, serta beberapa spot foto yang instagramable. Namun sayang, kolam ikan yang dulunya dapat digunakan untuk memancing, kini mengering dan hanya menyisakan sedikit air.

Menjelang malam, kesibukan di lokasi rumah pohon semakin terasa. Para panitia acara ‘Satu Malam Bersama Alam’ tampak sibuk mempersiapkan pentas seni yang tinggal menghitung menit akan dimulai. Bersamaan dengan itu, lapak kami pun mulai ramai pembaca. Selain membuka lapak baca gratis, sore itu kami juga mendonasikan buku dari para donatur kepada panitia acara.

Ketika malam tiba, para pengunjung mulai berdatangan. ‘Satu Malam Bersama Alam’ diisi dengan penampilan puisi, monolog, teater, tari, musik dan berbagai kesenian lainnya. Malam itu, objek wisata rumah pohon berubah menjadi pentas yang menyatukan alam, budaya, seni, dan literasi dalam satu harmoni yang indah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.