Indahnya Pagelaran Wayang Kulit di Museum Sonobudoyo Yogyakarta

0
501
Pertunjukan Wayang Kulit di Museum Sonobudoyo.

Suara gamelan bergema yang dipadu dengan nyanyian sinden terdengar merdu yang menghentikan langkah saya ketika sedang berjalan kaki di sekitar Alun-alun Utara Yogyakarta. Karena penasaran, saya pun memutuskan untuk bertanya kepada salah satu petugas yang sedang berjaga di pos satpam. Salah satu petugas pun mengarahkan saya untuk masuk ke dalam pendopo megah berarsitektur Jawa klasik yang terletak di dalam sebuah kompleks museum bernama Museum Sonobudoyo.

Museum Sonobudoyo merupakan museum yang menyimpan koleksi mengenai sejarah dan kebudayaan Jawa. Museum yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) pada Dinas Kebudayaan Provinsi DIY ini memiliki beragam koleksi sejarah dan kebudayaan Jawa, mulai dari keramik kuno, senjata kuno, hingga berbagai macam wayang kulit. Museum Sonobudoyo terdiri dari dua unit. Unit I terletak di Jalan Trikora No. 6, sedangkan Unit II terdapat di Ndalem Condrokiranan, Wijilan, atau di sebelah timur Alun-alun Utara Yogyakarta.

Museum yang terletak dekat dengan Alun-alun Utara Yogyakarta atau Museum Sonobudoyo Unit II setiap harinya kecuali hari minggu dan tanggal merah selalu mengadakan pertunjukan wayang kulit. Pertunjukan wayang kulit ini ditampilkan sesuai dengan aslinya, yakni dengan menggunakan Bahasa Jawa serta diiringi oleh sinden dan musik gamelan Jawa. Pertunjukan wayang kulit di Museum Sonobudoyo disajikan dengan durasi yang lebih singkat dibandingkan dengan tradisi asli pertunjukan wayang kulit. Jika biasanya wayang kulit ditampilkan sepanjang malam, maka di Museum Sonobudoyo, pagelaran hanya dibuat sekitar dua jam, yaitu dari jam 20.00-22.00 WIB.

Tiket Masuk Pertunjukan Wayang Kulit di Museum Sonobudoyo.

Untuk menonton pagelaran wayang kulit ini, Anda hanya perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp. 20.000, yang dibayarkan di pintu masuk setelah memasuki pendopo. Pengunjung juga dikenakan biaya sebesar Rp. 3.000 apabila ingin mendokumentasikan pertunjukan, baik menggunakan kamera maupun menggunakan handphone. Setelah membayar tiket masuk, petugas akan memberikan tiket masuk serta brosur yang berisi rangkuman cerita lengkap dengan tokoh-tokoh dari pertunjukan wayang kulit yang akan ditampilkan. Untuk diketahui, pertunjukan wayang kulit di Museum Sonobudoyo menceritakan kisah epik Mahabarata yang dalam pertunjukannya terbagi dalam delapan episode dan ditampilkan berurutan di setiap harinya.

Episode pertama berjudul “Penculikan Sintha”, episode kedua berjudul “Misi Hanoman”, episode ketiga berjudul “Bendungan Rama”, episode keempat berjudul “Misi Anggada”, episode kelima berjudul “Kematian Prahastha”, episode keenam berjudul “Trigangga Mencari Ayahnya”, episode ketujuh berjudul “Kematian Kumbakarna”, dan episode terakhir berjudul “Kematian Rahwana”.

Kesan megah dan klasik langsung terbesit dalam pikiran saya ketika memasuki pendopo. Pendopo tersebut berbentuk segi empat dengan panggung pertunjukan yang berada di tengah-tengah pendopo. Panggung tersebut terbagi dua, yakni panggung untuk pengiring musik lengkap dengan satu set alat musik gamelannya beserta sinden, serta panggung untuk pertunjukan wayang kulit yang berlatar kain putih dengan lampu sorot serta hiasan koleksi wayang kulit di sisi kiri dan kanan panggung.

Pertunjukan Wayang Kulit dari Sisi Belakang.

Karena pertunjukan berada di tengah-tengah pendopo, pengunjung dapat menonton pertunjukan dari segala penjuru. Jika lebih tertarik untuk mengikuti alur cerita pertunjukan wayang kulit, pengunjung dapat duduk di sisi belakang. Sementara jika ingin melihat cara para pemain musik memainkan alat musik gamelan yang berharmonisasi dengan indah satu sama lain beserta para sindennya, pengunjung dapat duduk di sisi depan dan sisi kiri kanan.

Ketika pertunjukan dimulai, saya pun memutuskan untuk duduk di bagian belakang karena ingin mengikuti alur cerita dari pertunjukan wayang kulit, meski sesekali berpindah ke sisi depan karena ingin melihat cara memainkan alat musik gamelan. Karena saya tidak mengerti Bahasa Jawa, maka saya menonton pertunjukan sembari membaca ringkasan cerita yang terdapat di brosur yang menurut saya sangat membantu untuk memahami alur cerita.

Pertunjukan Wayang Kulit di Museum Sonobudoyo.

Sepanjang pertunjukan, saya dibuat kagum oleh keindahan pertunjukan wayang kulit ini. Cara dalang menceritakan kisah sembari menggerak-gerakkan berbagai wayang kulit di balik layar putih yang dramatis, harmonisasi pengiring musik gamelan yang semakin menghidupkan alur cerita, serta merdunya suara sinden membuat paduan pertunjukan wayang kulit ini sangat artistik dan membuat saya terkesan oleh betapa eloknya budaya asal Jawa yang satu ini.

Menikmati pertunjukan wayang kulit di Museum Sonobudoyo tentu menjadi salah satu pilihan wisata yang wajib Anda kunjungi ketika berada di Yogyakarta. Karena seiring perkembangan zaman, pertunjukan wayang kulit semakin ditinggalkan oleh bangsa sendiri dan kerap dianggap kuno. Bahkan menurut salah satu petugas di Museum Sonobudoyo, pertunjukan wayang kulit yang digelar di museum ini merupakan satu dari sedikit pertunjukan wayang kulit yang masih aktif dan konsisten menggelar pertunjukan di Yogyakarta. Padahal jika bukan masyarakatnya sendiri yang melestarikan dan menikmati wayang kulit, lalu siapa lagi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.