Gurihnya Spageti ala Palembang: Mie Celor

0
712
Mie Celor 26 Ilir.

Berbicara kuliner Nusantara memang tidak ada habis-habisnya! Saya sempat berkunjung ke salah satu kota metropolitan di Sumatera tidak lain dan tidak bukan adalah Palembang! Sangat beruntung bisa sampai jauh ke kota dengan ikon Jembatan Ampera ini.

Saya pribadi tidak membuat itinerary dengan rinci saat melakukan kunjungan ke Palembang, biarkan mengalir saja karena hanya singgah sehari untuk melanjutkan perjalanan ke Bangka. I love this city, karena punya transortasi publik yang baik, yaitu Trans Musi. Saya menggunakan moda transportasi ini hanya dengan Rp. 5.000 untuk jarak jauh ataupun dekat.

Berbicara soal kuliner Palembang, di sekitar bibir Sungai Musi tepatnya di bawah Jembatan Ampera menjamur wisata kuliner Palembang dari yang bentuknya pasar, sampai bentuk rumah makan terapung. Siang sampai malam pun ramai pengunjung, apalagi semakin malam rasanya seperti berada di pasar malam!

Ada satu kuliner yang menarik di Palembang yang belum pernah sama sekali saya coba, yaitu Mie Celor. Sayangnya di sekitar Ampera belum ada kedai yang menjual mie celor sehingga saya harus beralih ke tempat lain. Melihat rujukan dari Google, kedai-kedai yang menjual mie celor ada sekitar 2 km dari Ampera dan saya memutuskan untuk jalan ke sana, tepatnya di kawasan Sentral Kampung Pempek, Jl. Mujahiddin, Palembang.

Sentral ini menjajakan juga makanan-makanan khas Palembang seperti pempek, tekwan, amplang, sampai mie celor. Setelah berjalan kurang lebih 150 m dari gang sentra tersebut akhirnya saya menemukan Kedai Mie Celor 26 Ilir. Begitu memasuki kedai, saya langsung amazed dengan interiornya, bangunannya masih sangat lawas ditambah dengan hiasan-hiasan dinding sekitarnya seperti iklan lawas maupun kalender.

Bagian Dalam Mie Celor 26.

Saya memesan dua porsi mie celor beserta minuman. Kenapa diberi nama mie celor? Ternyata arti dari mie celor itu sendiri adalah mie yang dicelup-celupkan, karena saat saya melihat proses pembuatannya itu sangat cepat dan sigap, yaitu setelungkup mie hanya dicelupkan beberapa kali di air panas lalu diangkat dan ditiriskan. Setelah itu, diletakkan pada piring dan disiram kuah kental, serta diberi tambahan topping berupa telor rebus, tauge, dan bawang koreng. Nah, kuahnya sendiri bewarna kuning ke oranye-oranye-an yang mana adalah campuran santan dengan kaldu ebi, dipadu dengan tepung yang membuat kuah ini kental dan gurih.

Mie celor serta teh hangat sudah sampai di hadapan saya, memanggil-manggil untuk segera dilahap. Bentuk mienya gemuk-gemuk seperti spageti, tidak heran kalau mie celor juga sering disebut sebagai spagetinya orang Palembang. Disajikan dengan piring dan gelas lawas menambah kesan legendaris kedai ini. Eits, tunggu dulu. Sebelum menyantap tentunya sebagai travel blogger harus cekrak cekrik alias motret makanannya baru bisa menyantap dengan tenang.

Sepiring Mie Celor dan Teh Hangat.

Wah! Wah! Di luar ekspektasi, sih, rasanya gurih setengah mati! Rasa dominan dari kuah kentalnya, ya gurih itu sendiri. Selain itu, rasa-rasa udangnya juga masih terasa, setelah ditelan gurihnya masih terasa di lidah. Tidak sampai 10 menit, sepiring besar mie celor sudah ludes.

Harga Mie Celor seporsinya adalah Rp. 20.000, saat itu dua piring mie celor dan dua minuman dibandrol harga Rp. 60.000. Lumayan mahal ya untuk ukuran backpacker, seperti saya. Setelah kenyang menyantap mie celor, travelovers bisa jajan pempek, kerupuk ikan, ataupun otak-otak di kawasan sentra kuliner Palembang ini untuk cadangan makan selanjutnya. Selamat mencoba!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.