Gunung Sumbing Via Butuh: Jalur Tercepat Mencapai Puncak Sejati

0
1005
Lautan awan dari pos 4.

Siapa yang tak mengenal Gunung Sumbing? Gunung dengan ketinggian 3.371 mdpl ini selalu ramai didatangi oleh para pendaki. Meskipun memiliki ketinggian yang lumayan membuat calon pendaki menelan ludah, tetapi gunung yang berada di Jawa Tengah ini tetap menjadi gunung favorit untuk didaki. Puncaknya yang terbagi menjadi 3, yaitu Rajawali, Sejati, dan Buntu, menjadi hal menarik tersendiri dari gunung ini. Sama seperti gunung-gunung lain, Gunung Sumbing juga terbagi menjadi beberapa jalur pendakian. Tersebar di Kabupaten Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.

Pemilihan jalur pendakian harus menjadi perhatian penting, terutama bagi para pendaki yang berpacu dengan waktu dan kesibukan. Untuk itu, salah satu jalur yang dapat menjadi pilihan adalah Jalur Butuh, Kaliangkrik. Jalur pendakian ini berada di Kabupaten Magelang. Bagi kalangan pendaki tentu sudah tak asing lagi jika jalur ini terkenal dengan rute tercepat untuk mencapai puncak Sejati.

Untuk mencapai basecamp pendakian via Butuh tak perlu risau kesulitan. Selain letaknya yang dapat dicari dengan maps, kemudahan akses dan jalanan juga memudahkan para pendaki untuk mencapainya. Saya tiba di basecamp pendakian Butuh tepat pukul 12.00 WIB. Cuaca yang cukup menantang untuk melakukan pendakian gunung tinggi seperti Sumbing. Namun apa boleh buat, berkejaran dengan waktu memaksa saya untuk segera turun esok hari. Setelah melakukan registrasi dan cek barang bawaan, pukul 13.00 WIB saya mulai melakukan pendakian.

Panorama golden sunrise dari balik tenda.

Bagi kalian yang ingin sedikit menghemat dengkul (tenaga) bisa menggunakan jasa ojek sampai dibawah pos 1. Cukup membayar Rp 15.000/orang, ojek akan membawa kita naik dengan kendaraan khas yang cukup menguji nyali. Rasa takut, gemuruh jantung semakin cepat, tubuh terseol ke kanan kiri bahkan ke belakang. Namun, ketika saya membuka mata, hamparan kebun penduduk yang hijau dengan kabut tipis yang melengkapinya membuat saya terpana. Hawa sejuk mulai terasa. Bukan lagi ketakutan yang ada dibenak saya, namun keindahan panorama dan suasana yang menenangkan. Sesampainya di pemberhentian ojek, pengendara ojek juga memberitahu jika jalur Butuh ini memang terkenal sebagai jalur tercepat menuju Puncak Sejati. Tentu rasa senang semakin bergejolak di hati.

Sesampainya di pos 1, saya memutuskan untuk sedikit menyantap makanan di warung kecil. Para pendaki lain ramai memadati area pos 1. Di pos 1 ini terdapat sumber air yang dapat dimanfaatkan pendaki untuk mengisi ulang persediaan air. Waktu tempuh dari pemberhentian ojek – pos 1 pun tidak terlalu lama, sekitar kurang lebih 30 menit.

Pos 1 – Pos 2

Perjalanan menuju pos 2 tergolong menanjak. Pohon besar menjulang di setiap sisi jalur. Akar-akar besar merayap menghiasi jalur pendakian yang memang cukup luas. Kabut pun datang ikut menyelimuti. Menambah kesan sejuk dan gelap sesekali. Setelah sekitar 40 menit perjalanan, tibalah saya di pos 2. Tempatnya tidak terlalu luas. Terdapat shelter kecil untuk berteduh para pendaki.

Pos 2 – Pos 3

Rute pendakian semakin sulit. Jalur pendakian sudah mulai menyempit dan tak seluas tadi. Kanan serta kiri jalur pun sudah mulai jurang-jurang dan bukit, bukan lagi pepohonan dan hutan. Terdapat beberapa sungai (kali) yang dilewati pada jalur ini. Hanya saja saat kedatangan saya adalah musim kemarau, sehingga sungai yang seharusnya berisi aliran air sekarang malah mirip seperti jalan pendakian biasa dengan bebatuan besar karena kering. Tak perlu waktu lama untuk mencapai jalur ini. Cukup memakan waktu kurang lebih 1 jam saya sudah sampai di pos 3. Karena saran dari petugas basecamp dan beberapa pendaki yang turun, saya akhirnya memutuskan untuk mendirikan camp di pos 3.

Sungai batu di jalur pendakian.
Pos 3 – Pos 4

Pagi pun tiba. Sorot kekuningan mulai mengenai tenda. Saya dan rombongan bergegas keluar. Takut akan melewatkan panorama yang menakjubkan. Dan benar saja. Baru saja membuka pintu tenda, garis merah-oranye menghiasi mata kami. Dua gunung besar, Merbabu dan Merapi, nampak gagah dengan iringan fajar mulai menampakkan diri. Bagaimana pun juga pemandangan menakjubkan seperti ini akan susah terangkai dengan kata-kata. Panorama yang mampu membuat siapa saja akan betah berlama-lama menikmatinya.

Selepas sarapan dengan roti dan air putih secukupnya, saya memulai summit attack menuju puncak Sejati. Vegetasi dan pepohonan sudah mulai jarang. Hanya hamparan rumput hijau dengan lautan awan yang menjadi teman perjalanan. Setelah 1 jam berjalan, akhirnya saya tiba di pos 4. Tak kalah indah dengan pemandangan di pos 3. Pos 4 menyambut kedatangan saya dengan hamparan lautan awan. Kalau saja tidak ingat bahwa itu awan di atas ketinggian, mungkin saya sudah terjun ke atasnya dari pohon tunggal, seperti di atas kasur empuk.

Puncak Sejati 3.371 Mdpl.
Pos 4 – Puncak Sejati

Jalur dengan rute tercepat menuju Puncak Sejati bukan sekedar katanya. Tidak lebih dari 1 jam akhirnya saya sampai di Puncak Sejati. Tebing batu dengan papan sedang bertuliskan Puncak Sejati berhasil saya genggam. Bendera merah putih berkibar gagah dari ketinggian. Namun waspada dan hati-hati harus diutamakan. Area puncak Sejati yang tidak terlalu luas dan batu-batuan yang menonjol dari dasar tebing mengharuskan kaki harus selalu terjaga dan siap siaga. Puncak Sejati mampu menghapus semua lelah dan rengekan sakit saat perjalanan. Semua dapat terbayarkan dengan pemandangan yang akan membuat semua orang ingin kembali lagi.

Menarik bukan? Ayo ke Gunung Sumbing!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.