Gunung Sumbing Via Bowongso : Jalur Pendakian Terunik

0
325
Hamparan sabana di Gunung Sumbing via Bowongso.

Jawa Tengah terkenal dengan beberapa gunung yang mendapat julukan Triple S, yaitu Sindoro, Sumbing, dan Slamet. Ketiga gunung tersebut merupakan gunung tertinggi yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Diantara gunung-gunung tersebut, Gunung Sumbing memiliki tiga puncak sendiri, yaitu Puncak Rajawali, Puncak Sejati, dan Puncak Buntu. Tak mengherankan apabila hal tersebut menjadikan gunung ini ramai didatangi oleh para pendaki dari berbagai wilayah bahkan luar Pulau Jawa. Gunung dengan ketinggian 3.371 Mdpl ini memiliki beberapa jalur pendakian, salah satunya yaitu jalur Bowongso yang terletak di Wonosobo.

Bagi pecinta gunung seperti saya, minggu tenang yang diberikan pihak kampus sebelum Ujian Akhir Semester harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Bukan hanya untuk berdiam diri di rumah, namun tentu saja untuk melakukan pendakian. Pada bulan Desember yang terkenal basah, saya memutuskan untuk kembali menyambangi Gunung Sumbing bersama beberapa rekan saya dari Jambi. Jalur Bowongso ini saya pilih dengan beberapa pertimbangan terkait kondisi yang sedang musim hujan.

Perjalanan dari Yogyakarta saya tempuh pada malam hari untuk menghindari macet menjelang hari raya Natal dan tahun baru. Perjalanan ini menghabiskan waktu kurang lebih 2,5 jam. Letak basecamp mudah dijangkau dan sesuai dengan petunjuk dari Google Maps, hal ini tentu sangat memudahkan saya untuk mencapainya. Pukul 22.30 saya tiba di basecamp via Bowongso dengan cuaca yang tiba-tiba gerimis. Sesampainya di sana kendaraan saya langsung diarahkan dan diamankan oleh petugas basecamp di tempat yang sudah disediakan. Penduduk di sana pun sangat baik dan ramah kepada para pendaki.

Panorama alam dari ketinggian Gunung Sumbing.

Saat basecamp sudah penuh, saya dan rombongan tidak memungkinkan untuk beristirahat disana. Oleh karena itu, kami diarahkan untuk beristirahat dan tidur di rumah salah satu penduduk sekitar basecamp. Anehnya tanpa saya duga, mereka menyambut para pendaki seperti keluarga sendiri. Mereka menyiapkan minuman hangat dan makanan untuk disantap. Bahkan untuk itu mereka tidak meminta balasan apapun selain kesopanan kami. Entah mengapa setiap saya ke Gunung Sumbing dari jalur manapun penduduk di sekitar sana selalu ramah, terutama penduduk sekitar basecamp Bowongso ini, lebih dari gunung lain.

Keesokan harinya, saya dan rombongan mulai beranjak untuk memulai pendakian. Dimulai dari registrasi dan pembayaran simaksi seharga Rp 13.000/orang. Setelah pengecekan barang bawaan, kami benar-benar di-briefing dengan informasi yang mendetail. Mulai dari jalur-jalur yang tidak boleh dilewati dan prakiraan waktu tempuh tiap pos ke pos.

Di tengah pengarahan ada hal yang menarik perhatian kami, yaitu para pendaki dilarang mengucapkan kata “Dingin” dan “Capek”. Sedangkan kata-kata itu merupakan kata lumrah yang sudah mendarah daging dan pasti diucapkan ketika berada di gunung. Memang aneh tetapi hal ini bukanlah bercandaan dan harus dijalankan, meskipun agak susah ya.

Panorama alam dari ketinggian Gunung Sumbing.

Selain itu ada satu hal yang menarik lagi, yaitu setiap pendaki dibekali bungkusan santan dan kopi cair. Hal tersebut tentu menimbulkan pertanyaan dari para pendaki, untuk apa bungkusan itu. Pihak basecamp menjelaskan jika bungkusan santan dan kopi tersebut harus dibawa naik sampai dengan turun ke bawah kembali. Bungkusan tersebut tidak boleh sengaja dibuang atau dibocor, akan tetapi jika memang benar-benar tidak sengaja tidak mengapa. Kemudian apabila saat mendaki mengalami cidera, keseleo, ataupun kram, maka bungkusan tadi harus dibuka dan dicampur, kemudian dioleskan pada bagian tubuh yang terasa sakit. Ini sudah menjadi tradisi di daerah sana dan kami sebagai pendaki pun harus menghargainya.

Di jalur pendakian kami disuguhkan dengan suasana alam yang sejuk. Terdapat hal yang menarik saat berada diperjalanan yaitu adanya gardu pandang yang cukup luas di jalur pendakian. Dari gardu pandang ini saya dapat menikmati suasana pedesaan dari atas gunung dan tentu saja kegagahan dari kembaran Gunung Sumbing, yaitu Gunung Sindoro. Dari gardu pandang juga nampak penduduk yang sedang mengurusi ladang mereka, suasana yang sangat jarang dapat ditemui di kota.

Salah satu puncak di Gunung Sumbing, yaitu Puncak Rajawali.

Jalur pendakian ini bisa dikatakan sebagai jalur pendakian yang cukup pendek dan banyak track landai. Oleh karena itu, badan tidak terlalu terasa letih sehingga mengurangi kami untuk mengucapkan kata capek, hehe. Di jalur pendakian via Bowongso ini juga terdapat sumber mata air di pos 2. Letaknya yang berada di dekat area camp memudahkan kami dalam mengambil air untuk keperluan logistik. Tak hanya itu, di area camp kami juga disuguhi pemandangan perbukitan yang sangat luas dan panorama matahari tenggelam.

Hal unik terakhir dari jalur pendakian ini adalah luasnya sabana yang membentang mulai dari pos 2 hingga mendekati bibir kawah. Para pendaki hanya melewati hutan mulai dari gardu pandang hingga pos 2, setelah itu yang nampak dihadapan mata hanyalah hamparan sabana yang sangat luas dan memesona. Bahkan ada yang mengatakan bahwa sabana sumbing via Bowongso ini merupakan Rinjaninya Jawa Tengah. Sangat menarik bukan jalur pendakian ini. Tunggu apa lagi? Ayo ke Sumbing lewat Bowongso!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.