Gunung Sumbing Jalur Banaran: Perjalanan Menantang dan Mengagumkan

0
1090
Para pendaki sedang menikmati pemandangan mengagumkan dari ketinggian.

Gunung Sumbing merupakan salah satu gunung yang termasuk dalam julukan ‘Triple S’ Jawa Tengah. Gunung ini memiliki ketinggian 3.371 meter di atas permukaan laut dan merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah. Selain itu Gunung Sumbing juga sering disebut sebagai kembaran Gunung Sindoro. Pendakian Gunung Sumbing memiliki beberapa jalur resmi, salah satunya jalur via Banaran di Kabupaten Temanggung. Jalur ini disebut juga Sumbing East Route atau rute timur.

Setelah menyelesaikan Ujian Nasional yang sangat menjadi ketakutan para siswa kelas 12 waktu itu, saya memutuskan untuk merefreshkan pikiran dengan mendaki Gunung Sumbing via Banaran. Hal yang membedakan jalur ini dengan jalur lain adalah tracknya yang super menantang. Kenapa? Karena lebih dari setengah jalur pendakian ini jalannya berupa tangga, bahkan sampai dijuluki eskalator tracking. Jadi dengkul harus bener-bener siap dulu sebelum mendaki lewat jalur ini. Tapi dibalik lelah dan capeknya jalur via banaran ini akan ada rasa terbayarkan. Bahkan bikin nagih lagi lho.

Saya berangkat dari Yogyakarta sekitar pukul 9 pagi menuju basecamp Banaran. Perjalanan dari Yogyakarta memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit. Basecamp pendakian Gunung Sumbing via banaran ini tergolong nyaman dan bersih. Bukan hanya hal itu, masyarakat disekitar basecamp pun sangat ramah, ini terlihat saat saya melewati rumah-rumah penduduk. Untuk pembayaran simaksi berkisar Rp 10.000-Rp 15.000/orang.

Eskalator Tracking di jalur pendakian.

Pendakian saya dimulai kurang lebih pukul 1 siang. Dengan kondisi yang terlihat terik, saya memutuskan untuk menggunakan ojek menuju ke pos 0 (Brangkalan). Harga ojek yang ditawarkan seharga Rp 10.000/orang. Saat membonceng ojek ini pun harus berhati-hati dan pegangan dengan erat, karena jalur yang menanjak dan berbatu-batu. Selain itu juga karena bapak ojeknya yang kadang ngebut. Eitss, tapi tetep safety kok.

Pos 0 – Pos 1

Perjalanan menuju pos 1 bagi saya cukup jauh. Di jalur ini saya masih melewati ladang dan sawah penduduk. Tentunya mereka sangat ramah kepada para pendaki. Mengobrol dengan mereka pun asik, saya jadi mengetahui apa yang sebelumnya belum saya tau mengenai Gunung Sumbing ini. Di pertengahan jalan saya menemui sebuah shelter dengan air yang mengalir diatas drum besar. Tempat itu dinamakan dongbangker, dan tentu saja airnya terasa sangat menyegarkan. Di pos 1 juga terdapat shelter untuk beristirahat. Disekelilingnya juga banyak batu besar yang bisa untuk bersender-sender dan melepas penat.

Panorama matahari terbit dari Gunung Sumbing.

Pos 1 – Pos 2

Perjalanan menuju pos 2 ini barulah sangat terasa yang namanya eskalator tracking. Memang jalan menuju pos 2 kebanyakan berbentuk tangga, jalan landai bisa dikatakan tidak ada. Dengkul harus selalu kuat, karena kalau tidak saya akan benar-benar berhenti di jalur pendakian. Tapi karena rombongan saya sudah memahami keadaan saya, maka saya dan rombongan melakukan pendakian ini dengan santai. Tidak terburu dengan waktu, asalkan sampai dengan selamat dan sehat. Pos 2 juga memiliki shelter yang luas. Dalam shelter bisa memuat beberapa pendaki yang terjebak hujan deras, termasuk saya. Jalan beratus anak tangga dan hujan. Sesuatu yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Memang di alam situasi tak terduga bisa datang kapan saja. Jadi perlengkapan pun harus selalu siap sedia.

Pos 2 – Pos 3

Karena menunggu hujan sedikit reda, akhirnya saya melanjutkan perjalanan menuju pos 3 malam hari. Dan perjalanan kali ini lebih berat. Ya hujan yang deras sedari sore membuat jalur menjadi becek dan jika tidak berhati-hati akan mudah tergelincir. Selain itu kondisi yang kotor juga membuat badan terasa tidak nyaman. Pada jalur ini, anak tangganya tergolong lebih tinggi-tinggi. Lebar jalan juga sudah mulai agak sempit. Karena waktu yang sudah larut dan keadaan yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, saya dan rombongan memutuskan untuk membuat camp di pos 3. Ternyata di pos 3 juga agak ramai dengan tenda-tenda pendaki yang sepertinya terjebak hujan seperti saya. Area camp di pos 3 relatif aman karena masih banyak pepohonan, sehingga intensitas angin pun lebih kecil.

Kabut menyelimuti jalur pendakian Gunung Sumbing.

Pos 3 – Pos 4

Mendirikan camp di pos 3 berisiko jauhnya jarak tempuh summit menuju puncak. Untuk itu saya memulai summit attack pukul 03.30 WIB dengan jaket tebal dan beberapa persediaan makanan yang memadai. Semakin naik ke atas maka vegetasi dan pepohonan semakin jarang. Bahkan saya melewati hutan yang bisa disebut hutan mati. Pepohonan di hutan itu masih berdiri tetapi sama sekali tidak berdaun dan batang serta rantingnya berwarna coklat mendekati hitam, persis seperti pohon yang hampir mati.

Saat hampir mencapai pos 4 saya harus melewati track yang dinamakan watu ondho. Di sini saya harus menggunakan bantuan rantai dan tali. Hal ini karena watu ondho adalah batu besar yang datar hampir seperti tebing dan satu-satunya jalan menuju pos 4. Tapi jangan salah menilai. Menurut saya ini adalah hal yang sangat menantang dan menyenangkan. Bagi yang belum merasakan serunya memanjat tebing di gunung, sesekali harus merasakan. Sesampainya saya di pos 4 bertepatan dengan terbitnya matahari di pagi hari. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat tidak dapat saya jelaskan. Melihat keindahan itu saya dan rombongan sontak menangis. Perjuangan kami sedari kemarin terbayarkan di pos 4 dengan hal yang menakjubkan. Saya melihat hamparan lautan awan di depan saya dengan mata telanjang. Seakan-akan saya sedang berada di negeri atas awan.

Sabana Segara Banjaran Gunung Sumbing.

Pos 4 – Puncak

Pos 4 merupakan pos terakhir di jalur pendakian via Banaran. Setelah menikmati keindahan di pos 4 saya melanjutkan perjalanan menuju puncak. Pada jalur ini tergolong landai, tidak beranak tangga seperti pos 4 ke bawah. Akan tetapi, karena jalan yang landai menjadikan jalur menuju puncak lumayan lama. Saat perjalanan pun saya sering berhenti dan beristirahat karena jalur yang seperti tidak berujung. Tujuan selanjutnya adalah segera sampai di sabana indah Gunung Sumbing, yaitu Segara Banjaran.

Setelah berjalan hampir beberapa jam akhirnya saya sampai di Segara Banjaran. Benar kata orang, sabana ini sangat menakjubkan, hampir mirip dengan Oro-oro ombo milik Semeru. Yang berbeda di sini adalah sabana ini dikelilingi oleh tebing-tebing yang ditumbuhi tanaman. Untuk melupakan seluruh rasa lelah, saya dan rombongan berlari-lari dan menikmati rasa bebas di Segara Banjaran. Semakin jauh dari Segara Banjaran, saya semakin mendekati kawah dan menemui tebing menuju puncak.

Para pendaki sedang menikmati pemandangan mengagumkan dari ketinggian.

Jalur untuk menuju puncak harus melewati kawah gunung yang mengeluarkan belerang. Saya memilih untuk mengeluarkan banyak tenaga di sini agar cepat mencapai atas. Bukan karena ingin cepat-cepat sampai puncak, namun karena bau belerang yang sangat menyengat dan mengganggu pernapasan. Bagi kalian yang ingin ke sini sebaiknya sedia masker dan wangi-wangian agar dapat mengurangi bau belerang yang menyengat.

Puncak yang ingin saya pijak adalah Puncak Rajawali. Dari namanya sudah terlihat gagah bukan. Perjuangan untuk mencapainyapun sangat besar. Saya harus melewati beberapa pinggiran tebing. Tepat pukul 09.30 WIB akhirnya saya sampai di Puncak Rajawali. Area puncak sedikit terlihat luas karena masih ada beberapa pepohonan. Jika beruntung, maka saya dan rombongan dapat melihat Gunung Sindoro dari atas puncak. Sayangnya saat itu kabut mulai naik dan Gunung Sindoro pun tertutup awan.

Dari pendakian ini saya belajar bahwa sebelum perjalanan kesiapan mental pun sangat perlu untuk mengatasi masalah darurat yang tak terduga sebelumnya. Ternyata banyak sekali pembelajaran serta keindahan dari Gunung Sumbing yang saya dapati melewati jalur Banaran. Meskipun harus bersusah payah melewati eskalator tracking, tapi semua itu terbayar dengan panorama yang memanjakan mata dari atas gunung. Sungguh moment yang jangan sampai terlewatkan. Ayo mendaki Gunung Sumbing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.