Gunung Karang Pandeglang, Menyimpan Benda Peninggalan Zaman Neolitikum

0
1181
Jalan Setapak Menuju Puncak Gunung.

Sobat traveler, Pandeglang yang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Banten memiliki suatu tempat yang dikenal oleh banyak orang, yaitu Suaka Margasatwa Ujung Kulon sebagai tempat perlindungan hewan badak bercula satu yang hampir punah. Pada kabupaten ini juga terdapat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung yang terus dikembangkan dan sudah banyak dikenal oleh para wisatawan.

Tapi, mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa di kabupaten yang dijuluki sebagai kota santri ini mempunyai satu gunung yang menyimpan benda-benda peninggalan pada Zaman Neolitikum, yaitu Benda Cagar Budaya Menhir Pahoman dan Sanghyang Bunut. Kedua situs benda cagar budaya ini sudah ada semenjak zaman pra-sejarah, di mana kebudayaan pada zaman tersebut telah menggunakan peralatan-peralatan yang terbuat dari batu yang diasah. Sedangkan, menhir itu sendiri berupa batu berukuran besar yang didirikan secara tunggal atau berkelompok, dan diletakan secara vertikal di atas tanah.

Gunung Karang menjadi tempat favorit bagi para hiker untuk menikmati landskap kota Pandeglang dan kota-kota lain di sekitarnya. Pemandangan landksap ini sangat luar biasa, apalagi pada saat malam hari. Saya dan teman bahkan berceloteh bahwa hamparan kerlap-kerlip lampu yang kami lihat di atas Gunung Karang ini terlihat seperti kapal pesiar Titanic.

Kampung Terakhir Kampung Kaduengang.

Sobat traveler, untuk hiking menuju kawah atau puncak Gunung Karang ini, sebenarnya kamu bisa menggunakan mobil pick-up atau ojeg dari pusat kota menuju kampung terakhir, yaitu Kampung Kaduengang, karena jalan dari pusat kota sampai ke kampung terakhir ini sudah cukup bagus dan bisa dilalui oleh kendaraan. Jadi, kamu bisa menghemat waktu dan tenaga untuk mencapai kawah dan puncak gunungnya dengan mudah dan cepat. Dari Kampung terakhir inilah petualangan kamu ber-hiking ria akan dimulai.

Tapi, saya dan kedelapan teman lebih memilih untuk berjalan mulai dari pusat kota sampai ke puncak gunung. Meeting point kami berada di Masjid Agung Pandeglang yang lokasinya dekat dengan alun-alun kota. Setelah semuanya berkumpul, kami mulai melangkahkan kaki dengan santai sekitar pukul tujuh pagi. Ketika melewati Kampung Pasir Peteuy, barulah kami mengetahui tentang situs Benda Cagar Budaya Menhir Pahoman dan Sanghyang Bunut ini.

Seorang bapak tua yang merupakan kuncen di kampung ini menyarankan kami untuk berziarah terlebih dahulu sebelum mulai hiking menuju Gunung Karang. Istilahnya, sebagai bentuk sopan santun sebelum naik gunung. Kami akhirnya mulai berziarah dengan sebelumnya berwudhu di sumber mata air yang sangat dingin dan segar. Beberapa orang dari kami ada yang melaksanakan shalat dhuha terlebih dahulu.

Menhir Pahoman.

Pada Zaman Neolitikum, yaitu pada sekitar 6000 tahun sebelum masehi, menhir digunakan untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penghormatan kepada arwah nenek moyang. Sekarang, banyak warga sekitar Pandeglang yang memercayai bahwa situs Menhir Pahoman ini memiliki karomah. Jadi selain warga Pandeglang, banyak juga orang dari luar daerah datang untuk berziarah, selain melihat menhir-nya itu sendiri.

Setelah selesai berziarah, kami melanjutkan perjalanan. Tapi, baru beberapa puluh meter berjalan, langkah kaki kami terhenti ketika membaca plang nama bertuliskan Benda Cagar Budaya Menhir Sanghyang Bunut. Ternyata di Kampung Pasir Peteuy ini, bukan hanya terdapat satu situs menhir saja, melainkan dua buah situs peninggalan pada zaman purba. Kami kemudian melihat situs ini sebentar. Karena, situs cagar budaya yang kedua ini tidak dijadikan tempat berziarah, jadi waktu kami di situs ini tidak selama ketika kami berada di situs pertama.

Kami tiba di puncak gunung selepas waktu dzuhur, dan sebelumnya kami sangat excited untuk segera menuju ke puncak Gunung Karang dan bermalam dengan cara mendirikan tenda. Tetapi, ketika kami mendapatkan kedua situs benda cagar budaya menhir ini, kami merasa bahwa peninggalan zaman pra-sejarah inilah yang sebenarnya lebih penting untuk kami lihat dan pelajari.

Jadi, kapan nih kamu akan hiking ke Gunung Karang di Pandeglang?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.