Puncak Ciremai
Berada di Puncak Ciremai sungguh pengalaman yang tidak terlupakan.

Gunung Ciremai atau Cereme adalah gunung tertinggi di Jawa Barat. Ketinggiannya 3078 meter di atas permukaan laut, cukup tinggi dibanding gunung-gunung lain di daerah Jawa Barat. Gunung Ciremai merupakan gunung berapi kerucut yang terakhir meletus pada tahun 1938. Sekarang memang tidak ada aktivitas vulkanik yang membahayakan, sehingga aman untuk aktivitas pendakian. Ada beberapa jalur pendakian di Gunung Ciremai, meliputi jalur Apuy di Kabupaten Majalengka, jalur Linggarjati, jalur Linggasana, dan jalur Palutungan di Kabupaten Kuningan.

Pada 15 Agustus 2017, saya mendaki Gunung Ciremai melalui jalur Linggarjati, Kuningan. Saya berangkat dari Bandung dengan bus menuju Kuningan pukul 6 sore, perjalanan sejauh 94 kilometer ditempuh sekitar 3 jam perjalanan. Lalu saya sampai di Kuningan kurang lebih pukul 9 malam. Cukup cepat, bis yang saya naiki meliuk-liuk di jalan Cadas Pangeran, terasa mengerikan dan melelahkan, tapi saya berusaha menikmati wahana ugal-ugalan gratis ini. Saya melanjutkan dengan bus ¾ menuju daerah Linggarjati, kurang lebih sekitar 20 menit perjalanan, ongkosnya sekitar 10 ribu rupiah saja. Saya turun di sekitar jalan raya Bojong – Linggarjati, kebetulan ada tukang ojek yang mangkal.

 “Ke Basecamp Linggarjati, kang?”  Tukang ojek sudah tahu tujuan saya, mungkin karena carrier dan alat alat yang saya bawa. Harga yang dia tawarkan 30 ribu rupiah sampai depan basecamp, cukup mahal, saya nego dan mencoba menawar. Kami sepakat 25 ribu rupiah sampai basecamp, berangkat! Saya sampai basecamp sekitar pukul sepuluh malam, tidak mungkin langsung mendaki karena hari sudah malam dan tubuh saya cukup lelah, saya pikir lebih baik beristirahat dan mulai mendaki pada pagi hari. Saya dan banyak pendaki lain beristirahat di basecamp Linggarjati, rupanya banyak sekali pendaki yang ingin sampai di puncak Panca Buana pada 17 Agutus nanti.

Hutan di jalur pendakian Ciremai
Hutan di jalur pendakian Ciremai.

Pagi hari, 16 Agustus 2017, saya memulai registrasi pendakian pada jam 6 pagi. Simaksi pendakian seharga 50 ribu rupiah, dengan mendapat satu kupon sarapan dan satu buah sertifikat pendakian. Nasi putih, telur ceplok, dan teh manis hangat seakan menambah mood dan tenaga untuk sembilan jam pendakian. Saya pun membeli tambahan teh hangat untuk bekal perjalanan. Setelah registrasi dan sarapan, saya mulai mendaki sekitar pukul 7 pagi.

Bunga edelweiss di jalur pendakian Ciremai
Bunga edelweiss di jalur pendakian Ciremai.

Pos Linggarjati – Pos Cibunar (1 jam)

Perjalanan pun dimulai. Dari pos Linggarjati saya berjalan sekitar 1 jam menuju pos Cibunar, jalan aspal menanjak ini cukup melelahkan, hitung hitung pemanasan untuk jalur sebenarnya. Sampai di pos Cibunar, saya beristirahat karena beberapa jam pertama dalam pendakian adalah proses adaptasi.

Pos Cibunar – Leuweung Datar – Kondang Amis ( 40 – 70 menit)

Hutan wana wisata, perkebunan warga, dan hutan pinus membuat pemanasan makin menyenangkan. Jalur setapak datar pun menyambut para pendaki yang masih bisa bercanda dan tertawa di jalur ini, karena beberapa kilometer di depan akan sangat melelahkan.

Kondang Amis – Kuburan Kuda ( 1 – 1,5 jam)

Jalur pendakian sudah mulai sedikit menanjak dan rapat. Vegetasi semakin rapat, rimbun, dan adem. Beban dari carrier dan alat yang saya bawa sudah terasa. Salahnya, di pos awal saya kurang melakukan pemanasan, sehingga punggung dan tungkai sudah terasa pegal.

Kuburan Kuda – Pangalap ( 1 – 1,5 jam)

Di pos Kuburan Kuda, saya beristirahat cukup rutin, selama 10 menit sekali saya berhenti, untuk menyesuaikan tenaga dan nafas. Saya berjalan santai saja, tidak terburu buru, agar bisa menikmati dan menghemat tenaga. Trek mulai menanjak, untung masih banyak akar akar pohon, sehingga para pendaki tidak mudah tergelincir.

Pangalap – Tanjakan Seruni (1,5 – 2 jam)

Vegetasi rimbun dan masih cukup rapat. Tetapi jalur pendakian terlihat sangat jelas dan tidak banyak jalan bercabang, papan petunjuk pun masih sangat jelas terlihat dan sangat membantu pendakian. Trek makin menanjak, karena di pos sebelumnya saya intens beristirahat, maka di jalur ini saya sudah “panas” dan dalam posisi nyaman untuuk pendakian. Intensitas istirahat pun berkurang walaupun jalur semakin berat dan menanjak.

Tanjakan Seruni – Bapa Tere ( 1,5 – 2 jam)

Menurut saya, pendakian esensinya adalah menikmati rindangnya pohon, nyanyian burung, udara segar, dan keringat kita yang menyehatkan. Apapun yang terjadi, santai aja, jangan rusuh, dan belajar menikmati. Jalur ini benar benar menguras tenaga, pikiran, dan mental kita. Trek yang semakin sempit, licin, dan terjal benar benar menguji kekuatan dan ketahanan kita. Pendaki pendaki yang tidak kenal pun saling menyemangati dan mengajak bercanda, agar “siksaan” ini bisa dinikmati dengan gembira.

Bapa Tere – Batu Lingga (1 jam)

Ketika melihat jalur terjal di Bapa Tere, saya kaget dan “soak”. Jalur ini kira kira 75 – 85 derajat kemiringannya, sehingga untuk melewatinya kita harus memakai tali dan sedikit merayap agar bisa naik. Tetapi, alam memang sangat baik bagi saya, ada pendaki turun yang menunjukan jalan pintas untuk melewati tanjakan “bapa tiri” itu, jalan pintasnya nikmat dan tidak seterjal tanjakan itu. Terimakasih semesta!

Batu Lingga – Sangga Buana (2 jam – 2,5 jam)

Jalur yang terus menanjak dan rapat membuat beban di punggung benar benar terasa. Pinggang, punggung, tungkai, dan bahu terasa panas dan pegal. Disaat saat seperti inilah, guyonan dan tertawaan sangat menyegarkan, istirahat intens pun kembali saya lakukan. Santai saja dan konstan, perlahan lahan saya terus naik. Tak terasa sampailah saya di pos Sangga Buana sekitar pukul setengah 5 sore, kelelahan benar benar terasa, kaki saya mulai kram dan sakit, saya segera mencari lahan landai untuk mendirikan tenda dan berkemah. Sesuai rencana awal, saya beristirahat di pos Sangga Buana untuk melanjutkan pendakian esok pagi sekitar pukul 3 subuh, agar bisa menikmati matahari 17 agustus.

Sangga Buana – Pangasinan (45 – 60 menit)

Pukul 3 subuh saya melanjutkan pendakian. Kabut, udara super dingin, dan embun, benar benar membuat saya menggigil. Walaupun sudah memakai sarung tangan dan jaket polar, saya tetap merasa dingin dan menggigil, mungkin saya harus bergerak. Saya pun berjalan naik menuju pos Pengasinan, dengan kondisi oksigen yang semakin tipis. Vegetasi pun sangat lebar, tidak serimbun jalu jalur kemarin.

Jalur menuju puncak Panca Buana
Jalur menuju puncak Panca Buana.

Pengasinan – Puncak Panca Buana (30 menit – 1 jam)

Jalan menuju puncak sangat terjal, berbatu, dan melelahkan. Tidak ada akar pohon atau rumput yang menopang jalur, perlu kehati – hatian dan konsentrasi yang tinggi. Semakin menanjak, semakin terdengar lagu lagu kebangsaan yang dinyanyikan oleh para pendaki. Semangat 17 Agutus benar benar terasa di puncak paling tinggi se Jawa Barat, nasionalisme bukan jargon atau kata kata membosankan dari pidato panjang, kami seakan menyatu secara otomatis hanya karena lagu lagu yang kami nyanyikan dengan bangga.

Upacara 17 Agustus ala pendaki di puncak Ciremai
Upacara 17 Agustus ala pendaki di puncak Ciremai.
Kawah Ciremai terlihat dari puncak
Kawah Ciremai terlihat dari puncak.

Kami mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih sambil menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Rasa bangga dan bahagia benar benar kami rasakan disini, apalagi saat mencium “Sang Saka Merah Putih“, saya merinding dan haru sekali. Perjalanan sejauh 12 jam berasa ringan setelah saya melihat keagungan puncak Panca Buana, kemegahan atap Jawa Barat ini sangat indah dan agung. Dari sini terlihat puncak Gunung Slamet, seharusnya Gunung Sumbing dan Sindoro pun terlihat, tetapi cuaca sedang berawan sehingga hanya terlihat puncak Slamet saja. Yuk, mendaki Ciremai!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.