Guntur is the Most Memorable Mountain

0
141
Pemandangan Guntur dari Bawah.

Sebelumnya, yuk kenali dulu Gunung Guntur!

Gunung Guntur adalah gunung yang bertipe stratovolcano, yaitu Gunung berapi yang berbentuk kerucut, yang terbentuk dari lava dan abu vulkanik yang mengeras. Cirinya lagi kerucut di puncak dan landai di kaki.

Gunung ini terdapat di Kelurahan Pananjung dan Desa Pasawahan, Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa barat, dan memiliki ketinggian 2.249 Meter di atas permukaan laut (MDPL).

Dulu aku sering bertanya-tanya, kenapa sih gunung ini memiliki nama Guntur? Konon cerita, dulu ada sebuah kerajaan “Kokorobokan”. Dalam cerita tersebut, gunung tersebut meletus dan mengeluarkan sebuah suara guntur yang dahsyat, arti dari guntur sendiri adalah “Halilintar” atau “Petir”. Dan aku telah meng-iya-kan sebutan tersebut, karena memang ketika di sana kilatan dan bunyi gunturan dari gunung tersebut terdengar tidak biasa.

Oke, masuk cerita.

Sebelumnya, aku sempat menikmati angin Guntur dua kali pada tahun 2018 yang pasti keduanya dengan budget travelling-ku yang murah. Pendakian pertama gunung tersebut, aku bersama beberapa kawan-kawanku di bangku Sekolah Menengah Akhir, dan tambahan temennya temenku. Pada saat itu, kami semua masih awam, memang benar-benar belum ada satu orang pun di antara kita yang telah menaklukan atau mendaki gunung tersebut. Tetapi karena ingin sekali kami menjamahnya, maka kami tetap nekat untuk melaksanakan pendakian ke Gunung Guntur tersebut.

Ini tempat kami menggambil sumber air.

Jelas sebelum melakukan pendakian, rencana perjalanan yang paling utama diketahui oleh para pendaki adalah informasi tentang bagaimana Gunung tersebut. Ketika itu kami pun mencoba membabat informasi-informasi dari internet tentang bagaimana kami dapat sampai ke sana, kendaraan apa yang harus kami tunggangi, apa yang perlu kami siapkan, dan bagaimana kondisi gunung tersebut pada saat itu dan lain sebagainya.

Setelah berhasil mengumpulkan segala informasi, kami memutuskan untuk pergi. Kami di sini adalah para perempuan tangguh, kenapa begitu? Ya, karena satu tim kami yang berjumlah tujuh orang diisi oleh enam wanita tangguh, dan satu laki-laki hehe. Pada saat itu memang rencana mendaki dadakan, dan tim ini terbentuk dari hasil gibahan. Tadinya memang tidak ada laki-laki sama sekali, tapi karena temennya temenku ini ingin sekali ikut, mau tidak mau dia harus bertanggung jawab atas enam orang wanita-wanita ini.

Lanjut cerita, kami berenam tanpa satu laki-laki ini berangkat sekitar pukul 7 menggunakan mobil pick up ayahku. Kami di antar sampai gadog saja, karena ayahku tidak bisa berkesempatan mengantar sampai sana. Kami di Gadog menunggu bus datang, sampai sekitar pukul 9, kami tidak menjumpai bus satu pun yang akan mengarah ke tujuan.

Alhasil, kami mendapati sebuah truck pasir tanpa muatan dan menghentikannya kemudian meminta bantuan kepada bapak supir untuk ikut dengan truck tersebut. Karena bapak supir ini baik sekali, ia mengizinkan kami ikut, dan ketika kami bertanya di mana tujuan akhir truck ini, magic! Kami satu tujuan.

Ini tempat kami mendirikan tenda.

Di tengah perjalanan, cowok satu tim kami dalam pendakian ini menyusul naik truck ini juga karena kami telah meminta persetujuan kepada bapak supir agar berhenti di tempat ketemuan dengan si cowo ini. Malam itu sangat-sangat pengalaman pertamaku dan juga teman-tema ku menumpang (atau bahasa gaul nya “nebeng”) dengan truck pasir yang jaraknya sangat jauh. Beruntungnya kami saat itu, dan Rp 60.000 yang tadinya untuk biaya tarif bus, tetap aman di kantong hehe.

Singkat cerita, setelah sekian banyak perjalanan kami sampai di Garut. Lanjut naik angkot yang kami sewa untuk menuju basecamp Gunung Guntur tersebut. Karena lumayan jauh, kami sedikit menggocek uang untuk menyewa angkot tersebut kisaran Rp 140.000 yaitu Rp 20.000/orang.

Kami sampai di basecamp sekitar pukul 02.00 pagi. Di sana kami putuskan untuk beristirahat dan mengisi tenaga. Setelah sekitar pukul 07.00, kami mulai bergegas naik, tapi sebelumnya kami dapat arahan dan harus membeli tiket kontribusi sekitar Rp 15.000. Setelah dari sana kami diarahkan kembali ke saungnya Abah, ia terkenal oleh para pendaki Gunung Guntur. Di sana kami diarahkan dan diingatkan untuk menjaga kelakuan dan lain sebagainya, setelah itu kami memulai pendakian.

Awalnya kami memang nyasar, ini karena ke-sok-tahuan teman saya. Di sana saya mulai curiga kalau kami memang nyasar, karena sejak awal kami mulai pendakian, kami tidak menemukan jejak kaki pendaki yang lain. Kami mencoba membagi dua tim, untuk mencari trek jalan yang benar, sekitar 10 menit kami berpencar, tim saya mendapatkan jejak pendakian yang benar dan saya menghubungi tim saya yang lain dengan tawa.

Setelah mendapati jalur pendakian yang benar, kami mulai mendaki dengan canda tawa, kesal, dan lelah. Ya memang itulah emosi yang didapati ketika mendaki gunung. Setelah 6 jam mendaki, kami sampai di Pos 3, dan kami wajib mendirikan tenda di pos tersebut.

Ini ketika pendakian saya yang kedua bersama komunitas pendaki gunung.

Pemandangan Guntur memang sangaaaat indah tapi juga sangat panas. Kami mendirikan tenda di dekat tiang bendera buatan, dan setelah itu kami membagi tugas siapa yang masak, dan mengambil air. Si cowok ini dan satu tema ku memasak, aku dan sisanya mengambil air. Ketika sekitar 30 menit kami di Sungai Guntur, tempat pengambilan air para pendaki Guntur, kami mendengar teriakan kawan saya dan para pendaki yang lain meneriakakan, “Kebakaran!”.

Pada saat itu betapa terkejutnya kami yang sedang asik bermain air bergegas lari menuju tenda dan menggotong tenda yang masih berdiri tanpa peduli kami memasukan semua barang-barang ke dalam tenda. Kami menggotong tenda ke dekat pos 3 dan mem-packing ulang peralatan-peralatan kami dengan benar, setelah itu, dengan berat hati, kami berlari untuk turun kembali. Pada saat itu memang dalam situasi runyam, sambil ketakutan akan suara api yang cepat merembet, dan takut terjatuh karena berlari menuruni gunung tersebut. Sambil mengumpat kecewa karena belum sempat sampai di puncak Gunung Guntur yang baru mau kami daki esok harinya.

Setelah itu kami pulang dengan banyak cerita lucu dalam pendakian kali itu, dan aku bertekad pada diri sendiri, bahwa aku akan kembali tanpa takut akan terulang kembali, “Pokonya harus sampai puncaknya!”

Dalam berbeda bulan, aku dengan tim yang berbeda, yang beranggotakan 5 orang dan bertolakkan dengan yang sebelumnya. Kali ini 3 laki-laki dan 2 perempuan dari Komunitas Pendaki Dapala Indonesia memulai kembali pendakian.

Pendakian ini tersusun, dan berakhir dengan bahagia karena aku sudah menepati tekadku untuk dapat sampai di puncak Gunung Guntur. Yang berbeda dari pendakian Guntur sebelumnya adalah puncak dan suasana malam di sana. Puncaknya sungguh indah, hanya butuh 3 jam untuk sampai ke sana dari Pos 3, dan medan dari tracking tersebut lumayan susah, karena 80% pasir dan 20% tanah berumput. Ya mirip-mirip dengan Semeru, namun Guntur masih anaknya.

Pemandangan Guntur dari Bawah.

Malam Guntur sungguh kurindukan, karena city light yang sangat sangat indah! Tempat yang benar-benar tenang, bedanya dari pendakian sebelumnya juga, pada pendakian kali ini ada unsur horornya, aku sendiri yang mengalaminya.

Pada saat itu waktu maghrib, aku dan satu abangku dari komunitas ini pergi ke sungai untuk mengambil air wudhu. Di sana posisinya ada dua tempat, pertama di atas tempat aku dan teman-temanku ambil air pada pendakian pertama, dan yang kedua di bawah tempat pengambilan air tersebut, jaraknya tidak terlalu jauh, tapi medannya bebatuan yang lumayan bahaya jika di bawa lari.

Pada saat itu aku dan abangku berjalan menuju tempat ke dua, tapi setelah melihat banyak orang di bawah sana aku berdesis, “Kenapa ga di atas aja?” Kenapa di bawah ramai? Karena ga ada yang ke atas sana. Aku dan abangku pun melirik ke atas sana, kami melihat ‘seseorang’ yang masuk ke dalam tempat pertama itu, tanpa pikir panjang kami menyusul yang terlihat oleh kami dan kemudian kami memasuki tempat tersebut tanpa basa-basi. Sampai di sana kami tidak melihat ‘seseorang’ yang tadi kami lihat, seketika itu juga badan kami bergidig dan dingin sambil tatap menatap.

Pada saat itu kami merasa seperti sedang drama di suatu film-film horor haha. Tanpa pikir panjang pun aku memimpin lari keluar tempat tersebut dan berlari menuju tempat kedua untuk tetap mengambil air wudhu. Sungguh pengalaman baruku. Esok harinya aku dan abangku itu baru berani bercerita tentang kejadian semalam, kami memang benar-benar melihat jelas sosok itu yang menggunakan alat penerang dan syal memasuki tempat tersebut. Kami tertawa sambil mengulang ekspresi yang didapatkan ketika bertatap-tatapan, seolah kami satu pikiran, umpatku tidak akan lagi aku sompral.

Mungkin dari sana pengalama ku dapat menjadi pelajaran buat kita semua. Terima kasih telah membaca!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.