Gereja Puhsarang, Gereja Batu Bearsitektur Unik di Kabupaten Kediri

0
1209
Arsitektur Gereja Puhsarang Bagian Depan.

Kediri? Pasti yang ada di benak travelovers adalah Simpang Lima gumul yang katanya Paris-nya Jawa Timur ataupun eksotisme Gunung Kelud. Padahal, Kediri bukan sekedar itu! Kali ini saya akan membagi pengalaman saya berkunjung ke salah satu wisata anti-mainstream di Kediri, yaitu Gereja Kuno dengan gaya arsitektur unik di Kediri. Gereja? Memangnya boleh masuk? Tentu saja boleh!

Letaknya sendiri berada di kaki Gunung Wilis, tepatnya di Desa Puhsarang, Kabupaten Kediri, maka dari itu gereja ini dinamakan Gereja Puhsarang. Kawasan ini sudah ada sejak tahun 1936, berupa gereja katolik roma dan masih terawat hingga sekarang. Lalu, apa yang membuat gereja ini berbeda?

Tampak depan arsitekturnya sudah mempesona, yang saya lihat pertama adalah bebatuan yang ditumpuk rapi dan menghasilkan tekstur tersendiri. Megah, sangat megah. Tumpukan batu tersebut sudah ada mulai awal pembangunan gereja ini. Begitu sampai di depan gereja, petugas setempat menjelaskan beberapa hal terkait do and don’ts-nya, karena sampai saat ini gereja masih aktif sebagai kawasan ibadah, bukan hanya untuk kunjungan ataupun wisata.

Penampakan dari Gua Maria.

Kabarnya, gereja ini merupakan perpaduan gaya bangunan Roma disertai dengan sentuhan budaya lokal, jika dilihat dari bentuk pintu masuknya yang bergaya punden berundak ala candi. Selain itu, tumpukan batu-batu merupakan gaya khas bangunan Kerajaan Majapahit. Bangunan ini sudah melalui fase renovasi selama empat kali sejak pertama kali berdiri.

Memasuki kawasan Gereja Puhsarang kita akan disambut berbagai lapak yang menjual berbagai macam barang. Mulai dari makanan, minuman, hingga oleh-oleh seperti gantungan kunci, pajangan dinding, aksesoris, tas, dan lain sebagainya. Lapaknya benar-benar banyak, saya tidak sempat untuk menghitungnya satu-satu karena sudah tidak sabar ingin segera melihat megahnya gereja ini di bagian dalam.

Sesampainya di bagian dalam gereja kita akan disuguhi pemandangan gua-gua besar berisikan patung maria atau biasa disebut Gua Maria. Nah, di tempat ini banyak orang-orang membawa lilin dan berdoa lalu meletakkan lilin tersebut ke Gua Maria. Lilin bisa dibeli di kios-kios yang sudah saya sebutkan tadi, ada yang polos ada juga yang bergambar. Waktu itu saya mengunjungi Puhsarang di hari Minggu sehingga ramai pengunjung dari luar kota serta terdapat electone dan beberapa pertunjukan nyanyian. Meskipun sudah ada tempat duduk yang disediakan untuk jamaat juga ada yang membawa tikar dan bekal bersama keluarga besar.

Salah Satu Titik Diorama.

Benar saja, semakin siang semakin ramai dan memasuki pukul 11:00 kami yang tidak berkepentingan untuk ibadah dianjurkan untuk segera keluar area Gua Maria, karena akan diadakan ibadah misa minggu. Petugas setempat memberi tahu bahwa ketika dilaksanakan ibadah misa tidak boleh memotret prosesnya. Wisatawan tidak harus serta merta keluar kawasan, hanya keluar area Gua Maria saja dan bisa melihat spot lain, yaitu diorama yang menggambarkan kisah Yesus Kristus yang sengsara sebelum akhirnya wafat di Kayu Salib. Diorama tersebut sejumlah 15, dengan rute yang menyesuaikan cerita, patung-patungnya juga memiliki keterangan sendiri-sendiri. Hal yang unik dari diorama ini adalah patungnya bewarna emas.

Sembari berkeliling dan membaca alur ceritanya tidak jarang juga wisatawan luar kota yang tidak melakukan ibadah misa sama-sama menghayati diorama tersebut sembari berdoa. Kami yang melihat proses tersebut mengantre dan disini saling toleransi sangat terlihat jelas antar umat beramaga.

Setelah usai memotret sana-sini saya bergegas kembali sembari berburu kuliner segar di kios-kios yang ada. Apabila ingin berkunjung ke wisata religi ini saya sarankan jangan di hari minggu agar tidak menganggu proses ibadah misa minggu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.