(Gagal) Berburu Sunrise di Bukit Mentigen dan Seruni Point

0
963
Landscape Bromo dan Gunung Batok dari Seruni Point.

Dulu, sebelum internet membuat dunia jadi selebar tablet, ada yang namanya sahabat pena. Dua orang yang menjalin persahabatan melalui korespondensi surat-menyurat. Nampaknya seru sekali membicarakan tentang sahabat pena. Barangkali bisa dianalogikan dengan sahabat pena, yakni pertemanan yang awalnya terjalin melalui hubungan di internet. Yang kemudian sering bertukar cerita melalui jejaring pribadi. Atau apa istilah yang tepat, Sobat TravelBlog?

Melalui dunia tulis-menulis, saya akhirnya berteman dengan banyak orang yang tidak hanya berasal dari Jawa Timur. Salah satunya adalah kawan yang bernama Mbak Rini yang merupakan asli Garut. Untuk saat itu, dia bekerja di Bekasi. Sebelumnya kami pernah jumpa di acara grand launching One Day One Juz di masjid Istiqlal, Jakarta. Waktu itu Mbak Rini masih bekerja di Bandung. Jadi kami bertemu di Jakarta. Dan kali ini giliran Mbak Rini datang ke Jawa Timur untuk bersua dengan saya. Saya menjemputnya di Stasiun Pasar Turi, Surabaya.

Esok hari kami jalan-jalan ke Suramadu yang merupakan salah satu ikon Jawa Timur. Dan berikutnya, tak lupa kami mengunjungi ikon Jawa Timur lainnya yang juga merupakan ikon Indonesia di mata dunia internasional, yakni Bromo!

Landscape Bromo dan Gunung Batok dari Seruni Point.

Bromo, sebagai kawasan wisata, tidak habis dibicarakan dan rasanya tidak akan bisa bosan meski mengunjunginya berkali-kali. Pantaslah ia menjadi ikon Indonesia di dunia. Bromo menyajikan puncak gunung berapi aktif, beberapa spot untuk menyaksikan sunrise, lautan padang pasir yang luas, dan lautan bukit hijau bak bukit Teletubbies. Kemudahan transportasi dan akomodasi di sana juga sudah terjamin. Saya sendiri telah mengunjunginya sebanyak tujuh kali. Dan saya tidak bosan sedikitpun.

Terakhir mengunjungi Bromo pada bulan Juli lalu, Bromo telah mengalami perubahan yang signifikan. Perubahan yang paling mendasar adalah sekarang sudah ada toilet umum di tempat parkir Jeep sebelum mengunjungi kawah Bromo. Selain itu, jika dahulu tempat untuk menyaksikan Sunrise hanya di Penanjakan, kini ada beberapa tempat atau spot untuk menikmati Sunrise. Setelah Bukit Mentigen dan Seruni Point, kini ada lagi Bukit Kingkong.

Untuk mengunjungi Bromo perlu dipertimbangkan cuaca yang sedang berlangsung. Suhu udara yang paling hangat (walaupun tetap saja dingin) ada di bulan November-Desember. Namun jika ingin menyaksikan Bukit Teletubbies yang sedang hijau-hijaunya, bisa berkunjung di bulan Januari-Februari. Dan jika ingin melihat sunrise terbaik, infonya jatuh di bulan Juli-Agustus. Namun suhu saat itu sangat dingin bahkan pernah turun salju. Saat saya berkunjung di bulan Juli lalu, suhu di sana mencapai 11 derajat Celcius.

Menyambut Sunrise di Bukit Mentigen.

Jadi, jika Sobat TravelBlog memutuskan untuk travelling atau refreshing ke wisata Bromo, berikut ini adalah sedikit pengetahuan yang saya dapat setelah mengunjungi Bromo sebanyak tujuh kali. Setidaknya bisa menjadi bahan pertimbangan bagi Sobat TravelBlog untuk membuat keputusan agar Sobat TravelBlog tidak tersesat, hehe.

Ada dua loket pintu masuk kawasan wisata Bromo. Yaitu dari Tumpang – Malang dan dari Ngadisari/Cemorolawang – Probolinggo. Penginapan tersedia melimpah ruah di Desa Ngadisari. Jika ingin menginap dan membawa kendaraan pribadi, maka bisa memilih jalur Probolinggo ini. Jika menggunakan bus pariwisata, akses yang paling memungkinkan adalah melalui Tongas, Probolinggo.

Namun jika menggunakan kendaraan umum, bisa dari keduanya (Malang/Probolinggo). Jika memilih dari arah Tumpang, dari Terminal Arjosari Malang bisa naik angkot sampai di Tumpang. Lalu dari Tumpang hanya bisa naik Jeep menuju ke kawasan Bromo, baik itu menyewa untuk satu kelompok atau mengikuti open trip. Rata-rata pukul 12 malam, Jeep sudah berbaris bersiap diri. Sementara untuk jalur Probolinggo, jika menggunakan kendaraan umum, turun di Terminal Probolinggo. Dari terminal, lalu naik elf menuju Cemorolawang atau Ngadisari. Nah, dari Ngadisari ini kita bisa memilih ojek ataupun Jeep untuk mengantar kita mengeksplorasi Bromo yang penuh dengan spot-spot instagramable dan memorable. Jangan lupa untuk membuat kesepakatan harga dengan driver terlebih dahulu sebelum memulai eksplorasi. Apakah harga sudah termasuk dengan tiket masuk atau tidak.

Salah Satu Spot Keren di Dekat Seruni Point.

Setiap kali saya menunjungi Bromo, selalu punya cerita yang berbeda. Begitu juga saat mengunjunginya bersama sahabat pena saya tadi, Mbak Rini. Ketika kami di terminal mengunggu elf berangkat, kami bertemu dengan seorang kakek yang sedang travelling keliling Indonesia. Setelah beliau ditinggal almarhumah istrinya, anak-anaknya memfasilitasi kakek tadi untuk menikmati hidup dengan berkeliling ke tempat-tempat wisata yang diinginkan.

Mau tidak mau, kami (saya dan Mbak Rini) terpaksa ‘momong’ si kakek selama di Bromo. Kami harus menemaninya sampai tiba di Cemorolawang, memastikan penginapannya, dan juga memantau kabarnya selama berwisata. Kami juga menitipkan kakek pada rombongan wisata lain yang menyewa Jeep. Karena tidak mungkin kan kakek jalan-jalan bertiga dengan kami? Hehe.

Rencana awalnya, saya dan Mbak Rini hendak menyaksikan sunrise di Bukit Mentigen atau di Seruni Point. Sayangnya udara terlalu dingin dan kami memilih selimut di pagi hari. Sehingga gagal lah perburuan sunrise pagi itu. Namun kami tetap mengunjungi Bukit Mentigen dan Seruni Point. Meski matahari sudah tinggi, di sana tetap menyenangkan. Menyaksikan panorama alam yang luar biasa. Menyaksikan hijaunya alam. Menyaksikan landscape mahakarya Tuhan.

Jadi, kapan Sobat Travelblog akan berkunjung ke Bromo?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.