Ereveld Ancol, Saksi Bisu Perang Dunia Kedua di Utara Jakarta

0
1068
Ereveld Ancol Jakarta
Tulisan di salib ini berbahasa Belanda, yang berarti korban tewas dieksekusi di daerah Subang. Korban tidak diketahui identitasnya.

Tahun 1942, perubahan besar terjadi di Batavia yang kala itu berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Jepang telah menyerang Asia Tenggara. Semenanjung Malaya dan Singapura berhasil direbut dari tangan Inggris. Hindia Belanda pun akhirnya menyusul jatuh ke tangan Jepang dan pihak Belanda secara resmi menyerah pada Maret 1942.

Itulah sekelumit kisah perang dunia kedua yang berkecamuk selama kurang lebih tiga tahun. Dampak dari perang itu begitu dahsyat. Selain kehancuran infrastruktur di mana-mana, jutaan korban jiwa pun berjatuhan. Sekarang meski telah lebih dari tujuh dekade berlalu, kepingan-kepingan kisah perang itu masih bisa kita telusuri jejaknya.

Jejak Perang Dunia II di Indonesia dapat kita saksikan salah satunya di utara Jakarta. Jika kita berkunjung ke Taman Impian Jaya Ancol, mungkin yang terbersit di benak kita pertama kali adalah kawasan wisata. Tapi, di sebelah timurnya, ada sebuah lokasi yang menyimpan cerita kedahsyatan perang yang berlangsung delapan dekade lalu. Namanya Ereveld Ancol. Kontras dengan keseluruhan kawasan Ancol yang adalah taman hiburan, ereveld adalah kompleks pemakaman korban perang yang jatuh dari pihak Belanda. Hingga kini, kompleks pemakaman tersebut masih dikelola oleh pemerintah Belanda lewat sebuah yayasan yang juga memiliki kantor di Jakarta.

Ereveld bukan tempat wisata, tetapi sangat terbuka untuk dikunjungi 

Beberapa tahun lalu, Ereveld Ancol maupun ereveld lainnya adalah kawasan khusus yang tidak boleh sembarangan orang masuk. Hanya kerabat korban, ataupun pihak lain yang punya kepentingan khusus yang boleh menyambanginya. Namun sekarang peraturan itu telah berubah. Ereveld, meskipun sejatinya bukan tempat wisata, kini terbuka untuk dikunjungi. Tujuannya tentu bukan sekadar obyek berfoto-foto, melainkan sebagai tempat pembelajaran langsung bagaimana perang dunia dahulu terjadi.

Ereveld Ancol Jakarta
Pintu gerbang depan ereveld.
Ereveld Ancol Jakarta
Sebuah jalan paving block membagi kawasan ereveld menjadi dua sisi.

Memasuki Ereveld Ancol, kita disambut sebuah gerbang hitam yang selalu tertutup. Gerbang itu tidak dikunci sampai maksimal jam enam sore. Kita bisa membukanya, lalu membunyikan lonceng. Biasanya seorang pekerja akan menghampiri dan mempersilakan kita. Jika tidak ada, kita bisa terus masuk menuju ke pendopo. Di sana terdapat buku tamu yang bisa kita isi dengan nama dan tujuan kehadiran kita.

Kisah duka yang masih terasa 

Di Jakarta ada dua ereveld: Ereveld Menteng Pulo dan Ancol. Jika Ereveld Menteng Pulo kebanyakan diisi oleh para korban perang dari pihak militer, Ereveld Ancol lebih banyak diisi oleh korban sipil. Mereka adalah warga biasa yang dieksekusi oleh Jepang. Bentuk makam di sini pun terbilang unik jika dibandingkan dengan kebanyakan pemakaman di Indonesia. Bentuk nisan dibedakan menurut agama masing-masing korban. Yang Kristen nisannya berbentuk salib, yang buddha berbentuk setengah lingkaran. Dan yang muslim berbentuk seperti nisan-nisan yang lumrah kita temui di TPU.

Ereveld Ancol Jakarta
Deretan nisan berbentuk salib di Ereveld Ancol.
Ereveld Ancol Jakarta
Tak hanya makam bernisan salib, ada juga bentuk nisan lainnya.

Nisan-nisan tersebut berjajar rapi di atas hamparan rumput hijau. Rumput-rumput tidak dibiarkan tumbuh tinggi. Setiap harinya para pekerja dengan telaten memangkasinya. Pun jika ada nisan yang mulai rusak, mereka menggantinya dengan yang baru. Meski sebuah pemakaman, tak ada kesan seram di sini. Bunga-bunga ditanam rapi di tepi jalan paving block.

Ereveld Ancol Jakarta
Pohon mindi yang dahulu menjadi tempat eksekusi.
Ereveld Ancol Jakarta
Bangunan kotak di ujung ereveld ini adalah pemakaman massal korban-korban yang tak diketahui identitasnya.

Dari banyak kisah duka yang melatarbelakangi setiap makam, ada satu spot yang memiliki kisah begitu memilukan. Di pojok kanan kompleks ereveld terdapat sebuah pohon mindi yang telah mati dan diawetkan. Pohon ini bukan sekadar pohon, karena dahulu berdasarkan cerita dari penjaga Vihara yang berdekatan dengan Ereveld, di pohon ini terjadi eksekusi terhadap ratusan korban sipil. Tentara Jepang menggantung mereka hingga tewas. Pohon itu pun kemudian turut mati.

Ketentuan berkunjung 

Ereveld Ancol buka setiap hari dari pukul tujuh pagi hingga enam sore. Siapapun dapat berkunjung ke sini. Jika sudah selesai berkunjung, dapat juga memberikan donasi di kotak kayu yang disediakan di pendopo.

Ereveld Ancol Jakarta
Mendengarkan mereka yang telah pergi bercerita dalam diam.

Karena ini adalah pemakaman, harap mengenakan pakaian yang sopan. Jika hendak memotret, usahakan tidak memotret secara close up makam yang di nisannya tertulis nama jelas korban.

Sapalah dan berbincanglah dengan pekerja atau penjaga di sana agar kita dapat pengetahuan lebih banyak tentang makam ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.