Empat Pelajaran Hidup yang Bisa Kita Dapatkan Saat Mendaki Gunung

0
142
Pemandangan indah di puncak gunung.

Meski menantang nyali, mendaki gunung menjadi aktivitas liburan yang sedang hits. Sulitnya medan dan beratnya tantangan saat pendakian seolah bukan masalah besar.

Mendaki gunung memang memberikan sensasi petualangan yang seru. Di balik letihnya pendakian, pemandangan alam yang disajikan membuat keringat dan lelah yang kita. Selain sensasi petualangan dan keindahan alam, ada banyak pelajaran hidup yang bisa kita dapatkan saat mendaki gunung. Berikut 4 pelajaran hidup yang bisa kita dapatkan saat mendaki gunung:

Pantang Menyerah

Tak melulu menyajikan pemandangan yang indah, gunung juga memiliki medan yang terjal dan curam. Selama kita tetap semangat dan pantang menyerah, terjal dan curamnya medan pendakian bukan masalah besar.

Pelajaran ini saya sadari kita mendaki Gunung Merbabu via jalur Selo. Saat akan mendaki dari pos 3 menuju sabana, saya merasa tak akan sanggup melalui medan penuh bebatuan yang terjal dan curam.

Lautan awan yang indah dilihat dari puncka gunung.

Apalagi, saat itu saya harus memanggul tas yang isinya hampir lima kilogram. Namun dengan tekad yang kuat untuk melihat keindahan sabana Gunung Merbabu, saya tepis perasaan itu. Dengan tekad yang kuat, tas yang berat dan medan yang benar-benar terjal tak menghalangi langkah saya untuk melihat keindahan sabana Gunung Merbabu.

Yah, kehidupan sama halnya dengan mendaki gunung. Jalur yang curam dan tejal ibarat cobaan dalam kehidupan. Selama kita tetap semangat dan tak kenal putus asa, kita bisa mencapai puncak kesuksesan.

Kesabaran

Untuk mencapai puncak gunung, terutama gunung dengan ketinggian di atas 3.000 meter di atas permukaan laut (MDPL), memerlukan waktu yang tak sebentar.

Selain semangat, kita juga harus punya kesabaran tinggi selama mendaki karena waktu yang diperlukan untuk menggapai puncaknya tidaklah sebentar. Mendaki gunung tidak sama dengan jalan-jalan mengitari pusat perbelanjaan yang tersedia lift atau eskalator.

Mendaki benar-benar menuntut fisik dan kesabaran kita karena tidak ada jalan pintas menuju puncak gunung. Pelajaran mengenai keabaran ini benar-benar saya rasakan saat mendaki Gunung Sindoro via Kledung tepat di tanggal 17 Agustus 2019.

Medan pendakian yang susah.

Saat perjalanan dari sunrise camp menuju puncak, saya hampir saja menyerah. Selain terjal dan penuh bebatuan, track yang dilalui juga sangat panjang. Saya terus melangkah dengan sabar meski pikiran negatif menggoda saya untuk menyerah dan kembali ke tenda.

Akhirnya, setapak demi setapak pun berhasil saya lalui. Saya berhasil menjejakan kaki di Puncak Sindoro dan melihat dengan mata kepalam sendiri kawah aktif Sindoro yang selama ini hanya saya lihat di foto. Jika kita ibaratkan puncak gunung dengan tujuan hidup kita, perlu proses yang panjang untuk mencapainya. Tidak ada kesuksesan atau tujuan hidup yang bisa diraih dengan instan. Jadi, kita harus sabar setiap menjalani prosesnya.

Kontrol Diri

Kesuksesan menggapai puncak gunung tergantung bagaimana cara kita mengontrol diri sendiri. Rasa lelah saat mendaki tentu mempengaruhi emosi kita. Saat mendaki, pasti muncul rasa ingin kembali pulang dan menyerah pada sulitnya medan yang dilalui.

Namun jika kita lihat kembali jarak yang kita tempuh dan keindahan yang menanti di puncak gunung, kita pasti mengurungkan kembali niat untuk menyerah itu. Saat mendaki Gunung Sindoro via Kledung di tanggal 17 Agustus lalu, saya menyadari betapa pentingnya mengontrol diri.

Pemandangan indah di puncak gunung.

Andai saja saat itu saya menuruti emosi negatif saya untuk menyerah pada rasa lelah, tentu saya tak akan pernah tau bagaimana Puncak Sindoro dengan kawah aktifnya yang gagah itu. Di sisi lain, mendaki juga mengajari kita untuk mengendalikan ego diri. Jangan sampai ambisi kita untuk menggapai puncak justru membuat kita cedera atau terluka.

Perhatikan kondisi fisik kita saat mendaki. Jika memang tidak kuat, jangan paksakan diri untuk menuju puncak. Begitu pula dengan kehidupan. Bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan memang bukan hal yang salah. Namun, jangan sampai kita mengabaikan kesehatan atau orang-orang penting dalam hidup kita hanya karena ambisi pribadi.

Setia Kawan

Mendaki juga menguji kesetiakawanan kita. Meski kita sangat ingin menggapai puncak gunung, kita harus lihat kondisi teman pendakian kita.

Perhatikan teman satu tim kita saat mendaki. Jika teman satu tim kita tidak mampu lagi untuk melanjutkan perjalanan, jangan memaksa. Selama perjalanan kita juga tidak boleh meninggalkan teman. Setiap orang memiliki kondisi fisik yang berbeda-beda.

Ada yang bisa berjalan dengan cepat, ada juga yang kemampuan berjalannya lambat. Pastikan teman kita tak tertinggal jauh saat mendaki agar kita bisa mengetahui kondisinya dan bisa membantunya saat hal-hal tak diinginkan terjadi.

Lautan awan yang indah dilihat dari puncka gunung.

Nah, jika kita memiliki kemampuan berjalan yang cepat, jangan sampai kita meninggalkan teman satu tim kita. Saat mendaki Gunung Merbabu di awal tahun 2019, saya gagal mencapai puncak karena salah satu teman pendakian saya cedera.

Saat itu, tentu saya merasa jengkel karena gagal mencapai puncak Merbabu. Namun saya sadar, jika saya paksakan untuk mendaki puncak, saya bisa kehilangan teman saya. Puncak gunung tidak akan ke mana-mana dan teman lebih berharga. Pikiran itulah yang akhirnya mampu meredakan ambisi saya dan bersedia kembali turun demi keselamatan teman saya.

Itulah empat perjalanan hidup yang saya dapatkan saat mendaki. Mendaki gunung bukan sekadar gaya-gayaan saja. Bukan hanya foto-foto keren, ada banyak hal yang bisa kita peroleh dari mendaki gunung. Pelajaran-pelajaran berharga itu pun bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.