Eksotisme Alam Lembah Napu di Kabupaten Poso

2
1383
Hamparan Bukit Savana di Lembah Napu.

Kalau saja saya tertidur dalam perjalanan dan baru dibangunkan ketika tiba di Lembah Napu, mungkin saya tak akan percaya jika tempat itu ada di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Bentang alam Lembah Napu begitu indah. Barangkali Tuhan sengaja menitipkan secuil surga di tanah Poso yang sempat menjelma menjadi neraka, karena ulah sekelompok manusia.

Sepanjang mata memandang, yang ada hanyalah sabana dan bukit hijau dengan pohon pinus yang berdiri kokoh ditemani berbagai varietas lumut dan pakis. Pada tempat itu, kita seperti berada dalam sebuah mangkuk berdinding pegunungan.

Lembah Napu terletak di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, dengan jarak ± 140 km dari Kota Poso yang dapat ditempuh selama ± 5 jam perjalanan darat.

Waktu itu saya dan teman-teman datang dari arah yang berlawanan dengan Kota Poso. Kami berangkat dari Parigi, Kabupaten Parigi Moutong diiringi oleh hujan di bulan Juni yang setia menemani. Rinai lembutnya terus mengiringi kami dari Parigi hingga tiba di Poso Pesisir.

Menikmati Indahnya Permadani Hijau.

Setelah makan dan beristirahat sejenak, kami bergegas melanjutkan perjalanan. Motor yang membawa saya berbelok kanan ketika tiba di tugu pertigaan Desa Ratolene. Selanjutnya, rombongan kami bergerak menuju Lembah Napu. Untuk mencapai tempat yang masuk dalam Taman Nasional Lore Lindu itu, kami harus melewati beberapa desa diantaranya Desa Betalemba, Patiwungu, Tangkura, Sangginora, Dewua, dan Hae.

Dalam perjalanan, tubuh kami yang terbiasa dengan panasnya wilayah pesisir Teluk Tomini dimanjakan oleh sejuknya udara hutan dan pegunungan. Mata kami pun ikut berelaksasi ketika melihat berbagai jenis pakis dan anggrek yang tumbuh liar. Tak hanya anggrek, ada pula bunga-bunga yang berjenis sama, namun memiliki warna yang berbeda di setiap lokasi tumbuhnya. Entah bunga apa namanya.

Tiba di wilayah yang oleh masyarakat dikenal dengan nama Hae, kita akan menemukan beberapa warung makan sederhana. Jika tidak membawa bekal, mengisi perut di warung makan tersebut adalah pilihan yang bijak. Bagi yang beragama Islam, di tempat ini juga terdapat mushala untuk melaksanakan sholat. Di Hae, rombongan kami berteduh karena waktu itu hujan turun semakin deras. Setelah hujan mereda, kami melanjutkan perjalanan. Hae merupakan gerbang menuju Lembah Napu.

Pemandangan Setelah Melewati Pendakian Pentodongia.

Selalu ada usaha keras untuk mencapai hasil yang maksimal. Meninggalkan Hae, kami disambut oleh tanjakan tinggi yang memaksa motor kesayangan saya untuk bekerja ekstra. Setelah berhasil menaklukan tingginya tempat yang disebut Pendakian Petondongia itu, tibalah kami di Lembah Napu.

Sabana menjadi pemandangan pertama yang menyambut kedatangan kami. Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah warna hijau khas wilayah tropis. Tempat itu bagaikan tanah berundak yang dipasangi permadani hijau, ditambah ornamen pohon pinus yang menari menikmati kencangnya hembusan angin. Udara dingin membuat perut kami lapar. Ketika tiba di permukaan tanah yang cukup rata, kami bergegas mendirikan tenda lalu merebus air untuk memasak mi dan menyeduh kopi.

Tuntas mengurus masalah perut, kami pun melanjutkan perjalanan. Spot berikutnya yang kami singgahi ialah Jembatan Parambua, yang di bawahnya mengalir sungai Coca-Cola. Disebut demikian karena warna airnya sama persis dengan warna minuman Coca-Cola. Meski berwarna, air ini aman dikonsumsi.

Hamparan Padang Ilalang.

Kurang lebih setengah jam setelah meninggalkan Jembatan Parambua, kami tiba di jalan terjal yang pada sisi kiri-kanannya nampak barisan pohon pinus. Tidak seperti pohon pinus di bukit sabana sebelumnya yang dibiarkan begitu saja, pinus di tempat ini dikelolah oleh masyarakat yang bekerja sebagai penyadap getah pinus.

Berhasil melewati jalan terjal yang cukup menguji adrenalin pengendara, sampailah kami di objek wisata Hutan Pinus Lembah Napu. Kembali kami mendirikan tenda, merebus air untuk ngopi, dan memasang hammock.

Perjalanan berjam-jam menggunakan sepeda motor membuat kami harus pandai mengatur waktu istirahat dan mengisi perut agar tak mudah drop. Terlebih di tempat yang dingin seperti lembah napu. Kabar baiknya, objek wisata Hutan Pinus ini tak jauh lagi dari pemukiman penduduk, tempat kami akan menginap.

Sungai Coca-Cola.

Cukup lama kami menghabiskan waktu untuk bersantai hingga tertidur di hutan pinus. Ketika matahari bersiap terbenam, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah kerabat di Desa Maholo. Oh iya, Lembah Napu juga menyediakan penginapan dengan harga yang ramah bagi kantong para pelancong.

Dalam perjalanan menuju rumah warga, kami melewati perkebunan kopi, padang ilalang, cagar budaya, dan lagi-lagi sabana yang luas sepanjang mata memandang. Jika beruntung, kita akan bertemu rombongan kerbau yang merumput di padang.

Bentang alam lembah napu benar-benar indah. Saking indahnya, kami sampai kebingungan memilih tempat terbaik untuk berfoto. Semua sudut seperti dirancang untuk memanjakan mata. Barangkali Tuhan mengambil secuil alam surga, meletakkannya di Poso lalu manusia menamainya Lembah Napu.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.