Di Rumah Aja, Menikmati Lezatnya Putu dan Burasa

0
182
Putu.

Di tengah pandemi corona yang memaksa untuk menghabiskan banyak waktu di rumah, entah mengapa rasa lapar menjadi lebih sering datang menyapa. Ah, sepertinya bukan sekedar menyapa, rasa ingin makan itu meneror bahkan menggiring untuk terus mengunyah. Imajinasi tentang berbagai makanan, minuman, dan camilan tumbuh subur layaknya bibit tanaman yang dirawat dengan penuh kasih sayang. Terlebih ketika khayalan itu didukung oleh banyaknya gambar jajanan yang berseliweran di media sosial. Di antara berbagai jajanan yang berlomba untuk dicicipi itu, saya menjatuhkan pilihan pada putu dan burasa.

Perkenalan dengan putu dan burasa dimulai ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Waktu itu, dua jajanan ini adalah primadona yang paling dicari saat pertama kali tiba di sekolah. Hampir dapat dipastikan, si putu bantal bertabur kelapa dan burasa berselimut daun pisang akan ludes sebelum jam sepuluh.

Oh iya, putu dan burasa memiliki pasangan loh. Ciee, yang jomblo jangan baper ya! Kedua panganan ini kurang pas jika dimakan sendiri tanpa ditemani pasangannya. Ayo ngaku, kamu penasaran kan tentang pasangan si putu dan burasa ini? 

Burasa.

Putu dan burasa baru terasa nikmat jika disantap bersama ikan teri goreng yang oleh masayarakat Suku Kaili disebut du’o sole atau bisa pula diduetkan dengan sambal ikan yang dihaluskan. Khusus burasa, dimakan dengan kari ayam juga terasa sangat lezat.

Putu di Sulawesi Tengah sedikit berbeda dengan putu di daerah lain, meski sama-sama ditaburi parutan kelapa. Di sini, putu terbuat dari beras ketan yang masih utuh – tanpa diolah menjadi tepung beras ketan terlebih dahulu. Bisa menggunakan ketan putih maupun ketan hitam. Seperti halnya panganan tradisional yang lain, cara membuat putu sangatlah praktis.

Pertama, beras ketan direndam dalam air selama kurang lebih satu jam, lalu dicuci sampai bersih. Setelah itu, langsung ke tahap memasak dengan cara dikukus. Selama proses pengukusan, beras ketan harus sering diaduk agar matang merata. Bila ingin lebih cepat matang, biasanya si pembuat menambahkan satu baskom kecil campuran air, minyak kelapa, dan sedikit garam. Jika air mempercepat proses pematangan, penambahan garam bertujuan untuk memberikan cita rasa gurih sedangkan minyak kelapa ditambahkan untuk memberikan efek glowing agar putu terlihat cantik dan menggoda. 

Sambal ikan yang dihaluskan.

Ketika sudah matang, putu dicetak menggunakan alat pencetak atau bisa pula dengan cara manual. Jika pakai cara manual, si pembuat menggunakan daun pisang untuk mengurangi rasa panas pada tangan saat menggulung putu dan menambahan sedikit minyak kelapa agar putu tidak lengket. setelah tercetak berbentuk bantal, langkah terakhir ialah menghujani putu dengan taburan parutan kelapa mengkal. Sampai pada tahap ini, putu telah siap dinikmati. Jangan lupa pasangannya ya!

Jika putu dibuat dari beras ketan, lain halnya dengan burasa yang berbahan dasar beras. Pembuatan burasa sedikit lebih rempong karena harus dimasak sebanyak dua kali. Tahap pertama ialah memasak beras dengan campuran santan dan tambahan sedikit garam hingga menjadi setengah matang. Selanjutnya, beras setengah matang tadi dibungkus menggunakan daun pisang yang masih muda – dipipihkan hingga berbentuk persegi panjang dengan ketebalan sekitar 1 cm. Langkah berikutnya ialah menyatukan 4-5 bungkus burasa kemudian dibungkus lagi menggunakan daun pisang yang lebih lebar dan lebih tua. Bungkusan ini lalu diikat menggunkan tali.  Terakhir adalah tahap memasak yang kedua kalinya dengan cara direbus selama 2 sampai 3 jam. Setelah matang, burasa siap untuk disantap.

Ikan teri goreng, sebagai pasangan putu dan burasa.

Entah mengapa, putu dan burasa ditambah pasangannya – du’o sole dan sambal ikan yang dihaluskan terasa sangat nikmat jika dimakan pada waktu pagi hari. Lebih pagi, lebih mantap. Terlebih jika ditemani segelas teh hangat.

Ingin mencicipi putu dan burasa? Ayo ke Sulawesi Tengah! Tetapi nanti ya, setelah pandemi corona ini berakhir. Jaga kesehatan ya teman-teman, di rumah aja, sering cuci tangan, dan jangan lupa pakai masker jika harus beraktivitas di luar rumah. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.