Deskcovery, Yogyakarta: Cafe Ala Workspace

0
442
Deskcovery Yogyakarta

Pada hari sabtu, 6 juli 2019, saya mengunjungi Deskcovery. Tujuan awalnya, hanya untuk mencari suasana baru ketika sedang mengerjakan beberapa pekerjaan. Sore itu, udara cerah Jogja menarik untuk diamati, menyusuri jalanan di tengah kemacetan cukup mengesalkan. Kurang lebih pukul 6 sore, saya sampai di Deskcovery. Dari luar gedung, tampak eksterior bangunan cukup unik, dindingnya kaca, terlihat aktivitas pengunjung dari luar. Saya masuk ke dalam, dan suasananya nyaman, ada suasana berbeda dengan keriuhan jalanan Jogja sore itu.

Workspace dalam cafe.

Saya langsung menuju kasir, memesan satu gelas Cappuccino hangat dan satu porsi Waffle rasa vanilla. Saya pikir ini panduan “ngemil” yang cukup mengisi perut selama bekerja, dan cukup menahan kantuk lalu membuat mata terjaga. Kemudian, saya memilih tempat untuk membuka laptop dan mulai bekerja. Ada stop kontak dan wifi yang cukup kencang.

Waffle vanilla.

Setelah kurang lebih 15 menit, makanan dan minuman yang saya pesan datang. Satu gelas Cappuccino tampak menarik. Dengan Waffle vanilla yang masih panas, aroma vanilla dan adonannya harum sekali. Saya lalu mengambil Waffle, dan mencicipinya. Rasanya lembut, adonannya juga enak, rasa tepung dan telurnya tidak dominan, malahan rasa vanillanya seaakan menutupi rasa dari telur dan tepung. Lalu, saya menyeruput Cappuccino hangat, rasanya nikmat, seperti “moodbooster” untuk melanjutkan pekerjaan. Saya terus mengetik dan menyelesaikan pekerjaan. Sampai tak terasa, waktu menunjukan pukul 10 malam. Kerjaan selesai, perut terisi, suasananya nyaman.

Segelas cappuccino.

Oh iya, harga makanan dan minuman di sini adalah harga standar cafe di Yogyakarta. Untuk satu gelas Cappuccinonya dihargai 18 ribu rupiah, lalu untuk stau porsi Waffle vanillanya dihargai 17 ribu rupiah. Kisaran harga makanan dan minuman di sini mulai sekitar itu, tidak terlalu mahal, mengingat fasilitas ruang kerja yang nyaman dan ideal. Cafe dengan konsep ruang kerja dengan makanan dan minuman yang cukup lezat memang belum terlalu banyak di Yogyakarta, ruang kerja yang dijual pun ternyata menjadi daya tarik tersendiri ketimbang makanan dan minuman di cafe ini.

Interior Cafe.

Cafe ini pun dikunjungi oleh orang orang yang sedang mendiskusikan sebuah proyek, rapat, atau bahkan sekedar nongkrong saja. Jadi ternyata tidak dikhususkan untuk bekerja, banyak pengunjung juga yang datang hanya untuk makan. Nah, inilah salah satu kekurangan dari Deskcovery. Yaitu soal tata ruang dan fungsi dari workspace itu sendiri. Kadang dalam keadaan tertentu, cafe ini sepi sekali, sehingga bekerja dan melakukan tugas bisa dilakukan dengan ketenangan. Tapi, ketika pengunjung cafe sudah ramai. Maka konsentrasi pun sedikit sulit didapat, walaupun ada headset atau earphone. Tapi suasana cafe semi-workspacenya kadang kurang ideal.

Tak ada salahnya untuk mencoba bekerja di cafe ini, tertarik ke Deskcovery?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.