Dentang Kejayaan Masa Lalu di Pulau Ay

0
643

Kepulauan Banda menyimpan banyak kisah dan cerita. Sejarah kejayaan dan pertumpahan darah di masa lalu, yang berada di kepulauan dengan laut terdalam di Indonesia. Saksi bisu perjalanan rempah-rempah ke belahan bumi yang lain. Salah satunya berada di Pulau Ay.

Perahu kami berayun mengikuti gelombang laut yang kurang bersahabat. Laut memang sedang tidak teduh ketika kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Kepulauan Banda yang berada di Maluku Tengah. Tapi keinginan atas pencarian jejak masa lalu yang pernah mengalirkan darah ribuan manusia tak menyurutkan niat kami.

Kepulauan Banda menjadi saksi atas kejayaan rempah-rempah di bumi pertiwi Indonesia. Surga bagi para pelaut dari negara-negara asing atas komoditi nomor satu di dunia ini. Menjadi rebutan hingga menimbulkan konflik dan peperangan antar bangsa. Selain itu juga, masyarakat lokal pun menjadi korban. Salah satu destinasi yang kami kunjungi di Kepulauan Banda ini adalah Pulau Ay.

Kejernihan laut Pulau Ay.

Pulau Ay terletak sekitar 6 mil dari sebelah Barat Pulau Gunung Api (Banda Api) atau kira-kira 60 menit berlayar dari Pulau Naira. Pulau Ay memiliki sebuah dermaga kecil, dikelilingi oleh laut yang jernih biru pirus dengan terumbu karang dan biota laut yang sehat serta indah memesona. Pulau Ay adalah satu di antara enam pulau di Kepulauan Banda yang berpenghuni. Pulau lainnya adalah Naira, Gunung Api, Lonthoir, Hatta, dan Run.

Bawah laut Pulau Ay.

Di masa pendudukan Belanda, Pulau Ay digunakan sebagai tempat untuk membuang musuh, baik itu mereka yang melawan Belanda secara langsung maupun serdadu Hindia Belanda yang memberontak. Para buangan di Pulau Ay dipekerjakan sebagai budak perkebunan pala.

Sisa perbudakan pala ini bisa kita saksikan dari beberapa puing bangunan perkenier yang masih ada. Di antaranya ialah Welvaren dan Matalenco. Matalenco didirikan tahun 1875 dan pada akhir abad ke 18 dimiliki oleh keluarga Leunissen lalu pada awal abad ke 19 menjadi milik keluarga Herreburgh dalam waktu lama. Sedangkan Welvaren pernah dimiliki oleh keluarga Koutenberg, Leunissen, & Boudewijn, terakhir dikuasai oleh Association Bandanesse Landowners and Traders.

Reruntuhan Welvaren.

Gerbang Perk Welvaren masih kokoh berdiri dan menurut penduduk di sana pada masa lalu tempat ini berfungsi sebagai tempat pengumpul rempah-rempah terutama pala. Perk Welvaren masih menyisakan beberapa bagian bangunan yang menampakkan kegagahannya pada masa lalu. Pintu utamanya menghadap ke arah pantai, sehingga pemandangan laut lepas bisa langsung terlihat. Pulau ini termasuk pulau penghasil pala terbesar sesudah Pulau Lonthoir (Banda Besar). Di Pulau Ay ini terdapat pohon pala tinggi besar yang berumur sekitar 200 tahun.

Tidak jauh dari dermaga ada sebuah benteng yang dibangun oleh VOC pada tahun 1616. Letaknya tepat di puncak sebuah bukit yang dikelilingi oleh perkebunan pala. Selain berfungsi sebagai benteng pertahanan, benteng ini juga berfungsi sebagai menara pengintai. Apabila ada kapal terlihat, maka mereka akan menembak dengan meriam sebagai tanda. Benteng itu diberi nama Benteng Revengie (balas dendam). Sebuah benteng pentagonal dengan lima benteng sudut seperti kebanyakan benteng yang ada di Kepulauan Banda.

Benteng Revengie.

Benteng ini mengalami kerusakan yang cukup parah, bastion yang menghadap ke laut runtuh ketika terjadi gempa bumi pada tahun 1683. Pada tahun 1748, benteng ini digunakan sebagai tempat pengasingan para pejabat VOC yang melakukan tindak kriminal. Lalu pada tahun 1753 benteng ini direnovasi.

Selain reruntuhan Benteng Revengie, di benteng itu dapat pula kita jumpai meriam dan lubang-lubang pada dinding benteng yang menuju ruang bawah tanah. Konon katanya, hingga saat ini tidak ada satu pun orang yang mengetahui, apa yang ada di ruang bawah tanah benteng tersebut. Tidak ada orang yang berani turun ke bawah karena selain sangat dalam, juga takut jika terdapat gudang senjata atau binatang buas di dalamnya.

Pulau Ay merupakan pemasok utama sayuran dan buah-buahan di Kepulauan Banda. Padahal di Pulau Ay tidak terdapat sumber air, tapi perkebunan pala, kenari, sayuran, dan buah-buahan bisa tumbuh subur. Penduduk Pulau Ay mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-harinya. Untuk menyiasati ketiadaan sumber air, warga mengatur musim bertanamnya. Misalnya mereka mulai membenihkan pala di musim hujan. Begitu juga untuk menanam benih sayuran dan buah. Ketika datang kemarau, tanaman ini dibiarkan hidup tanpa air, di bawah keteduhan pohon kenari. Sayur mayur, pohon buah-buahan, pala, pisang, ubi kayu, dan jagung hanya mengandalkan embun dan pohon peneduh untuk menjaga kelembaban. Dengan begitu, warga Pulau Ay bertahan hidup selama berabad-abad.

Sampai pada akhirnya di tahun 2016 dibangunlah sebuah embung serbaguna di tengah pulau. Air dari embung ini diperoleh dari air hujan yang ditampung. Embung ini berada di tengah perkebunan pala dan kenari yang lebat. Sejak saat itu warga Pulau Ay tidak terlalu kesulitan lagi mendapatkan air bila musim kemarau tiba.

Untuk mengitari Pulau Ay ini tidak memakan waktu yang lama dikarenakan pulau ini sangatlah kecil. Ketika melewati perkebunan kenari, kami menemukan kenari yang telah tua dan matang. Kenari yang seperti ini bisa langsung dimakan. Rasanya sangat enak. Di sepanjang jalan Pulau Ay kita pun bisa menjumpai kenari dan pala yang sedang dijemur. Tak jauh dari perkebunan, terdapat perumahan warga yang kebetulan saat itu sedang memecah kenari. Kenari yang sudah kering di pecahkan dengan cara manual oleh-ibu-ibu. Jika ingin membeli kenari, harga murah bisa didapat langsung dari penduduk.

Memecah kenari.

Perjalanan keliling Pulau Ay dilanjutkan ke sebuah pemakaman Belanda yang sudah tidak terawat. Makam ini merupakan makam para pembesar VOC dan keluarganya. Ditandai dengan nisan yang besar-besar dengan tulisan berbahasa Belanda. Beruntung ada seorang teman yang bisa membaca dan menterjemahkannya. Di samping pemakaman terdapat puing gereja yang terbakar. Tembok gereja tersebut terbuat dari batu karang dan pasir pantai.

Makam pejabat VOC.

Di Pulau Ay juga terdapat sebuah rumah adat yang bernama Sairun Orlima. Sayangnya, saat itu rumah adat sedang ditutup. Sedangkan di sebelah rumah adat terdapat sebuah garasi yang berisi dua buah perahu kora-kora yang biasanya dipergunakan saat ada festival. Selain itu di Pulau Ay juga terdapat sebuah puskesmas pembantu.

Pulau terdekat dari Ay adalah Pulau Run. Memakan waktu sekitar setengah jam perjalanan kapal motor jika ingin ke Pulau Run. Tidak terlalu besar, panjangnya sekitar 3 kilometer dan lebar kurang dari 1 kilometer. Namun, pulau ini dulu adalah pulau terpenting karena menjadi pusat perdagangan pala di Kepulauan Banda. Pulau Run juga pernah menjadi daerah koloni Inggris pertama. Selanjutnya pada tahun 1667, melalui Perjanjian Breda, Belanda rela memberikan Nieuw Amsterdam atau Manhattan di Amerika kepada Inggris untuk ditukar dengan pulau ini. Di masa lalu, pulau ini jauh lebih berharga dari Manhattan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.