Dari Bandung ke Bali Cuma 200 Ribu – an

3
2140
Kereta Api Sri Tanjung.

Bali dijadikan destinasi wisata favorit oleh wisatawan domestik maupun internasional. Kekayaan alam dan budaya yang melimpah memang sangat menarik untuk dijelajahi, tapi ongkos ke Bali tidaklah murah. Pesawat dan bus adalah pilihan utama para traveler, apalagi jika berangkat dari pulau Jawa. Tetapi, ada pilihan transportasi yang menarik untuk dicoba, terutama oleh kalian yang suka backpackeran dengan duit minim atau istilah kerennya low budget trip. Alternatifnya, yaitu memakai kereta api, lalu menyambung dengan kapal ferry, dan naik travel atau bis kelas ekonomi. Transportasi alternatif ini dilakukan secara mandiri dan harus transit di kota kota tertentu untuk pindah moda transportasi. Istilah temen temen backpaker yaitu “ngeteng”. Proses ngeteng ini cukup melelahkan dan panjang, tapi biayanya memang sangat murah.

KA Kahuripan (Bandung – Yogyakarta)

Perjalanan ini saya lakukan dengan Yosep, rekan saya. Dimulai dari Stasiun Kiaracondong pada jam 18:10, saya menaiki KA Kahuripan yang merupakan kereta api kelas ekonomi. Harga tiketnya murah banget, cuma 80 ribu rupiah aja. Tujuan saya adalah Stasiun Lempuyangan, saya akan sampai disana sekitar pukul 3 subuh.  Perjalanannya cukup panjang, sekitar 8 jam lebih 40 menit. KA Kahuripan selalu penuh dan sesak, kita harus memesan tiket jauh jauh hari agar mendapat kursi.

Sekitar pukul 2:50 saya sampai di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Punggung dan kaki saya pegal banget, nikmat sekali rasanya ketika kaki bisa luruskan dan direnggangkan. Saya beristirahat selama beberapa jam sampai pukul enam pagi. Lalu, saya berjalan ke daerah Malioboro untuk membeli sarapan. Nasi kucing, sate telur puyuh, gorengan dan teh manis hangat membuat suasana Jogja begitu terasa, saya ingin lebih lama diam di Jogja. Tetapi, pukul 7 saya harus ke Stasiun Lempuyangan lagi untuk naik KA Sri Tanjung.

Lokomotif Kereta Api Kahuripan.

KA Sri Tanjung (Yogyakarta – Banyuwangi)

KA Sri Tanjung adalah kereta api kelas ekonomi yang diberangkatkan dari Stasiun Lempuyangan dengan tujuan akhir di Stasiun Banyuwangi Baru, kereta ini hampir sama seperti KA Kahuripan yang berdempetan dan penuh sesak, bahkan durasi perjalanannya lebih panjang yaitu 13 jam 50 menit.  Harga tiketnya ekonomis sekali, hanya 96 ribu rupiah.

Perjalanan menggunakan kereta api relatif aman dan efektif. Waktu tempuhnya pasti seperti perkiraan di tiket, kadang ada keterlambatan, tetapi biasanya karena alasan teknis, bukan karena hal lain. Saya sampai di Stasiun Banyuwangi sekitar pukul 9 malam. Tepat seperti waktu yang tertera di tiket. Sampai di Banyuwangi, saya cukup lelah, kaki dan tungkai mulai kram. Tapi bagaimana pun juga, ini adalah rekor terlama saya naik kereta! 23 jam 30 menit melintasi pulau Jawa, dari Bandung sampai Banyuwangi.

Dari Stasiun Banyuwangi, saya berjalan sekitar 10 menit ke Pelabuhan Ketapang untuk menyebrang naik ferry ke Pulau Bali.

Kapal Ferry Ketapang Gilimanuk (Banyuwangi – Bali)

Kapal ferry di Pelabuhan Ketapang adalah moda transportasi ekonomi yang murah dan massal. Setiap setengah jam sekali, selalu ada kapal penyebrangan menuju Pulau Bali. Ongkosnya pun sangat murah, hanya 7000 rupiah saja.

Pada waktu itu, gelombang laut cukup tinggi, saya seperti melayang di dalam kapal. Belum terbiasa dengan perjalanan laut. Hanya, waktu tempuhnya hanya sebentar, kurang lebih 1,5 jam saja saya tiba di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Zona waktu pun sudah berganti menjadi Waktu Indonesia Tengah. Berdasarkan WITA, saya sampai di Bali sekitar pukul 12 malam.

Travel Ekonomis (Pelabuhan Gilimanuk – Denpasar)

Menikmati matahari terbenan di Pulau Bali.

Nah, ini yang menegangkan. Ketika riset, saya membaca beberapa jurnal perjalanan, baik bis maupun travel di Pulau Bali. Banyak sekali jurnal yang kecewa dan marah kepada pengelolaan transportasi darat di Pulau Bali. Banyak terjadi pemalakan, perampokan, dan pemaksaan di bis maupun terminal. Dari ancaman verbal sampai membawa golok pun ada, kisah kisah dalam jurnal itu membuat saya lebih waspada dan hati hati.

Ketika sampai di Gilimanuk, saya bingung karena sudah jam 12 malam. Sedangkan, bis ekonomi yang tiketnya 30 ribu rupiah mulai beroperasi pukul 4 subuh. Banyak orang menghampiri, dengan agresif menanyakan tujuan dan menawarkan tumpangan dengan “sedikit memaksa”. Saya berusaha tenang dan menjawab, “Sudah dijemput, mas”. Dari logatnya, terdengar bahwa bapak bapak itu dari daerah Jawa Timur, makanya saya memanggilnya dengan sebutan “mas”. Akhirnya, kami bisa keluar dari daerah Pelabuhan Gilimanuk. Cukup lega, tetapi makin bingung, karena kami tidak tahu harus naik apa.

Kami terus berjalan ke depan melewati gapura dan pos penjagaan terminal. Petugas Dinas Perhubungan yang sedang bertugas menanyakan tujuan kami, kami bilang ingin jalan terus ke depan. Petugas menghentikan kami, katanya di depan sudah hutan dan jalan yang sepi. Akhirnya kami dicarikan travel oleh petugas. Sekitar pukul 1 subuh, kami bisa naik travel kelas ekonomi, tanpa AC, satu kursi diisi dua orang. Walaupun kondisinya seperti itu, kami sangat bersyukur karena tidak mengalami hal hal yang buruk ketika naik transportasi darat di Bali. Ongkosnya pun sangat murah, hanya 30 ribu rupiah saja per orang. Pukul 6 pagi kami sudah sampai Denpasar.

Total ongkosnya 213 ribu rupiah saja, dari Bandung sampai Denpasar!

Tertarik mencoba?

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.