Curug Bugbrug: Sepi, Alami dan Tersembunyi

0
1550

Bandung memang menyimpan banyak potensi wisata, tidak akan cukup bila kita menjelajahinya dalam satu hari saja. Ada banyak wisata alam yang indah dan sangat asri, dari wisata sejarah, wisata kuliner, sampai wisata alam bisa dengan mudah kita jumpai.

Ada satu air terjun yang wajib kamu kunjungi ketika jalan jalan ke Bandung bagian Barat. Menurut saya, air terjun ini adalah yang paling alami dan indah di daerah Bandung. Dari sekian banyak air terjun yang saya kunjungi di Bandung Raya, air terjun ini yang paling saya rekomendasikan. Namanya adalah Curug Bugbrug, air terjun ini sudah tidak asing lagi bagi warga Cimahi dan sekitarnya, tetapi banyak wisatawan yang masih belum mengetahui keberadaan air terjun ini. Curug Bugbrug lokasinya ada di daerah Parongpong, tepat sebelum Ciwangun Indah Camp, tapi pintu masuk dan jalan menuju air terjun ini tersembunyi dan tidak ada plang petunjuknya.

Sebenarnya Curug Bugbrug ditutup untuk wisata umum, karena berbagai alasan keselamatan dan keamanan. Pihak terkait memang secara resmi melarang pengunjung untuk berkunjung dan bermain di Curug Bugbrug. Maka dari itu, saya hanya akan membahas dan menceritakan air terjun ini dan tidak akan membahas akses jalan menuju air terjun. Untuk menjaga kelestarian alam dan peraturan pihak berwenang di daerah tersebut, semoga bisa cepat dibenahi dan wisatawan bisa berkunjung ke Curug Bugbrug.

Perkebunan dalam jalur ke air terjun.

Air terjun ini cocok sekali dikunjungi oleh kalian yang suka hiking dan menikmati keasrian alam. Karena akses menuju air terjun ini sulit dan cukup menantang. Pertama, kita harus melewati jalur perkebunan dan jalan setapak yang lumayan jauh. Kebun Sawi, kebun Kol, kebun Kopi, dan kebun Jeruk harus kita lewati untuk sampai di Curug Bugbrug.

“Punten pak, ngiring ngalangkung.”

(Permisi pak, ikut berjalan)

“Mangga jang, bade ka curugnya?”

(Silahkan nak, mau ke air terjun ya?).

Jalan setapak menuju air terjun.

Sapaan warga dan sedikit perbincangan mengiringi langkah menuju air terjun. Setelah sekitar 10 menit berjalan, saya masih belum melihat air terjun. Hamparan kebun Kol yang luas membuat saya ragu, jalan setapak seakan sudah mentok dan hanya terdapat perkebunan. Tapi, saya terus melanjutkan melewati pematang perkebunan, walaupun saya tidak tahu kemana arah akhir dari pematang itu. Dan, di ujung pematang, saya mulai mendengar suara air terjun. Saya semakin yakin untuk menyusuri jalan setapak yang tertutup semak dan rumput yang lumayan tinggi.

Tepat ketika subuh hari sebelum mengunjungi air terjun, hujan cukup deras mengguyur wilayah Bandung dan sekitarnya. Jalanan menuju air terjun pun basah dan becek, celana dan sepatu sendal saya penuh lumpur. Tetapi saya menikmati ini semua!

Curug Bugbrug.

Tak terasa, setelah 20 menit sampai 30 menit berjalan, saya bisa melihat keagungan Curug Bugbrug. Mungkin tingginya sampai ratusan meter dari permukaan sungai, dan air yang jatuh dari atas melewati tebing dan langsung menghantam kencang ke permukaan sungai. Makanya, suara air terjunnya terdengar dari jauh.

Batuan besar dari lava.

Air sungainya berwarna hijau, airnya bening, mungkin warna lumut dan tanah menghalangi kebeningan air di permukaan sungai. Di seputar bagian sungai, kita bisa melihat bongkahan batu batu besar. Batu batu ini merupakan hasil erupsi dan lelehan lava dari Gunung Sunda Purba di daerah Parongpong atas. Batu batu ini bisa kita pakai duduk santai atau bersemedi sambil menenangkan diri di tepian Curug Bugbrug.

Nah, tertarik mengunjungi Curug Bugbrug? Sabar ya, karena air terjun ini belum bisa dikunjungi secara massal. Kita doakan saja semoga pihak terkait bisa mengelola dan membukanya sebagai tempat wisata yang terjaga alam dan lingkungannya.

Jam Buka
Setiap Hari 09.00 - 17.00 Wib

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.