Cungkring: Kuliner Langka Berupa Olahan Kaki Sapi Khas Kota Bogor

0
306
Sajian Satu Porsi Cungkring.

Pagi itu udara terasa sangat sejuk dan matahari masih malu-malu menyembul dari ufuk timur, pagi yang cocok untuk mengawali hari dengan berolahraga. Setiap hari Minggu Kota Bogor selalu mengadakan car free day di sekitar Sempur dan Kawasan Istana Bogor. Terdapat banyak sekali warga dari kalangan remaja maupun orang tua yang berekreasi sederhana sambil memanjakan anaknya bermain dan bercengkrama di taman-taman sekitar Sempur yang ramah keluarga. Daerah sekeliling Istana Bogor memang merupakan pusat keramaian kota sehingga fasilitas pedestrian dan fasilitas umum lainnya di sekitar area ini sudah sangat baik. Terdapat juga jalur tracking sepeda dan area-area yang dapat memfasilitasi warga Kota Bogor untuk giat berolahraga.

Aku selalu bersemangat setiap kali berencana untuk olahraga pada momenĀ car free day. Selain untuk menjaga kesehatan, hal yang paling aku tunggu-tunggu adalah wisata kuliner setelah berolahraga! Kuliner Bogor yang beragam dengan cita rasa yang lezat selalu membuatku rindu setiap kali sedang berada di perantauan. Pagi itu aku memutuskan untuk menikmati kuliner langka khas Kota Bogor, yaitu cungkring.

Semua wisatawan yang beriniat untuk berwisata kuliner di Kota Bogor pasti sudah tidak asing lagi dengan Jalan Surya Kencana. Disepanjang Jalan Suryakencana terdapat banyak sekali kuliner legenda Kota Bogor yang sudah berpuluh-puluh tahun berjualan di ruas jalan tersebut. Cungkring, nama yang sedikit aneh ya? Tapi untuk rasanya? Woaah Daebak!

Cungkrin Pak Jumat.

Cita rasa cungkring merupakan cita rasa auntentik yang tak lekang oleh waktu. Cungkring merupakan makanan berbahan cungur (bibir) dan kaki garingan sapi, jika kedua kata itu disatukan jadilah cungkring. Saat ini, banyak ditemukan sate kulit sapi yang dijual di sekitar Kota Bogor dan diberi nama cungkring. Menurut para pedagang asli cungkring, hal tersebut keliru karena cungkring yang asli hanya menggunakan bagian bibir dan kaki sapi saja dan tidak ditusuk seperti sate.

Salah satu penjual cungkring legendaris ini adalah Cungkring Pak Jumat yang sejak tahun 1975 sudah mangkal di Jalan Suryakencana. Saat memesan, kita akan ditawari empat jenis cungkring, yaitu kikil, kulit, dampal, dan urat dengan masing-masing potongnya seharga Rp. 5.000. Menurut Pak Jumat, bagian yang paling banyak dipesan adalah urat kaki sapi. Teksturnya yang kasar seperti urat daging menciptakan kenikmatan tersendiri saat dikunyah.

Bagian Kaki Sapi yang bisa dipilih.

Hari itu aku memesan bagian kikil dan urat. Bagian tersebut kemudian dipotong kecil-kecil di atas kertas nasi yang dilapisi daun pisang, kemudian diberi potongan lontong dan keripik tempe sebelum diguyur bumbu kacang dan cabai. Bumbu kacang yang digunakan mirip dengan bumbu kacang kupat tahu. Butiran kacang yang digiling kasar masih terasa di gigitan. Lontong yang lembut berpadu dengan kikil ditambah renyahnya keripik dan bumbu yang gurih pedas, membuat citarasa cungkring dalam satu kali suapan terasa sangat nikmat.

Jika ingin menikmati hidangan ini kita harus datang pagi hari. Cungkring Pak Jumat sendiri buka setiap hari pada pukul 06.30 dan tutup pukul 22.00. Bahkan terkadang sebelum jam 10 malam, jualannya sudah habis. Menurut penjual, saat jam buka biasanya sudah banyak pelanggan yang mengantre untuk sarapan.

Lokasi tempat Cungkring Pak Jumat berjualan persis sebelum perempatan Gang Aut, sebelah kiri Jalan Suryakencana yang ke arah Puncak. Rata-rata satu porsi cungkring dijual dengan harga Rp. 15.000 lengkap dengan lontong, dua keripik tempe, dan dua potong bagian daging. Tetapi, pelanggan juga diperbolehkan kok untuk menambah potongan daging. Jadi, saatnya kamu mencoba kuliner langka dengan cita rasa yang unik dan tidak berubah dari waktu ke waktu. Pokoknya ini bisa menjadi rekomendasi sarapan nikmat di Kota Bogor. Selamat Mencoba!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.