Catatan Perjalanan Menuju Air Terjun Jodoh, Maluku Tengah

0
1437
Air Terjun Jodoh.

Alam merupakan sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan dan amat bernilai bagi kesejahteraan hidup manusia. Alam selalu memberikan suasana nyaman, indah, menyegarkan dan menyehatkan, sehingga banyak orang memanfaatkan alam untuk dijadikan daerah tujuan wisata yang menarik. Selain dimanfaatkan sebagai daerah tujuan wisata, kegiatan ini juga bertujuan untuk melestarikan, memelihara, mengembangkan, dan memperkenalkan obyek daya tarik wisata kepada masyarakat luas.

Walaupun sudah banyak dimanfaatkan sebagai daerah tujuan wisata, namun masih banyak orang yang belum sadar akan potensi yang dimiliki oleh alam sekitar. Juga ketidaksadaran untuk tetap memelihara serta melestarikannya. Dengan demikian saya dan beberapa teman melakukan sebuah perjalanan untuk mencari potensi yang dapat dikembangkan dan bisa jadi membawa keuntungan bagi kami dan masyarakat sekitar.

Daerah tempat obyek wisata alam yang kami pilih adalah Air Terjun Jodoh / Air Terbang yang berada di Dusun Hulung, Desa Hitumesing, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Untuk sampai ke objek ini harus menggunakan kendaraan pribadi maupun umum dengan jarak tempuh sekitar 3–4 km dari Desa Hunuth, Durian Patah, setelah itu berjalan  melewati perkebunan warga dan menuruni anak tangga menuju Air Terjun Jodoh ini.

Jalan Menyusuri Sungai.

Atau dapat menyusuri sungai dengan waktu 3 jam lamanya perjalanan. Jika berjalan menyusuri sungai maka mata dapat dimanjakan dengan pemandangan yang begitu luar biasa indah, dan akan melewati 3 anak air terjun. Setelah melewati anak air terjun ke-3 pilihlah arah jalan yang lurus maka anda akan menemukan air terjun tersebut.

Soal biaya yang dikeluarkan, anda tidak perlu kuatir akan hal ini, karena biaya yang dikeluarkan hanya sekitar  Rp. 15.000 – Rp. 20.000 per orang.

Pukul 08:00 WIT kami berkumpul di Kampus PGSD, setelah itu pukul 08:35 kami menuju tempat speed boat (Mardika–Wayame) dengan berjalan kaki dari kampus ke Perpustakaan Daerah dan melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan umum. Tepatnya pukul 09:05 kami menyeberangi lautan menggunakan speed boat, selang beberapa menit kami tiba ke Desa Wayame.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan umum menuju Desa Hunuth-Durian Patah tepatnya di rumah teman kami bernama Rian. Setiba dirumah Rian kami disambut dengan hangat oleh Omanya Rian, yaitu Oma Otis. Kami diberikan kue dan teh untuk menambah stamina, setelah itu kami melakukan persiapan lainnya, mengganti pakaian, dan mempersiapkan perlengkapan juga makanan yang kami perlukan selama perjalanan. Sebelum memulai perjalanan, kami mengawalinya dengan berdoa yang dipimpin oleh Oma Otis, setelah berdoa perjalanan pun kami lanjutkan.

Kami memilih berjalan menyusuri sungai, dan kami selalu mengambil gambar di setiap perjalanan, sewaktu awal perjalanan menyusuri sungai, saya tiba-tiba terjatuh, teman-teman membantu saya berdiri dan terus berjalan. Tak disangka banyak orang yang sedang beraktifitas di sungai tersebut. Kami sedang fokus untuk berjalan, tiba-tiba teman kami Dian terpeleset dan jatuh, betapa lucunya kejadian itu.

Anak Air Terjun.

Setelah menempuh beberapa meter perjalanan, kami bertemu seorang warga yang bermukim di desa sekitar, beberapa pertanyaan kami layangkan kepada pemuda tersebut. Kami sangat senang karena informasi yang didapat sangatlah akurat. Setelah kami sadari lokasi pemuda tersebut berada ternyata sangat mengagumkan, batu yang cukup besar berwarna putih dan berbentuk seluncuran dan tak disangka hal itu adalah hasil bentukan alam.

Perjalanan kami lanjutkan, sungai yang ada di hadapan kami ternyata cukup dalam dan akhirnya kami memilih bukit kecil untuk menyeberang ke sungai selanjutnya. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dan kami menemukan anak air terjun yang pertama, meskipun kelihatan kecil tapi cukup dalam juga. Kami satu per satu melompat ke dalam dan berfoto, kami melanjutkan perjalanan dan menemukan anak air terjun yang kedua, depannya berbentuk seperti gerbang kecil.

Perjalanan terus kami lanjutkan, tantangan demi tantangan kami lewati, di antaranya menaiki batu besar bahkan beberapa dari kami sampai terpeleset karena batu yang licin, menunduk untuk melewati pohon tumbang, berenang agar sampai ke perjalanan selanjutnya. Meskipun begitu, kami tidak merasa kelelahan atau kecewa, tapi sebaliknya, kami semakin tertantang untuk melanjutkan perjalanan.

Kami menggunakan beberapa menit waktu kami untuk beristirahat. Kemudian kami melanjutkan perjalanan, perjalanan kami sangat menyenangkan. Tak lama kemudian, kami menemukan tebing tinggi dan terjal dengan pemandangan air yang begitu luar biasa, batu berwarna hijau alami membuat air seperti berwarna hijau. Betapa mengagumkan karya Tuhan ini. Pada jarak yang tidak terlalu jauh, kami menemukan batu yang berbentuk seperti Salawaku.

Air Terjun Jodoh.

Pada perjalanan di anak air terjun yang ke-3 kami sempat merasa putus asa, tapi kami terus berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Waktu terlama kami adalah di tempat ini karena berbagai cara berenang, memanjat kami lakukan untuk sampai di Air Terjun Jodoh. Kami akhirnya menemukan jalan keluar, kami harus melepas sepatu dan berpegangan di batang pohon. Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati, karena kami bisa saja terpeleset dan jatuh ke air yang sangat dalam. Dengan hati-hati, satu per satu dari kami turun dan akhirnya kami bisa juga melewati tantangan berat ini. Kami memakai sepatu dan melanjutkan perjalanan.

Kami hampir sampai di Air Terjun Jodoh, tetapi kami memilih jalan ke kanan yang kami temukan hanya bebatuan yang tak ada airnya, kecewa menghampiri kami semua. Tiba-tiba terdengar suara air, ternyata air terjun yang kami cari tertutupi batang pohon, sehingga kami tidak dapat langsung melihatnya.

Kami melewati rintangan kecil menyebrangi batang pohon tumbang untuk sampai ke Air Terjun Jodoh, dan tepat pukul 13:05, kami akhirnya sampai. Kami berteriak kencang kegirangan, karena merasa perjuangan kami untuk sampai ke sini sangatlah sulit dan semuanya dapat terbayarkan dengan indahnya air terjun ini. Kami menghabiskan bekal kami dan menikmati dinginnya air. Tidak berapa lama, kami kemudian mengabadikan foto kami bersama dan bergegas pulang.

Kami memilih jalan raya untuk pulang agar cepat sampai di rumahnya Rian. Menaiki puluhan anak tangga dan berjalan menyusuri perkebunan warga Kami sempat membangun sedikit percakapan dengan seorang warga, dan banyak informasi yang kami dapat. Kami berada di gunung yang tinggi dan dapat melihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Dengan keadaan basah kuyup, kami tidak bisa naik kendaraan umum akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki dari Dusun Hulung, karena jarak yang begitu jauh dan terlalu panas kami menumpangi mobil pickup untuk sampai ke Desa Hunuth-Durian Patah.

Akhirnya mobil tiba dan kami pun turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih, dan kami pun melanjutkan perjalanan. Sesampainya di rumah, kami mandi untuk membersihkan diri dan makan siang. Setelah makan, kami duduk santai kemudian membereskan barang-barang dan setelah bersiap pamit untuk kembali ke rumah masing-masing.

Dari perjalanan yang kami lakukan kami sadar bahwa banyak sekali tempat–tempat di alam yang menakjubkan dan menarik, kita bisa menikmati keindahan alam jika kita menjaga dan melestarikannya. Meskipun kita ingin menjadikan alam sebagai sebuah tempat untuk berwisata, namun kita juga perlu mengetahui hal penting apa saja yang perlu kita lakukan di alam dan yang alam butuhkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.