Cara Menikmati Wisata Sejarah

0
1283
Candi Sebagai Wisata Sejarah.

Apa kesan pertama ketika mendengar kata sejarah? Bosan, tanggal, hafalan, mengantuk, dan tidak asyik. Kurang lebih sepertinya begitu, ya? Tapi, sebenarnya sejarah tidak seperti yang dibayangkan, apalagi wisata sejarah. Banyak orang yang tidak bisa menikmati wisata sejarah karena tidak mengerti cara menikmatinya.

Wisata sejarah di Indonesia sangatlah kaya, hampir setiap daerah memiliki potensi untuk dijadikan tempat wisata sejarah. Mulai dari syiar Islam yang bermula di Aceh, sampai wisata sejarah pelayaran di Maluku, dan wisata sejarah peradaban di Papua. Lengkap! Negeri kita kaya sekali akan sejarah. Objek wisata sejarah pun sering dilewatkan, tidak dikunjungi, karena para wisatawan sulit menikmati. Berikut saya akan memberikan beberapa tips dan cara praktis untuk menikmati wisata sejarah.

Menggali dan Mencari
Candi Sojiwan.

Langkah pertama yang harus kalian lakukan untuk menikmati wisata sejarah adalah menggali informasi sejarah dari berbagai sumber, terkait objek yang akan dikunjungi.

Langkah ini merupakan langkah paling penting dan wajib dilakukan, karena mana mungkin kita dapat memahami sebuah kisah tanpa mencari tahu apa-apa. Jika kita sudah mendapat informasi, sebaiknya kita mencari versi atau sudut pandang lain terkait objek wisata sejarah yang akan kita kunjungi. Semakin banyak informasi yang kita dapat, maka semakin banyak hal yang bisa kita nikmati.

Sekitar pertengahan tahun 2018, saya mengunjungi Candi Sojiwan. Walaupun dekat dengan Candi Prambanan, tapi candi ini terbilang sepi pengunjung. Benar-benar sepi, padahal cerita sejarahnya banyak. Nah, sebelum mengunjungi candi ini, saya banyak membaca informasi sejarah terkait candi ini dan candi di sekitar komplek Prambanan. Dalam beberapa referensi, candi ini merupakan wujud akulturasi agama Hindu dan Budha, melambangkan terjadinya toleransi dan kerukunan umat beragama di masa Mataram Kuno.

Sesampainya saya di sana, saya mengamati bangunan megah candi ini. Saya menyadari bukti bahwa bangunan ini merupakan akulturasi budaya dan agama. Bentuk candi ini seperti Borobudur memiliki banyak stupa, tetapi bangunan strukturnya sangat mirip dengan Prambanan, yaitu menjulang ke atas secara vertikal. Nah, jika saya tidak membaca informasi sejarah maka saya tidak akan tahu apa-apa soal bentuk bangunan yang menyimbolkan nilai toleransi. Menarik, kan?

Spontan Itu Asyik
Ojek Sepeda di Glodok.

Langkah kedua adalah spontanitas. Banyak wisatawan yang hanya melihat sejarah hanya sebatas bangunan, patung, bahkan monumen. Padahal, kendaraan pun punya nilai sejarah, makanan pun punya nilai sejarah, pakaian pun memiliki nilai sejarah, olahraga pun memiliki nilai sejarah, semua hal memiliki nilai sejarah. Tergantung seberapa dalam kalian menggali informasi. Setelah menggali banyak informasi, saatnya kalian spontan mencari apa yang pernah kalian gali sebelumnya.

Suatu hari saya sedang berjalan di sisi jalan Glodok, saya menemukan seorang bapak tua dengan sepeda onthel, beliau lalu menawarkan ojek sepeda. Saya teringat pernah membaca informasi soal sejarah ojek di Jakarta, tanpa pikir panjang saya langsung menawar harga dan naik ojek sepeda. Saya merasakan bagaimana rasanya menjadi warga Jakarta pada tahun 60-70an dengan naik ojek sepeda di Glodok. Berkeliling ke Stasiun Jakarta Kota, ke area Kota Tua, dan pecinan kuno di Jakarta adalah sebuah kenikmatan. Semua informasi yang pernah kalian baca, akan kalian rasakan secara langsung. Itu semua secara spontan terjadi!

Peka Terhadap Informasi
Keraton Yogyakarta.

Langkah ketiga adalah memasang kuping, maksudnya peka terhadap informasi sejarah yang secara tidak terduga kita dengar. Entah itu ketika mengunjungi objek wisata sejarah, atau sedang mengobrol santai dengan warga lokal. Semua itu datang secara tidak terduga dan tiba-tiba, waspada!

Suatu hari, saya sedang di pelataran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Keraton ini merupakan ikon wisata sejarah di Yogyakarta, sudah banyak yang mengunjunginya juga. Ketika sedang duduk dan beristirahat di bawah pohon besar, saya dihampiri oleh seorang kakek tua yang memakai baju adat, beskap, dan blangkon. Beliau mengajak saya ngobrol terlebih dahulu. Ternyata, beliau adalah seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta, beliau sudah puluhan tahun mengabdi. Kami berbincang beberapa jam, beliau bercerita mulai dari sejarah Sultan Hamengku Buwono IX sampai gudeg legendaris di Yogyakarta. Ah, kisah dan informasi sejarah terkadang datang secara tak terduga. Kisah kisah tak terduga inilah yang mahal, belum tentu dalam seumur hidupmu bisa sekali atau dua kali mendapatkannya.

Yuk, kita eksplorasi sejarah sejarah di Indonesia melalui pariwisata!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.