Candi Selogriyo, Candi Hindu Nan Indah yang Tersembunyi di Magelang

0
116
Candi Selogriyo difoto dari pintu masuk.

“Hal paling menyebalkan dari petualangan adalah: sekali kau terkena racunnya, kau akan kecanduan.” —Fiersa Besari

Saya adalah salah satu orang yang suka bertualang menuju tempat wisata yang dekat dengan kota kelahiran saya, yaitu Magelang. Berbicara mengenai Magelang, tidak lepas dari tempat wisata terkenal bernama Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, dan lain sebagainya. Namun, saya tidak akan menceritakan perjalanan saya ke tempat-tempat tersebut. Sebab, ada candi lainnya yang jarang sekali dikunjungi dikarenakan tempatnya yang tersembunyi. Candi ini bernama Candi Selogriyo. Salah satu candi Hindu yang berada di sebuah bukit, lereng timur Gunung Sumbing. Candi ini ditemukan pertama kali pada tahun 1835 oleh Hartmann, Residen Magelang pada masa penjajahan Belanda. Alamat lengkapnya di Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

Dengan budget traveling yang minim, saya nekad bertualang ke tempat ini. Dan ini merupakan kedua kalinya saya traveling ke candi ini. Jadi, saya sudah hafal dengan rute menuju kesana. Sebelumnya, tahun 2019 lalu. Saat itu candi masih dalam dalam pemugaran. Rencana saya untuk datang kesana di waktu pagi hari dan saat jam kerja (Senin – Jum’at). Selain sepi, keadaan tempat wisata tidak terlalu ramai.

Candi Selogriyo difoto dari samping.

Setelah selesai sarapan dan persiapan lainnya. Saya berangkat dari rumah pukul 07.30 WIB. Dengan mengendarai sepeda motor, saya menuju ke candi tersebut. Karena masih pagi, jalanan begitu padat oleh orang-orang yang akan berangkat bekerja maupun sekolah. Saya memutuskan untuk tidak terlalu terburu-buru. 30 menit kemudian, saya telah tiba di Candi Selogriyo ini. Beruntung sekali saat itu, loket masuk belum ada yang jaga dan saya tidak harus membayar tiket masuknya. Asyik. Hehe.

Oh iya, menuju ke Candi Selogriyo ini saya sarankan mengendarai sepeda motor. Sebab, untuk menuju gapura masuk candi jalannya sempit dan hanya bisa dilalui sepeda motor. Namun, jika terpaksa mengendarai mobil, maka mau tidak mau harus jalan kaki sekitar 20 – 30 menit dari loket menuju ke gapura candi. Oke, saya lanjutkan. Berhubung malam hari sebelumnya Magelang diguyur hujan, maka dipastikan jalanan menjadi licin. Jalan yang sempit dan licin adalah tantangan saya kali ini. Bila tidak hati-hati, bisa-bisa terperosot masuk ke lahan pertanian warga sekitar.

Di sepanjang perjalanan, saya mensyukuri keindahan alam ciptaan Tuhan di sekitar jalan menuju candi. Bukit yang hijau dan persawahan warga yang dibuat terasering, menambah pemandangan menjadi sangat menyenangkan dan sesekali berhenti untuk mengambil foto. Sungguh menenangkan. Suasananya nyaman dan sejuk sekali. Cocok sekali untuk menghapus kejenuhan. Beberapa kali berpapasan dengan penduduk yang ke ladang, mereka membalas sapaan saya dengan ramah.

Sesampainya di gapura candi, saya diharuskan mendaki tangga yang tidak terlalu tinggi tetapi cukup melelahkan. Tetapi semua rasa lelah itu terbayar lunas dan sepadan. Karena traveling saya ini sesuai dengan yang saya inginkan. Sepi dari pengunjung di pagi hari. Kemudian saya beristirahat di pos jaga; mengisi data pengunjung dan berbincang-bincang dengan pengelola candi tersebut.  Kata pengelola, masuk ke Candi Selogriyo ini gratis. Tetapi karena ada kepemilikan lahan yang berbeda antara Cagar Budaya dan Dinas Pariwisata, maka dikenakan tiket masuk. Harga tiketnya pun tidak begitu menguras kantong, jadi tidak perlu takut berkunjung ke tempat ini. Bisa dibilang, liburan murah meriah.

Lalu, saya mulai menjelajahi setiap sudut candi dan mempelajari informasi yang ada di area candi. Mengambil beberapa foto untuk diabadikan dari berbagai sudut yang menarik. Terik matahari yang terlalu terang, membuat beberapa kali hasil foto backlight dan tidak maksimal. Namun, saya sangat menikmati sekali bertualang ke tempat ini.

Candi Selogriyo difoto dari pintu masuk.

Beberapa menit kemudian, ada pengunjung lain yang datang. Saya tidak pernah menduga, bahwa pegunjung itu adalah turis asing asal Argentina. Satu keluarga berjumlah 3 orang, sepasang suami-istri dan seorang anak perempuan kecil yang manis. Meski saya tidak begitu lancar berbahasa inggris, tetapi saya memberanikan diri untuk menyapanya dan melakukan percakapan ala kadarnya. Walaupun disertai dengan gugup juga sih. Mereka datang dari Jakarta. Dia bilang, datang bersama seorang partner mengendarai sebuah mobil menuju ke Candi Selogriyo ini. Dan partnernya menunggu di loket masuk. Hanya sekitar 10 menit saja mereka di sana. Lalu kembali menuju loket dengan berjalan kaki.

Tidak lama kemudian, setelah pamit dengan pengelola candi, saya memutuskan untuk pulang. Karena saya memiliki keperluan lain. Sempat berpapasan kembali dengan para turis asing tadi di perjalanan. Dengan mengucapkan kata permisi dalam bahasa Inggris disertai senyuman, saya mendahului mereka. Dan saya memutuskan untuk langsung pulang ke rumah untuk beritirahat.

Itulah sepenggal kisah perjalanan saya menuju Candi Selogriyo. Saya berharap, artikel ini bermanfaat untuk para pembaca semua. Bagi para traveler yang sedang membuat intinerary terbaru ke Magelang, tidak ada salahnya memasukan candi ini kedalam daftar yang ingin dikunjungi, selain mengunjungi Candi Borobudur yang sudah terkenal mendunia itu. Salam lestari dan selamat bertualang!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.