Candi Sari: Tempat Bagi Para Calon Biksu

0
181
Candi Sari tampak dari depan.

Yogyakarta tak henti-hentinya memberikan pesona. Baik dari alamnya, daerahnya, maupun budayanya. Perjalanan panjang sejarah mulai dari masa kerajaan Hindu dan Buddha di daerah ini, dan ditambah dengan adanya kesultanan Islam. Membuat Yogyakarta semakin memiliki kekayaan budaya. Salah satu hasil dari kekayaan budaya yang diciptakan di Yogyakarta adalah Candi Sari. Candi Sari merupakan bukti kebesaran Kerajaan Medang di Mataram (Yogyakarta sekarang).

Candi Sari merupakan candi bercorak Buddha, masa pembuatan Candi Sari didirikan sekitar abad 8 masehi hampir bersamaan dengan Candi Kalasan yang terdapat di sebelah barat daya Candi Sari. Candi Sari layak menyandang gelar candi anti-mainstream karena hanya sedikit sekali pengunjung yang berwisata, belajar sejarah atau hanya sekedar berfoto ria di sini. Adapun pengunjung per bulannya dapat dihitung dengan jari tangan. Ketika saya mengunjungi Candi Sari pada Sabtu, 15 Februari 2020 kemarin, pengunjung yang mengunjungi Candi Sari hanyalah saya satu-satunya. Bahkan tak banyak dari masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya yang mengetahui keberadan Candi Sari, kecuali masyarakat sekitar candi. Cukup miris bukan?

Terlihat relung yang digunakan untuk menyimpan lontar..

Candi yang terletak di Dusun Bendan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini memiliki keunikan tersendiri yang mungkin hanya sedikit orang yang tahu. Hal tersebut dikarenakan ketika para guru dan pandita Buddha yang meminta sebidang tanah kepada Rakai Panangkaran (raja kedua kerajaan Medang menurut prasati Abhayagiri Wihara tahun 792 masehi) untuk didirikan sebuah biara, namun bukan hanya memberi izin, Rakai Panangkaran malah memberikan kawasan Desa Kalasan yang luas untuk tempat religius bagi umat penganut agama Buddha. Uniknya lagi unsur-unsur Hindu masih terdapat dicorak candi Buddha ini, itu menandakan bahwa toleransi pada zaman itu begitu kuat.

Tidak hanya itu, keunikan Candi Sari yang lain yaitu dari sisi arsitektur, yakni menampakan bangunan bertingkat. Candi Sari pada saat pertama kali ditemukan dalam kondisi rusak meski seluruh bangunan tidak menampakan roboh. Namun panorama Candi Sari membuat kita takjub akan kemegahannya. Kesan pertama saya ketika masuk kedalam candi adalah sejuk dan merinding. Bagaimana tidak, bagian dalam candi terdapat banyak sarang kelelawar dan sarang tawon, tapi menurut saya masih ada suatu alasan lain yang membuat saya takut untuk menyusuri bilik demi bilik yang ada.

Candi Sari terlihat dari sudut.

Candi Sari terbagi menjadi 3 bilik. Kemungkinan di bilik bagian tengah pernah diletakkan arca Buddha yang diapit Bodhisatwa, sedangkan dinding-dinding bilik terdapat relung yang dulunya digunakan untuk menaruh lontar, hal ini didukung dengan adanya Candi Kalasan sebagai pusat keagamaan. Diperkirakan pembagian antara ruang atas dan bawah dipisahkan dengan lantai kayu. Pada dinding luar candi dipahatkan relief-relief Bodhisatwa berjumlah 38 buah. Relief-relief tersebut digambarkan berdiri dengan memegang bunga teratai sedangkan pada sisi kanan dan kiri. Masing-masing jendela dipahatkan ukiran makhluk khayangan berwujud Kirana dan Kinari, yakni makhluk bertubuh burung dengan kepala manusia.

How To Get There?

Untuk mengunjungi Candi Sari tidak sulit, karena letak candi yang tak jauh dari Jalan Raya Yogyakarta-Solo. Kira-kira hanya 50 meter, tepatnya kalian bisa menggunakan jalan di depan Masjid An-Nurumi. Dan bagi kalian yang sudah bosan dengan candi yang itu-itu aja di daerah Yogyakarta dan sekitarnya, bisa mengunjungi Candi Sari yang bisa dijadikan objek wisata sejarah alternatif. Berhubung Candi Sari masih sedikit yang mengetahui keberadaannya, yuk langsung saja atur jadwal dan kunjungi Candi Sari!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.