Candi Sambisari: Wisata Sejarah di Candi yang Terpendam

0
164
Candi utama.

Sebagai salah satu agama yang pernah menguasai seluruh wilayah nusantara, Hindu tentu membawa banyak dampak terhadap kelangsungan hidup masyarakat pada masa itu. Baik dari segi sosial, politik, ekonomi, maupun seni dan arsitektur. Salah satu bukti terbesar kejayaan agama Hindu masa itu adalah bangunan candi. Utamanya di Pulau Jawa banyak ditemukan bangunan-bangunan candi yang masih berdiri kokoh. Candi-candi tersebut beberapa ada yang ditemukan secara langsung sudah berdiri dan ada juga yang harus digali karena terpendam tanah. Salah satu candi yang ditemukan dalam keadaan terpendam adalah Candi Sambisari.

Candi ini terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Untuk memasuki kawasan candi, cukup membayar tiket masuk Rp 5.000 untuk wisatawan domestik dan Rp 10.000 untuk wisatawan mancanegara. Namun, nampaknya untuk parkir bus wisata di area Candi Sambisari akan sedikit sulit karena agak sempitnya ruang untuk kendaraan besar.

Memasuki area candi, hamparan rumput hijau menyambut dengan suburnya. Luas dan bersih, itulah gambaran utama dari suasana di Candi Sambisari. Pepohonan masih terjaga rindangnya. Rumput-rumput tumbuh dengan rapi dan segar, seperti baru saja disiram. Di sebelah barat area candi terdapat beberapa puing-puing batuan candi yang masih belum terbentuk. Hal ini karena puing-puing batu candi tersebut belum ditemukan pasangannya. Para penjaga pun tidak hanya berdiam diri di pos jaga. Mereka nampak memantau keadaan di sekeliling area candi.

Puing-puing batu candi yang tidak ditemukan pasangannya.

Candi Sambisari memiliki satu candi utama (induk) dan tiga buah candi perwara di depannya. Dari sejarahnya, candi ini berdiri sekitar abad ke-9. Dilihat dari arsitektur dan bentuk ornamen, candi ini memiliki kemiripan dengan Candi Prambanan dengan latar belakang keagamaan bersifat Siwaistis. Terdapat patung-patung dewa Hindu seperti Patung Durga Mahisasuramardhini di sebelah utara, Patung Ganesa di sebelah timur, dan Patung Agastya di sebelah selatan. Ada pula Patung Mahakala dan Nandiswara sebagai penjaga pintu. Di dalam candi utama terdapat Lingga-Yoni. Lingga adalah satu perwujudan dari Dewa Siwa, sedangkan Yoni adalah perwujudan dari Sakti yaitu istri Siwa.

Tidak seperti Candi Prambanan yang ditemukan pada masa penjajahan kolonial, Candi Sambisari ditemukan pada masa setelah kemerdekaan, yaitu tahun 1966 oleh seorang petani. Ketika petani tersebut sedang mencangkul tanah milik Karyowinangun, alat cangkul tersebut membentur batu ukir reruntuhan batu candi. Berita tentang penemuan ini pada akhirnya terdengar oleh kantor arkeologi di Prambanan dan area sekitar candi pun di amankan. Proses penggalian dan rekonstruksi candi selesai pada bulan Maret 1987.

Patung Agastya.

Di bagian timur area candi nampak sebuah pagar batu yang letaknya sedikit ke bawah. Ternyata masih terdapat beberapa bagian candi yang masih bisa digali, tapi tak dapat dilanjutkan karena berbagai alasan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai arsitektur dan kesejarahan bangunan Candi Sambisari dapat ditanyakan lebih mendetail di Pusat Informasi Candi. Ruangan Pusat Informasi Candi berada di sebelah barat dari pintu masuk awal. Dan tentu saja para petugas akan menjawab pertanyaan kita dengan senang hati.

Bagi pengunjung yang tidak terlalu tertarik dengan kesejarahan dapat menghabiskan waktu di kawasan candi dengan bersantai ataupun berfoto-foto. Suasana tenang di kawasan candi menjadikan tempat ini cocok untuk berlibur bersama keluarga dan menghilangkan rasa penat. Di kawasan Candi Sambisari juga tersedia fasilitas mushola dan kamar mandi yang tentu terjamin kebersihannya. Selain itu, terdapat pula warung makanan di depan kawasan candi sehingga kita tidak perlu takut kehausan ataupun kelaparan. Menarik, bukan? Ayo berlibur ke Candi Sambisari!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.