Camping di Waduk Sermo, Kulon Progo, Yogyakarta

0
151
Mentari mulai menepi tandanya senja memancar.

Kulon Progo merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Yogyakarta. Banyak destinasi nyentrik di Kulon Progo salah satunya adalah Waduk Sermo. Waduk yang berfungsi sebagai wadah untuk menampung air hujan dan media untuk irigasi para petani di sawah. Manfaat lain dari Waduk Sermo yakni untuk sarana pariwisata, salah satunya sebagai tempat camping di sekitar Waduk Sermo. Hal yang terselubung adalah kita dapat menikmati senja di sekitar waduk sekaligus menyaksikan terbitnya mentari yang begitu manja.

Perjalanan ini dapat dikata cukup jauh, menghabiskan waktu 1,5 jam dari pusat Kota Yogyakarta. Meskipun tanpa ada kendala, jalanan yang dilewati cukup berkelok setelah sampai di sekitar waduk. Selain itu, jalan menuju Waduk Sermo hanya cukup untuk satu mobil saja karena terdapat gapura dari besi dengan ruang yang minim. Saran saya ketika akan berkunjung ke sana jangan menggunakan bus atau jenis mobil yang besar karena jalan yang sempit dan cukup berkelok.

Sampai tujuan kita hanya akan dikenai biaya masuk Rp 10.000 saja. Dapat dibilang relatif murah dengan fasilitas yang memadai seperti tempat parkir yang cukup luas, mushola, toilet, dan tempat yang nyaman untuk menikmati hari. Namun, untuk weekend, biaya yang dikenakan naik menjadi Rp 15.000. Kita juga dapat mendirikan tenda di sekitar waduk dan menikmati bentangnya air di sana. Bagi kamu yang membawa kendaraan beroda dua dapat dibawa turun ke dekat tenda. Spot foto yang tersedia juga membuat para pengunjung tertarik seperti ayunan dan tempat untuk nongkrong menikmati kopi sembari menunggu terbitnya mentari.

Pihak petugas juga menyediakan kayu bakar untuk menghangatkan tubuh dikala suhu dingin menerkam tubuh. Cukup mengeluarkan uang Rp 20.000 saja untuk membuat api unggun di sekitar waduk. Tetapi tetaplah hati-hati! Jangan terlalu dekat dengan tenda yang ditempati. Bisa-bisa tenda terkena percikan api dan merambah malapetaka. Secangkir kopi dan selinting tembakau menambah kehangatan untuk bercengkrama dengan kawan, membicarakan seluk-beluk kehidupan. Sembari melihat bintang dengan romatis menampakkan diri.

Menikmati api unggun dalam dinginnya malam.

Ketika malam semakin larut dan api unggun sudah merasa malu untuk memancarkan apinya, dingin datang menghampiri. Mula-mula hanya hembusan angin yang cukup membuat dingin. Kenakan jaket dan selimut agar dingin tak merasuki diri. Angin berhembus memang begitu, merasuk tanpa permisi dan pergi tanpa pesan tertinggal. Seperti halnya persoalan asmara klasik seorang pemuda yang selalu berharap kepastian.

Pagi mulai datang dan sang mentari dengan makna menampakkan diri. Bergegas menyiapkan kamera dari saku dan mengabadikannya. Jangan lupa sarapan pagi mengisi perut keroncongan sebelum menyaksikan mentari terbit dengan anggunnya. Berpose sedemikian rupa untuk kebutuhan sosial media. Selain untuk kebutuhan story juga digunakan untuk foto pre-wedding ajang orang menuju pelaminan. Tempat yang begitu nyentrik menjadi salah satu opsi untuk foto pre-wedding.

Mentari memancar malu dari ufuk timur.

Waktu terus beralun terik matahari mulai sirna tandanya senja akan datang. Tak lupa mengabadikan senyum indah mentari ketika pulang. Senja, siapa yang enggan melihat senja? Begitu apik dan cara meluapkan angan dari rasa stres ketika menumpuknya tugas di luar sana, serta dapat menunda resah menuju kedamaian.

Ketika ingin mengunjungi tempat destinasi ini jangan lupa bawa bekal yang memadai untuk logistik di sana. Datang ketika musim kemarau sangat syahdu karena dapat menyaksikan senja dan terbitnya mentari dengan riang. Cek kembali kendaraan untuk media pemberangkatan karena bengkel di sana terbilang cukup jauh. Jangan lupa juga berdoa sebagai bekal utama dan tetap berhati-hati di jalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.