Bhujuk Makam Zimat

0
226
Bhujuk Makam Zimat.

Ada sebuah Bhujuk (Buyut) yang terletak di daerah pesisir yang berada di Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur yang disebut dengan Bhujuk Makam Zimat. Untuk menuju Bhujuk Makam Zimat dari pusat kota Bangkalan menuju ke arah Bangkalan pada bagian utara dengan perjalanan kurang lebih sekitar 40 km. Dengan Google Maps tinggal tulis Bhujuk Makam Zimat Banyusangka, maka kita akan ditunjukan arahnya sampai di tujuan.

Dari namanya, banyak orang bertanya-tanya mengapa Bhujuk ini dinamakan Bhujuk Makam Zimat? Pernah melakukan wawancara mengenai Bhujuk Makam Zimat, sebelum juru kunci wafat, yaitu Nyai H. Kutsiyah. Dari data yang saya data, Bhujuk ini aslinya bernama Sayyid Hosen Assegaf. Beliau putra dari Raden Maulana Makhdum Ibrahim dan istrinya yakni Ibu Syarifah Fatimatus Azzuhro Assegaf. Beliau mempunyai banyak pengikut karena ketinggian ilmunya dan akhlaq yang berbudi luhur. Dengan begitu beliau tidak lepas dari beberapa orang yang membencinya lantaran iri dengan kedudukan beliau di masyarakat. Hingga suatu hari, ada seseorang yang iri lalu menyampaikan berita kepada sang raja Bangkalan bahwa ingin menggulingkan dari kekuasaanya. Kemudian sang raja mengutus para prajuritnya untuk membunuh Sayyid Hosen Assegaf di kediamannya.

Tampak Samping Dari Arah Barat.

Ketika Sayyid Hosen Assegaf meninggal, tepatnya di Desa Jaddih Bangkalan, ibunya sedih dan memanggil para warga serta prajuritnya untuk melakukan proses pemakaman. Pada saat proses pemakaman terjadilah suatu musibah. Pada galian pertama, dari tanah galian keluar darah, pada galian kedua keluar batu, dan pada proses galian ketiga keluar berbagai macam tanah campuran. Terjadinya musibah tersebut, ibunya menjadi sedih ketika mendengar informasi itu. Kemudian datanglah salah salah satu prajurit Sayyid Hosen Assegaf lalu berkata kepada pihak keluarga, bahwasannya dulu sebelum beliau wafat, pernah ada yang berkata bahwa kalau ketika meninggal nantinya harus dikubur di daerah pesisir Bangkalan bagian utara.

Kemudian para pengantar jenazah berangkat menuju daerah pesisir Bangkalan bagian utara. Di setiap perjalanan ketika menemukan desa, para pengantar jenazah berhenti untuk melakukan proses penggalian. Akan tetapi, setiap penggalian terjadi musibah seperti di Desa Jaddih. Berbagai macam desa telah dilalui dan akhirnya menemukan desa yang dekat dengan pesisir, kemudian dilakukan proses penggalian. Akan tetapi, ketika proses penggalian kuburan ada salah satu orang menemukan kuburan yang sudah digali tanpa diketahui siapa yang menggali kuburan tersebut. 

Sekitar jarak 500 meter dari proses pemakaman, ibunya menangis dengan menyebut nama Sayyid Hosen di akhir hayatnya dengan sebutan Ziimat Hosen, serta berdoa, “Semoga selamat di alam sana dan diangkat sebagai umat Nabi Muhammad SAW, wahai anakku.”

Tampak Luar.

Jadi, Bhujuk tersebut dinamakan Bhujuk Makam Zimat karena tangisan ibunya yang menyebut Sayyid Hosen Assegaf ketika proses pengkuburan dengan sebutan Zimat Hosen. Dan bhujuk ini ditempatkan di daerah pesisir bagian utara Bangkalan, karena dulu beliau sering menyebarkan islam di kawasan ini.

Setiap malam Jum’at, bhujuk ini banyak orang yang datang untuk berziarah baik dari dalam desa maupun di luar desa. Selain malam Jumat, setiap malam harinya ada beberapa orang yang berdatangan untuk berziarah, serta setiap pekan dan serial buan ada beberapa orang musafir yang datang ke bhujuk ini.

Dengan datang ke Bhujuk Makam Zimat, selain untuk berziarah kalian bisa sekalian menikmat pemandangan pantai dan membeli ikan laut yang segar dari hasil tangkap nelayan, karena mayoritas penduduk di Desa Panyusangka bekerja sebagai nelayan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.