Berziarah Ke Makam Sultan Thaha, Pahlawan Nasional Dari Jambi

0
213
pendopo makam sultan thaha.

Sudah lazim di Indonesia bahwa nama bandar udara di setiap daerah menggunakan nama pahlawan nasionalnya masing-masing. Begitu juga dengan nama Sultan Thaha yang diabadikan menjadi nama bandar udara Provinsi Jambi. Namanya sangat masyhur di kalangan masyarakat Jambi karena jasanya yang luar biasa pada zaman perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Untuk mengenang kisah dan jasa perjuang beliau, teman-teman dapat mengunjungi makam Sultan Thaha yang berada di Kecamatan Tebo Tengah, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Jaraknya sekitar lima jam perjalanan darat dari Kota Jambi. Namun, jika kalian mendarat di Bandar Udara Muara Bungo, hanya perlu meneruskan perjalanan darat sekitar satu jam saja. Letaknya yang berada di pinggir jalan utama membuat makam ini mudah ditemukan. Siapa saja boleh datang dan memasuki makam ini tanpa dipungut bayaran. Hanya saja, di samping makam terletak kotak berisi uang di mana pengunjung dapat mengisi secara suka rela untuk biaya kebersihan.

riwayat singkat perjuangan sultan thaha.
Mengenal Sosok Sultan Thaha dan Kepemimpinannya

Nama lengkapnya adalah Sultan Thaha Syaifuddin atau pada masa itu dikenal pula dengan nama Thahaningrat. Lahir tahun 1816, pada umur 39 tahun, ia dinobatkan sebagai Sultan Jambi untuk menggantikan ayahnya, yaitu Sultan Fahruddin.

Setelah dinobatkan sebagai sultan, Sultan Thaha segera mengubah beberapa kebijakan lama yang ditetapkan oleh ayahnya, terutama perjanjian dengan Belanda yang lebih banyak menguntungkan pihak Belanda dan merugikan masyarakat Jambi. Bahkan, dengan gagah berani ia mengumumkan untuk tidak mengakui lagi kekuasaan Belanda di wilayah kerajaan Jambi.

Tentu saja Belanda bereaksi dengan pernyataan Sultan Thaha dan mengakibatkan pertempuran sengit. Pertempuran itu menyembabkan tewasnya dua orang panglima Jambi,  yaitu Jenang Buncit dan Berahim Panjang. Belanda mengira bahwa mayat Jenang Buncit merupakan mayat Sultan Thaha. Namun, hal itu dibantah oleh Hakim Ahmad. Atas bantahan itu, Hakim Ahmad dibuang ke Cianjur, Jawa Barat.

area makam sultan thaha.

Konon, sesungguhnya Sultan Thaha berhasil meloloskan diri dari kejaran Belanda. Kemudian ia pun menyusun strategi untuk melawan negara penjajah meski secara sembunyi-sembunyi. Pada akhirnya ia meninggal di Muara Tebo pada usia 88 tahun.

Atas perjuangan dan jasa beliau, pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan surat Keputusan Presiden RI Nomor 079/TK/Tahun 1977 tanggal 24 Oktober 1997 yang menyatakan bahwa Sultan Thaha dianugerahi gelar sebagai pahlawan nasional.

makam sultan thaha.
Berziarah Untuk Mengenang Jasa Pahlawan Nasional Jambi

Area makam Sultan Thaha cukup luas dan dikelilingi dengan pagar beton. Ada pendopo di tengah area makam yang dikhususkan sebagai kuburan Sultan Thaha. Di sudut kanan dan kiri ada pajangan keramik yang bertuliskan sejarah singkat tentang Sultan Thaha. Ada juga sebuah puisi dari sastrawan lokal yang berisi tentang sosok pahlawan nasional dari Jambi ini. Selain itu, di tembok belakang area makam ini terdapat relief yang menggambarkan kisah perjuangan Sultan Thaha dan rakyat Jambi pada masa penjajahan Belanda.

Meski di beberapa bagian bangunan terlihat rapuh, pemerintah setempat berusaha melakukan pemeliharaan setiap tahunnya. Pada Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November, beberapa instansi pemerintah daerah juga melaksanakan apel di kawasan ini untuk menghormati jasa Sultan Thaha dan mendo’akannya.

Ada dua pintu masuk di area makam ini. Jika pintu utama pada bagian tengah tampak terkunci, teman-teman dapat masuk lewat pintu kecil di bagian ujung kiri. Jangan lupa untuk tetap menjaga setiap ucapan dan perbuatan di tempat ini. Sekalian juga mengirimkan do’a sesuai kepercayaan masing-masing sebagai penghormatan atas perjuangan Sultan Thaha dalam usaha memerdekaan Indonesia dari penjajah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.