Berwisata Mengeksplorasi Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur

0
1256

Jika datang ke Flores, lazimnya orang-orang akan melakukan eksplorasi dari ujung barat ke ujung timur, atau sebaliknya. Namu, saya yakin, akan banyak tempat yang masih terlewatkan jika hanya berkunjung selama dua atau tiga malam saja di dalam satu daerah Pulau Flores.

Oleh karena itu, untuk melakukan eksplorasi lebih jauh, saya sengaja datang ke Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur selama kurang lebih seminggu, tidak keluar dari kabupaten ini hanya untuk mengunjungi tempat-tempat yang mainstream, ataupun tempat yang baru booming di Instagram. Menurut saya, eksplorasi ini saya kategorikan menjadi tiga bagian; Wisata Kota, Pegunungan, dan Pantai.

Kota yang Menyimpan Situs Sejarah
Rumah Pengasingan Bung Karno.

Kota pertama yang ada di Flores adalah Kota Ende, selain umurnya yang sudah tua, Ende juga dikenal sebagai tempat pengasingan Soekarno pada tahun 1934 – 1938. Hal itu terbukti dengan adanya keberadaan Rumah Pengasingan Bung Karno seluas 9 x 18 m2 di Jl. Perwira Kelurahan Kotaraja, Ende Utara.

Rumah ini memiliki tiga kamar; pada dua kamar terdapat tempat tidur, dan satu kamar lagi terdapat meja dan kursi tamu. Di dinding banyak terdapat foto-foto terkait kehidupan beliau, ada juga benda-benda yang dulu digunakan seperti biola, piring dan lainnya. Di bagian belakang rumah terdapat sumur yang sampai sekarang masih digunakan untuk mengambil air.

Patung Duduk Bung Karno.

Ada kotak sumbangan untuk pengunjung, jadi silakan masukkan uang seikhlasnya untuk membantu yang bertugas untuk mengelola situs bersejarah ini dengan baik.

Perlu kita ketahui, di tempat ini juga Pancasila lahir. Hanya beberapa menit melangkahkan kaki dari Rumah Pengasingan ke Taman Renungan Bung Karno, atau hanya berjarak 300 meter.

Di taman yang teduh itu terdapat patung Bung Karno yang sedang duduk. Sejarahnya adalah dulu Soekarno sering duduk di sini karena tempatnya yang teduh, dinaungi pohon sukun yang rindang. Beliau duduk menghadap ke laut, sambil membaca koleksi buku-bukunya.

Eksplorasi Pegunungannya

Pukul 6 pagi saya bersama istri berangkat menggunakan motor ke Gunung Kelimutu, pemandangan jalan saat pagi sangat mempesona. Bagaimana tidak? Hamparan pegunungan nan hijau berpadu dengan kerumunan kabut yang menguning dikuas oleh sinar sunrise. Perjalanan naik gunung berkelok-kelok ke Gunung Kelimutu ditempuh sekitar 2,5 jam dengan mode santai. Biaya tiket masuk adalah Rp. 7.500 per orang dan motor Rp. 5.000.

Taman Nasional Kelimutu sangat terawat dengan baik, banyaknya informasi yang ada di sekililing objek wisata lebih menambah pengetahuan tentang keadaan alam taman nasional. Untuk sampai ke danau tiga warna, kita harus berjalan kaki melewati jalan tangga, tidak berapa lama sudah terlihat banyak lapak penjual makanan dan kain tenun. Di tempat itulah danau pertama, kita tinggal sedikit mendaki anak tangga di sebelah kanan kita. Oh iya, demi keamanan bersama, kita mesti mematuhi aturan pengunjung, tidak usah terlalu ambisius mengambil hasil foto terbaik. Karena saat saya datang, banyak pengunjung naik ke sisi tebing danau keluar dari batas yang sudah ditentukan. Padahal itu sangat berbahaya, jika terjadi sesuatu pasti merepotkan orang lain juga.

Pemandangan Danau Kelimutu.

Alih-alih keselamatan, saat itu bau pekat belerang sangat tajam, dan banyak pengunjung batuk-batuk termasuk kami berdua. Maka jika ke sini harus membawa masker. Karena pekatnya bau belerang, saya bersama istri memutuskan hanya sampai di area danau pertama dan kedua saja dan tidak sampai ke wilayah puncak, yang biasa pengunjung datangi untuk menyaksikan tiga danau yang berbeda – beda warna.

Hari semakin siang, saya kembali dan melanjutkan ke destinasi berikutnya yaitu Kampung Adat Wologai. Berjarak tidak terlalu jauh dari Taman Nasional Kelimutu, berada di Kecamatan Detusoko. Setelah masuk kompleknya, kami membayar Rp. 20.000 untuk 2 pengunjung kepada petugas yang menjaga persis di depan kantor desa. Selanjutnya, beberapa langkah berjalan terdapat pohon beringin yang tidak terlalu besar. Katanya pohon ini berusia 800 tahun seumuran dengan usia kampung adat. Arsitektur rumah-rumah panggung ini berbentuk kerucut, dan dibangun melingkar. Di tengah – tengah ada Tubu Kanga yaitu pelataran untuk menggelar ritual adat.

Saat kami di sana, banyak turis asing yang juga berkunjung dan berfoto ria di sana. Saya sempat untuk ikut berfoto sama gadis lokal yang sedang mengenakan pakaian Endelio.

Bukit Cinta.

Puas berkeliling tiba saatnya kembali ke Kota Ende, tapi jangan lupa mesti mampir ke Air Terjun Kede Bodu, letaknya berada di Kecamatan Ende Timur dan tidak jauh lagi untuk sampai kota. Lokasi masuk dari jalan utama ke lokasi air terjun tidak terlalu jauh, tulisannya sih 600 meter, tapi setelah saya lewati sepertinya lebih dari 2 kilometer.

Hampir tiba di lokasi yang jalannya semakin naik berkelok dan terus naik, bertemulah kami dengan segerombolan anak-anak, mereka bilang di lokasi wisata kemaren terjadi longsor sehingga tidak bisa sampai ke air terjunnya. Karena sudah terlanjur, ya lanjut aja. Kami memarkirkan motor lalu berjalan di jalan setapak yang kurang meyakinkan. Air terjun yang tinggi nan indah sudah terlihat, desiran air menggugah jiwa untuk segera menyeburkan diri yang sudah terlalu niat untuk mandi. Sesampainya di lokasi, ternyata benar, longsor membuat beberapa bangunan yang dulunya dibuat untuk wisatawan roboh, mungkin itu bangunan toilet dan kamar ganti? Permukaan telaga tertutup tanah, saya bersama istri hanya bisa mengambil gambar seadanya dan tidak memungkinkan untuk mendekat lagi karena terlalu sulit.

Jelajahi Pantai-Pantainya
Pantai Batu Biru.

Selama saya di sana, ada banyak pantai-pantai yang saya datangi. Berikut saya akan menjelaskannya satu per satu.

  • Pantai Arubara. Pantai ini letaknya persis di samping Gunung Meja, berjarak hanya kurang lebih 15 menit dari Kota Ende, yang menarik di sini adalah banyaknya bongkahan bebatuan ketika air sedang surut. Dari sini terlihat Kota Ende berlatar pegunungan terlihat rupawan.
  • Pantai Mbu’u. Pantai ini berlokasi di dalam kota. Sore hari banyak sekali warga sekitar yang bermain, di tepi pantai terdapat derasnya aliran sungai yang langsung mengalir ke laut, sehingga menyatulah keduanya menjadi air payau. Oh iya, spot berfoto paling bagus di sini mengarah ke Pulau Koa, sebuah pulau kecil yang menyendiri tidak jauh dari pantai.
  • Pantai Bitha. Tempat ini dibangun sebuah dermaga untuk bersantai ria. Ketika pagi banyak para penjual ikan di sini. Lokasinya bersampingan dengan Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman, so bagi para penikmat pesawat lepas landas dan landing, di sinilah rekomendasinya.
  • Pantai Ria. Berada di Kelurahan Kotaraja, pantai ini paling favorit para pengunjung. Biaya masuk Cuma Rp. 2.000 per orang, pengunjung bisa duduk di kafe-kafe atau bermain di pantai yang berpasir hitam. Bagi penikmat sunset disinilah tempatnya.
  • Pantai Nanganesa. Pantai ini tak kalah indahnya, hamparan pasir hitam yang luas dan cendrung sepi pengunjung, birunya air laut lebih berasa di pantai ini. Jaraknya sekitar 15 menit dari Kota Ende, di sini tersedia lopo untuk duduk beristirahat.
  • Pantai Batu Biru. Lokasinya berada di Nangapanda dengan lama waktu tempauh 1 jam lebih dari Ende. Yang menarik di sini terdapat banyak batu-batu berwarna biru, biru toska atau hijau. Bentuk batunya bermacam-macam, berbentuk kotak, bulat ataupun lonjong. Di sini terdapat cafe untuk bersantai sekaligus dibuatkan ayunan di tepi pantai, sehingga instagramable untuk berfoto atau hanya sekedar berayunan menatapi Pulau Ende, sebuah pulau kecil di seberangnya. Tapi yang membuat sayang seribu sayang adalah batu-batu biru ini sudah diperjualbelikan oleh masyarakat sekitar, bisa dilihat berjajar tumpukan batu di pinggir jalan yang sudah dipisahkan menurut ukuran.
  • Bukit Cinta. Tidak jauh dari Pantai Batu Biru terdapat sebuah bukit di pinggir pantai. Lha, ini kan bukan pantai ya? Iya, sih, tapi kan dari atas bukit kita bisa melihat pantai di bawahnya sekaligus birunya laut yang ditengah-tengahnya ada Pulau Ende. Untuk ke sini tidak terlalu sulit, cukup parkir motor lalu mendaki sekitar 10 menit.
  • Pantai Batu Cincin. Sebuah bukit batu yang bolong berada perseis di tepi pantai, disebutlah Pantai Batu Cincin. Untuk mnyusur tempat ini ada jalan setapak yang jaraknya tidak jauh dari Bukit cinta, saya bersama istri jalan kaki menyusuri jalan setapak yang jaraknya kurang lebih 1 km.

Begitulah sedikit kisah mengenai perjalanan saya di Flores. Semoga teman-teman semua menjadi tertarik untuk berkunjung dan tentunya mengeksplorasi Flores lebih jauh lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.