Berwisata Alam di Air Terjun Grojokan Sewu Tawangmangu

0
607
Pose pengunjung di wisata Alam Air Terjun Grojokan Sewu.

Sebagai negara kepulauan sekaligus negara tropis, Indonesia memiliki beragam tempat wisata. Wisata air terjun pun tak sedikit jumlahnya. Dari Sabang sampai Marauke tersebar merata, mulai dari yang ukurannya kecil hingga sangat tinggi dan besar. Satu di antara lokasi wisata air terjun yang juga diminati untuk dikunjungi masyarakat adalah Air Terjun Grojokan Sewu. Air terjun itu terletak di lereng Gunung Lawu, Desa Sepanjang, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Akan tetapi, masyarakat cenderung menyebutnya sebagai Air Terjun Tawangmangu atau Air Terjun Grojokan Sewu Tawangmangu.

Nama Grojokan Sewu, menurut warga, diambil dari Seribu Pecak. Pecak adalah penyebutan satuan jarak yang digunakan pada zaman dahulu. Ukuran Pecak menggunakan ukuran satu telapak kaki orang dewasa. Jadi, seribu pecak berarti seribu telapak kaki orang dewasa. Hal itu bekaitan dengan ketinggian air terjun yang digunakan sebagai acuan penamaan. Secara akurat, ketinggian air terjun mencapai sekitar 81 m. Apabila diukur dengan satuan pecak, air terjun ini memiliki ketinggian mencapai 1000 telapak kaki orang dewasa. Selain karena ketinggiannya, penamaan seribu juga diambil dari debit air terjun yang cukup besar. Bahkan, saat musim kemarau pun, debit airnya tidak berkurang. Oleh karena itu, air terjun ini dinamai Grojokan Sewu yang berarti Pancuran Seribu atau seribu air yang mengalir jatuh ke bawah.

Pintu selamat datang.

Pintu masuk ke air terjun ini terdiri atas dua pintu, yaitu pintu atas dan pintu bawah. Saat masuk melalui pintu atas, pengunjung akan disambut oleh teriakan lucu kera-kera yang nangkring di atas pohon. Kera ini juga bisa ditemui pengunjung di pintu bawah, tetapi jumlahnya tidak banyak. Selain itu, pintu bawah banyak dihindari pengujung karena tidak ada lahan parkir yang memungkinkan sehingga pengunjung dengan kendaraan bus atau mobil cenderung memilih melalui pintu atas.

Tempat wisata ini pun bisa dicapai dari dua arah, yaitu Solo atau Madiun. Jika pengunjung berangkat dari Solo, jarak yang harus ditempuh sekitar 45 km dari arah timur, sedangkan dari Madiun, jaraknya sekitar 75 km dari barat daya. Jika sudah sampai di pintu masuk, pengunjung dikenai biaya sebesar Rp 18.500 untuk wisatawan domestik atau Rp 160.000 untuk wisatawan asing. Harga itu cukup terjangkau jika dibandingkan dengan pemandangan yang menakjubkan di dalam Kawasan Air Terjun Grojokan Sewu yang akan pengunjung dapatkan. Bahkan, pengunjung bisa sekaligus piknik dengan keluarga di lokasi air terjun. Jam bukanya yang setiap hari adalah mulai pukul 06:00 – 17:00 membuatnya disukai oleh masyarakat sebagai pilihan wisata keluarga.

Suasana pengunjung yang memadati area wisata air terjun.

Pada kawasan air terjun, pengunjung bisa melakukan beberapa aktivitas, baik yang berkaitan dengan alam, maupun wisata kuliner. Aktivitas yang bisa dilakukan meliputi wisata konservasi hutan. Sebagai tempat konservasi, flora di dalam kawasan air terjun sangat dilindungi dengan baik. Flora itu meliputi pinus, kemlandingan, gunung, gondang, dan puspa. Sementara itu, fauna yang dikonservasi meliputi kera, tupai, dan burung.

Oleh karena itu, pengunjung akan banyak menjumpai fauna yang dibiarkan berkeliaran karena itu merupakan bentuk tujuan dari konservasi yang dilakukan. Aktivitas kedua yang bisa dicoba adalah berinteraksi langsung dengan monyet liar. Bentuk interaksi yang bisa dilakukan hanya berupa say hello dari jarak yang cukup karena monyet ini bisa mengambil barang bawaan kita. Jadi, pengunjung harus tetap waspada.

Air Terjun Grojokan Sewu.

Aktivitas utama yang tidak boleh dilupakan adalah menikmati kesegaran air terjun melalui sungai yang mengalir di bawahnya. Sensasi sejuknya ‘disiram’ oleh air terjun langsung dari atas sayangnya dilarang untuk dilakukan, karena air terjun yang sangat deras dapat membahayakan pengunjung. Pengelola mengkhawatirkan apabila pengunjung tertimpa bebatuan yang terbawa oleh air terjun dari atas.

Setelah atau sebelum menikmati kesegaran air terjun, pengunjung juga bisa mencoba berkuda. Bahkan, pengunjung sudah bisa menyewa kuda ini sejak pintu masuk jika merasa berat untuk meniti tangga masuk karena jumlah anak tangga untuk mencapai air terjun itu sebanyak kurang lebih 1250 anak tangga. Selain itu, Kawasan ini juga menyediakan sensasi mancakrida, seperti flying fox. Biaya untuk naik wahana itu hanya sebesar Rp 11.000. Wahana mancakrida lainnya adalah rafting. Sayangnya, tidak semua hari wahana itu dibuka.

Setelah berlelah-lelah berwisata di dalam area air terjun, pengunjung bisa menyantap kelezatan sate kelinci. Lezatnya serat daging kelinci yang berpadu dengan sambal kacang membuat lidah pengunjung tak berhenti berdecak keenakan. Sayangnya, di sini sate kelinci hanya bisa disantap dengan lontong. Para penggemar nasi mungkin bisa membawa bekal nasi pribadi dari rumah.

Oh iya, di air terjun ini juga terdapat mitos yang dipercayai oleh masyarakat bahkan pengunjung yang akan datang. Mitosnya berasal dari jembaatan yang ada di sana. Jika dilewati oleh pasangan kekasih, mereka diperkirakan akan putus setelahnya. Akan tetapi, jembatan ini justru menjadi titik yang menarik untuk berfoto. Mitos itu tidak berlaku bagi pasangan yang sudah menikah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.