Bertandang ke Candi Plaosan dan Candi Gana

0
158
Candi Palosan dipotret dari luar.

Kalau jalan-jalan ke Yogyakarta, pasti tak lengkap jika tak medatangi aneka candi. Namun, ternyata ada beberapa candi yang meski tidak berada di Yogyakarta, tetapi masih dekat dengan Kota Jogja. Bingung kan?

Maksudnya, candi ini secara administratif tidak terletak di Provinsi DIY tetapi bisa dijangkau dengan mudah dari pusat kota. Candi ini adalah Candi Plaosan yang terletak di wilayah Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Nah ternyata wilayah Prambanan itu terbagi menjadi 2, yakni Prambanan Sleman dan Prambanan Klaten. Saya baru tahu saat rekan saya mengajak saya ke candi ini sebelum berjalan-jalan ke Candi Prambanan.

Untuk menuju Candi Plaosan, sebenarnya kita juga harus menuju jalan ke arah pintu masuk Candi Prambanan atau yang dikenal sebagai Jalan Candi Sewu. Dari jalan ini, kita bisa lurus saja menuju daerah yang disebut Bugisan. Candi Plaosan tidak jauh kok dari Candi Prambanan, letaknya juga berada di pinggir jalan.

Bangunan utama Candi Plaosan Utara.

Sebelum saya ke Candi Plaosan, saya mampir sebentar ke sebuah candi kecil yang bernama Candi Gana. Candi ini berada di seberang candi sewu yang berada di dalam perkampungan penduduk. Sayangnya, bentuk candi ini sudah tidak utuh dan menyisakan ceceran bekas bangunannya saja. Menurut informasi yang ada, candi ini dibangun pada abad ke-9 Masehi yang hampir bersamaan dengan candi lain pada masa Dinasti Syailendra. Candi ini sendiri bercorak agama Buddha.

Perjalanan pun saya lanjutkan ke Candi Plaosan. Sesampainya di sana, suasana masih sepi. Saya harus membayar tiket masuk sebesar Rp 3.000. Saya sangat takjub memulai petualangan dari pintu masuk. Ternyata candi ini adalah kompleks candi yang cukup luas. Sama seperti Candi Prambanan yang terdiri lebih dari satu buah candi.

Uniknya lagi, ternyata candi ini sebenarnya terdiri dari dua kompleks, yakni Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Candi Plaosan Kidul sudah banyak yang hancur dan belum diketahui memiliki induk. Sementara, Candi Palosan Lor memiliki dua candi induk yang berada di sisi utara dan di sisi selatan. Induk candi di sisi utara menggambarkan tokoh wanita sedangkan pada sisi selatan meggambarkan tokoh pria.

Relief yang masih terlihat jelas padfa reruntuhan candi.

Candi-candi utama tersebut berdiri di atas kaki setinggi 60 cm tanpa selasar. Ini cukup unik juga karena biasanya candi-candi yang ada memiliki selasar yang cukup luas. Maka, tiadanya selasar pada Candi Plaosan ini juga menjadi ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan candi lainnya. Keistimewaan lainnya adalah adanya hiasan kepala naga pada pangkal pipi tangga yang menuju pintu. Detail dari hiasan ini cukup jelas. Hiasan motif ini berbeda dengan candi lain yang memiliki hiasan sulur pada pipi tangganya. Hiasan sulur baru saya temukan pada bingkai pintu candi dengan motif bunga.

Saya naik dan turun candi utama dan berkeliling ke ceceran arca serta reruntuhan candi yang sudah tidak utuh lagi. Bencana letusan Merapi yang pernah menerjang daerah ini juga menjadikan kerusakan candi semakin besar. Meski demikian, jika dipotret dari beberapa sisi, candi ini tampak indah. Terlebih, pemotretan ini dilakukan pada sore hari.

Saya mencoba masuk ke bagian dalam candi. Ternyata, ada dua bagian utama pada candi induk. Tiga ruangan berada di bawah dan tiga lainnta berada di tingkat dua. Wah, ini juga menjadi keistimewaan lantaran saya baru tahu bangunan dalam candi juga dibuat bertingkat. Di dalamnya, terdapat beberaap arca Buddha yang menghadap pintu.

Lantaran ruangan dalam yang gelap, saya pun segera keluar lagi. Mengambil beberapa foto candi Buddha yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Hindu. Sebuah kisah sejarah yang unik menggambarkan toleransi antarumat beragama pada zaman dulu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.