Bernostalgia Nuansa Tempo Dulu di “Uklam-Uklam Kayu Tangan” Malang

0
568
Nuansa jadul sangat terasa di Kayu Tangan.

Akhir Agustus ini, Kota Malang memiliki hajatan unik. Bertajuk Uklam-Uklam Kayoetangan (Jalan-Jalan di Kayu Tangan), acara unik ini telah dinanti oleh masyarakat luas, terutama warga Kota Malang. Saya sebagai warga kota juga turut menantikan gelaran dengan konsep Malang Tempo Doelo tersebut. Sebenarnya, acara semacam ini sudah ada beberapa waktu silam tetapi harus vakum selama beberapa tahun.

Kayu Tangan dipilih sebagai lokasi gelaran lantaran wilayah ini merupakan salah satu kawasan cagar budaya yang memiliki banyak bangunan heritage. Wilayah ini juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi pertama di Kota Malang dan telah menjadi ikon wisata budaya sejak dahulu kala. Kayu Tangan juga menyimpan cerita mengenai berbagai perkembangan Kota Malang, mulai masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, revolusi fisik, hingga kemerdekaan.

Untuk mendukung acara ini, maka sepanjang Jalan Basuki Rahmat, dari sisi utara Alun-Alun dilakukan penutupan jalan. Di sepanjang jalan itu, dibangun berbagai tenant dengan nuansa jadul yang menghadirkan kembali nuansa Kayu Tangan tempo dulu.

Pedagang makanan tradisional.

Berbagai pedagang makanan, minuman, dan pakaian pun menyemarakkan gelaran ini. Saya tertarik dengan pedagang gulali yang merupakan jajanan tempo dulu yang dicetak dengan aneka bentuk. Hanya perlu merogoh kocek antara Rp3.000 hingga Rp5.000 rupiah untuk bisa menikmati panganan ini. Ada pula berbagai jajanan pasar yang kini mulai jarang ditemui, semacam gethuk lindri, ongol-ongol, dan cenil. Tak hanya makanan, aneka olahan sinom – salah satu minuman tempo dulu – dan jamu juga banyak dijual. Uklam-uklam Kayu Tangan pun akhirnya menjadi sarana untuk melestarikan budaya kuliner nusantara, terutama yang dulu dijual di Kayu Tangan.

Uniknya, saya baru tahu ada beberapa makanan blesteran, alias peranakan antara makanan tradisional Malang dengan makanan tradisional Belanda. Salah satunya adalah semur, olahan daging sapi yang dimasak dengan tomat dan bawang. Walau ibu saya hampir setiap bulan memasakkan untuk keluarga saya, baru di Uklam-Uklam Kayu Tangan ini saya tahu makanan enak tersebut adalah akulturasi dengan budaya Belanda. Yang dijual di salah satu kedai di sana. Selain semur, ada pula macaroni schotel – kue berbahan margarine, susu, dan keju – yang dijual di festival ini. Bahkan, sebuah hotel yang terletak tak jauh dari Kayu Tangan mengadakan parade makanan blesteran tersebut.

Warung Tempo Doeloe dengan pelayan berbaju meneer Belanda.

Untuk lebih mendukung hidupnya nostalgia akan masa lalu Kayu Tangan, para pedagang dan pengunjung pun diharapkan menggunakan baju jadul dengan aksesoris yang mendukungnya. Maka, kala saya berjalan-jalan di sepanjang Kayu Tangan tersebut, saya melihat banyak meneer dan noni Belanda yang hilir mudik. Rupanya, mereka adalah para pedagang makanan yang menawarkan sampel makanan mereka secara gratis.

Selain kuliner, beberapa atraksi budaya juga ditampilkan. Tari topeng Malangan, yang menjadi ikon kota ini menjadi salah satu tontonan wajib yang harus diikuti. Namun, saya lebih tertarik melihat pertunjukan layar tancap yang digelar di depan salah satu toko buku di jalan ini. Ada film dokumenter mengenai Presiden Soekarno dan beberapa film menarik lain yang sangat sayang untuk dilewatkan. Beberapa media cetak dan elektronik yang ada di Kota Malang juga turut berpartisipasi dengan mengadakan pentas seni pertunjukan musik keroncong di beberapa panggung yang telah dibangun.

Sebuah kafe yang berada di Kayu Tangan menyuguhkan konsep heritage.

Nostalgia akan masa lampau di Kayu Tangan semakin sempurna kala ada lomba permainan ketangkasan zaman dulu yang dipertandingkan. Mulai dari lomba egrang, balap sarung, dan sebagainya. Tak sekadar lomba tempo dulu, berbagai permainan ketangkasan tradisional pun juga bisa dinikmati di sini. Saya senang sekali kala melihat para turis asing mencoba permainan gasing dan panah tradisional. Mereka sangat antusias ikut larut dalam keseruan adu ketangkasan dengan beberapa anak-anak yang turut bermain. Bukan perkara mudah lho untuk bisa melakukan kegiatan tersebut dengan baik. Nyatanya, walau permainan-permainan tersebut sudah mulai tergeser oleh zaman, tetapi memainkannya, terutama di kala senja sangatlah mengasyikkan.

Uklam-uklam Kayu Tangan juga menjadi sarana rekreasi bagi beberapa warga yang ingin melepas penat. Saya melihat ada banyak sekali keluarga yang membawa serta anak-anaknya untuk berfoto di ikon jadul seperti bangunan kuno dan kendaraan kuno yang terparkir sepanjang jalan tersebut. Jadi, berjalan-jalan di sepanjang Kayu Tangan kala event ini digelar adalah pengalaman tersendiri ketika berwisata ke Kota Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.