Berlibur di Pulau Mandeh, Sumatera Barat

0
892
Berasa pulau pribadi, senangnya.

Pada liburan semester empat lalu, saya dan seorang teman merencanakan liburan bersama melepas rindu. Kami memutuskan untuk berlibur di sekitaran Sumatera Barat, karena kami berdua adalah mahasiswa perantauan, saya di Jatinangor dan dia di Surabaya. Pada acara ini, kami jadwalkan untuk dilakukan selepas idulfitri. Bukan hanya kami berdua, beberapa orang teman saya juga ikut serta pada perjalanan ini. Kami berangkat dengan menggunakan satu mobil dengan diisi oleh total sebanyak tujuh orang.

Dari awal keberangkatan, kami belum memutuskan ke mana tujuan dari perjalanan ini, lalu kemudian akhirnya saya menyarankan untuk ke pantai, maklum saja, di Jatinangor hanya ada gunung, sedangkan saya sudah rindu dengan aroma laut. Saat itu kami sudah di perjalan menuju Pariaman yang terdapat tempat wisata laut. Salah seorang teman saya menemukan ide perjalanan yang lebih bagus, yaitu ke Painan. Mengunjungi pulau di sana, yang menurut review di internet pemandangannya indah, dan akhirnya kami memutar arah kembali menuju Painan.

Saat sudah di Painan dan mendekati daerah pantai, saya dan teman-teman beristirahat sejenak untuk membeli cemilan dan ke kamar kecil. Disanalah kami dihampiri oleh seorang bapak-bapak yang membawa brosur perjalanan wisata Pulau Mandeh. Kami tertarik, tapi karena tidak ingin tertipu, kami memilih untuk lebih berhati-hati.

Akhirnya kami menemukan paket wisata yang sesuai dengan kantong mahasiswa. Harganya Rp 550.000 per tujuh orang, hasil tawar-menawar teman saya yang awalnya dari Rp 700.000. Paketnya menyediakan perahu yang membawa kami ke enam pulau berbeda, seperti Pulau Setan, Pulau Sironjong Gadang, Pulau Sironjong Ketek, Hutan Mangrove, dan lainnya. Lumayan murah menurut saya, mungkin karena bukan sedang musim liburan.

Kami pun dituntun menuju tepi pantai untuk menaiki perahu yang sudah disediakan. Perahu ini bukan perahu tradisional yang masih di dayung, tapi sudah bertenaga mesin dan yang membawanya pun sudah berpengalaman, jadi tingkat keselamatannya tidak perlu dikhawatirkan, karena dalam satu perahu hanya ada kami bertujuh tanpa wisatawan lain, rasanya sangat menyenangngkan. Kami bebas melakukan apa saja dan bergerak kesana-kemari.

Saya pun tak melewatkan kesempatan ini untuk duduk di ujung kapal dan menikmati percikan air laut di kaki saya. Hari itu kami sangat beruntung, karena cuaca sedang cerah dan pemandangan sangatlah indah, belum sampai 10 menit di lautan saja, saya rasanya sudah tidak ingin pulang.

Lalu kami diturunkan di pulau pertama yang menyenangkannya adalah perjalanan ini tidak ada batasan waktunya, jadi kami bisa sepuasnya menikmati pulau yang kami kunjungi. Karena kebetulan sudah jam makan siang, di pulau pertama ini kami memutuskan untuk mengisi perut, dan baiknya si bapak membawa kami ke warung makan yang bisa dipesan paketan, jadi lebih murah dan tentu saja dengan menu makanan laut yang masih segar.

Memegang langsung ubur-ubur.

Selesai makan siang kami memutuskan jalan-jalan sebentar di sepanjang pulau, dan di sana kami menemukan seekor ubur-ubur, setelah dilihat-lihat lagi bukan cuman seekor, tapi ada banyak ternyata. Itu adalah pengalaman pertama saya memegang langsung ubur-ubur, dan ternyata tidak menyengat seperti yang ada di film Spongebob, tapi saya juga tidak betah memegangnya terlalu lama, karena berbau amis dan lengket.

Setelah itu, kami berlanjut ke pulau berikutnya, yang mana di sana kami tidak diturunkan di tepi pulau, melainkan perahu diberhentikan di tengah-tengah laut. Di sinilah kami berkesempatan untuk mencoba segarnya air laut. Menyenangkan tentu saja, bisa melihat ke bawah laut dan merasakan kesejukan air yang masih jernih. Berenang bebas karena memang saat itu sangat sepi, tapi karena masih ada pulau selanjutnya yang harus dikunjungi, jadi dengan berat hati saya harus kembali naik ke perahu.

Akhirnya sampai di tujuan akhir kami, yaitu di hutan mangrove. Di sini kami mengitari rawa-rawa yang terlihat indah, tapi sayang saya menemukan banyak sampah-sampah bekas makanan wisatawan, sedih rasanya. Pesan untuk para wisatawan, tolong jaga kebersihan dan bawa pulang sampah sisa kalian.

Di sinilah kami diberi kesempatan untuk memebersihkan diri, karena adanya sungai dan beberapa tempat seperti bilik yang disewakan seharga Rp 2.000-3.000 per orang nya, tapi teman saya menemukan bilik yang gratis, jadi tergantung keberuntungan masing-masing.

Sunset on the boat.

Setelah bersih dan segar kembali, kami dibawa menuju daratan. Tidak terasa ternyata sudah sore, dan saya diberikan kesempatan untuk melihat pemandangan sunset dari perahu. Ini adalah perjalanan yang menyenangkan menurut saya, apalagi dapat merasakannya bersama dengan teman-teman yang sudah lama tidak saya jumpai. Melepas rindu dan membuat memori menyenangkan bersama. Silahkan berkunjung dan nikmati sebagian kecil dari keindahan alam Indonesia di Sumatera Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.