Berkunjung ke Candi Ceto Bagai Berkunjung ke Negeri Khayangan

0
487
Gerbang Candi Ceto.

Negeri Khayangan adalah istilah untuk menggambarkan kehidupan manusia imajiner yang berada di atas awan. Tapi jangan salah lho, negeri khayangan itu nyata adanya. Di manakah gerangan? Adalah Candi Ceto yang berada di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Candi ini berada di lereng gunung Lawu dengan ketinggian 1.497 meter di atas permukaan laut.

Ceto berasal dari kata dalam bahasa Jawa “Cetho” yang berarti ‘jelas’. Dari candi Ceto yang berada di ketinggian ini memang dapat menyaksikan pemandangan di bawahnya dengan sangat jelas bila cuaca cerah. Dan karena berada di ketinggian inilah, gumpalan awan telah terbentuk. Sehingga berada di Candi Ceto dan dikelilingi oleh awan rasanya bagaikan berada di negeri khayangan, hehe.

Candi Ceto merupakan candi yang bercorak agama Hindu dan diperkirakan dibangun pada masa kerajaan Majapahit. Candi Ceto juga merupakan salah satu candi tertinggi di Indonesia bersama dengan Candi Arjuna, Candi Gedong Songo, dan Candi Ijo.

Keunikan dari candi ini adalah bentuknya yang berupa teras-teras dan strukturnya yang bertingkat-tingkat atau disebut dengan istilah punden berundak. Saat ditemukan, candi ini berbentuk sebuah reruntuhan dengan 14 teras yang memanjang dari barat ke timur. Struktur yang bertingkat tersebut diduga merupakan kultur budaya nusantara dengan Hinduisme-nya.

Selain napak tilas sejarah, berkunjung ke Candi Ceto juga mendapat sajian panorama alam yang luar biasa. Hamparan kebun teh yang hijau memesona di bawah dan gugusan bukit-bukit sekitar Gunung Lawu di sisinya. Udara di sini juga sangat sejuk dan mententramkan hati.

Candi Ceto merupakan salah satu tempat wisata yang cukup populer di Karanganyar. Sebab ia berdekatan dengan tempat wisata yang sudah melegenda sejak dahulu yaitu Air Terjun Tawangmangu atau Grojokan Sewu. Saya bersama mbak Maya pertama kali mengunjungi Candi Ceto juga usai mengunjungi air terjun tersebut atas rekomendasi pedagang makanan yang kami temui di terminal Tawangmangu.

Rute menuju ke Candi Ceto sebenarnya sangat mudah. Perjalanan bisa dimulai dari pusat kota Solo menuju Karanganyar. Ikuti saja petunjuk arah menuju ke Air Terjun Grojogan Sewu. Tepat sebelum Grojogan Sewu terdapat papan arah menuju Candi Ceto. Jika menggunakan transportasi umum, dari terminal Tawangmangu, kami naik bus jurusan Karangpandan. Lanjut lagi naik bus jurusan Kemuning.

Waktu itu kami terjebak lama di terminal Tawangmangu karena hujan deras tak juga berhenti. Dalam perjalanan ke Kemuning, kami diberitahu oleh penumpang lainnya bahwa kami akan kemalaman. Jadilah sore itu kami tinggal di rumah warga di Kemuning, di rumah ibu Tini yang tak kan kami lupakan kebaikan beliau.

Kami keluar dari rumah bu Tini di pagi yang syahdu. Ditemani gerimis yang menari di udara. Udara dingin masih membalut pori-pori kulit kami. Kami berjalan melewati kebun teh menuju pasar Kemuning guna mencari sarapan. Perjalanan sekitar 1 kilometer dengan jalan menanjak. Lalu setelah kenyang, kami naik ojek menuju Candi Ceto. Tarif ojek Rp 20.000.

Pemandian Saraswati.

Jalan dari Kemuning menuju Candi Ceto sangat curam. Namun pemandangan di sisinya sangat indah dan memanjakan mata bikin kami lupa akan jalan yang menyeramkan, hehe. Gerimis masih terus menari. Pemandangan di bawah tak lagi nampak jelas karena tertutup hujan dan sukses membuat kami merasa sedang di Negeri Khayangan.

Kami menunggu hujan reda di warung kopi sambil menyantap mie dan kopi yang panas. Mantap jiwa rasanya di suasana seperti itu. Lalu datanglah rombongan bapak-bapak dari komunitas pecinta benda-benda bersejarah yang berjumlah empat orang. Satu kompleks dengan Candi Ceto, juga ada Candi Kethek dan Pemandian Saraswati. Karena hujan yang tak juga berhenti, kami berenam (mbak Maya, saya, dan empat orang Bapak tadi) memutuskan untuk menuju destinasi berikutnya, yakni ke Candi Kethek dan Pemandian Saraswati.

Candi Kethek.

Jalan menuju Candi Kethek cukup menantang. Kami harus tracking menyusuri bukit. Banyak pohon pinus yang saya khawatir dia rubuh di cuaca hujan seperti saat itu. Sementara di sisi satunya adalah jurang. Juga beberapa monyet mendadak muncul. Bikin hati jadi deg-degan saja.

Cuaca yang dingin menjadi tidak terasa lagi. Sebab energi panas yang dihasilkan tubuh saat berjalan mengimbanginya. Kami tak lagi kedinginan dan sepanjang jalan kami berbincang-bincang banyak hal sehingga menambah pengetahuan kami. Perjalanan bersama pecinta sejarah kali ini sangat menyenangkan, karena mereka antusias berbagi ilmu kepada kami yang fakir ilmu ini.

Candi Ceto hinga saat ini juga masih difungsikan sebagai tempat peribadatan. Ada sesajen yang diletakkan di hampir setiap pelataran. Dan bila ingin memasuki pelataran ini, pengunjung harus melepas alas kaki. Candi Ceto adalah salah satu saksi bisu dari keindahan dan kemegahan kerajaan zaman dahulu. Berkunjung kesini sama sekali tidak rugi. Jadi, kapan Sobat Travelblog akan berkunjung ke Candi Ceto yang bagaikan Negeri Khayangan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.