Berburu Senja di Mercusuar Sembilangan Bangkalan

0
659
Pemandangan Senja dari Mercusuar Sembilangan.

Sejak adanya Jembatan Suramadu, travelovers jadi lebih mudah untuk melancong ke Pulau Madura dan mejelajahi isinya. Apalagi trek Pulau Madura yang tidak macet menjadi salah satu pulau favorit saya untuk berwisata menggunakan sepeda motor, meskipun panasnya sangat terik. Sekarang sudah mulai dibenahi dan mulai terekspos berbagai tempat wisata tersembunyi lainnya, seperti pulau-pulau ciamik, wisata bekas pertambangan kapur, pantai, dan wisata sejarah.

Berbicara tentang sejarah, tidak jauh dari pusat Kota Bangkalan yang mana adalah kota pertama yang kita pijak seusai dari Suramadu, terdapat satu bangunan bersejarah peninggalan Belanda, yaitu Mercusuar Sembilangan. Warga setempat Desa Tanjung Piring juga menjulukinya dengan nama Mercusuar Bangkalan. Dari pusat kota, tempat ini hanya berjarak kurang lebih 6 km saja, jadi untuk travelovers yang hanya memiliki kunjungan singkat di Madura, bisa berkunjung ke mercusuar ini karena sangat dekat dari Jembatan Suramadu.

Mercusuar Sembilangan merupakan peninggalan dari Z.M Williem III pada tahun 1879 yang mana juga tertulis di badan mercusuar berwarna putih tersebut. Dulunya mercusuar ini digunakan sebagai alat bantu navigasi kapal-kapal yang hendak melewati selat madura, pada saat itu saya juga masih melihat kapal-kapal tersebut lewat dan saat malam mercusuarnya memunculkan sinar yang berarti masih berfungsi sampai saat ini. Ternyata fungsinya sekarang adalah membantu kapal sekitar agar tidak tertabrak batu atau lainnya.

Pemandangan dari Jendela Mercusuar.

Travelovers bisa berkunjung setelah menyantap sedapnya Bebek Sinjay yang terkenal akan sambal pencitnya itu sambil menunggu waktu sore hari. Kenapa? Karena pada saat saya ke sana, sudah memasuki waktu sore dan ternyata itulah waktu terbaik mengunjungi mercusuar ini.

Pada pukul 16:00, saya dan teman-teman mulai menuju ke arah Sembilangan, kurang lebih dalam waktu 20 menit kita sudah sampai di area mercusuar. Bangunan peninggalan ini menjulang tinggi sampai 78m! Tidak ada tiket masuk untuk mengunjungi mercusuar ini, cukup bayar biaya parkir sebesar Rp. 3.000. Menurut info yang saya dapatkan dari penjaga parkir, marcusuar ini memiliki 16 lantai, saya dan teman-teman mengiyakan dan segera naik ke atas. Cukup terengah-engah, sembari kadang beristirahat kami memandang lanskap pantai dari jendela mercusuar pada setiap lantainya, jangan lupa bawa minum ya ketika hendak mencapai puncak mercusuar ini, karena lumayan melelahkan.

Mercusuar Sembilangan.

Nah, sesampainya di atas kita akan disuguhkan pemandangan cantiknya Pantai Sembilangan ketika senja. Dari puncak mercusuar terlihat gamblang Selat Madura, pantai sekitar mercusuar, hutan mangrove, dan lahan-lahan yang digunakan untuk bertani  garam. Apalagi saat itu terlihat jelas megahnya matahari yang hendak terbenam, ditambah semilih angin Madura. Kapal-kapal muatan silih berganti melewati area ini, sesekali terlihat kapal kecil mungkin kapal nelayan setempat. Ini sangat cocok untuk travelovers yang suka hunting foto lanskap apalagi kita bisa menjamah angle bird eye tanpa harus memiliki drone! Saya sesekali memotret sana sini, karena tidak ingin kehilangan momen terbaik ketika langit saat itu sedang cantik-cantiknya.

Menyadari bahwa hari semakin gelap, kami memutuskan untuk turun mercusuar dan bergegas pergi area ini karena harus melanjutkan perjalanan selanjutnya. Kawasan ini cocok untuk travelovers yang suka mengunjungi tempat wisata tak biasa, alias berburu wisata sejarah. Selain itu, karena tempatnya jauh dari keramaian cocok juga untuk singgah sekedar beristirahat atau bersantai di sore hari. Kapan lagi merasakan melihat Madura dari atas?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.