Bendungan Rolak Songo: Tempat Wisata Mini dan Peninggalan Bersejarah Belanda di Mojokerto

0
765
Pintu Air Dam Rolak Songo berjumlah sembilan.

Warga Mojokerto pastinya sudah tidak asing lagi dengan bendungan Rolak Songo. Bendungan yang bukan sekadar bendungan biasa ini berlokasi di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Disebut Rolak Songo sebab ia memiliki 9 pintu air di mana, dalam Bahasa Jawa, songo berarti sembilan. Sudah rahasia umum bahwa dam ini merupakan penghubung antar dua wilayah; yakni Mojokerto dan Sidoarjo.

Selain sebagai penghubung wilayah, dam ini juga berkembang sebagai tempat wisata yang dikelola oleh penduduk setempat. Hasil alam dari dam ini juga menjadi nilai wisata tersendiri. Misalnya, ikan-ikan segar yang siap dijual baik langsung ke konsumen maupun ke distributor. Sebagai lahan rezeki warga sekitar, di area sekitar juga dibuka warung-warung kecil sederhana yang menjajakan berbagai makanan, mulai dari makanan ringan hingga makanan berat.

Agar tidak bosan, pengunjung dapat memilih tempat di sisi timur dam sehingga dapat sekalian menikmati pemandangan sekitar dengan lebih teduh. Semakin banyak pedagang yang ada membuat jumlah pengunjung di Rolak Songo semakin meningkat. Sedikit disayangkan tidak semua pengunjung mengetahui sejarah di balik bendungan bersejarah ini. Wawasan mengenai tempat wisata kiranya diperlukan untuk menambah nilai kawasan tersebut. Di sisi lain, akan ada nilai lebih jika kita berkunjung ke suatu tempat yang sekaligus menambah pengetahuan kita, terutama dari sisi sejarahnya.

Corong Pabrik di seberang pemandangan.

Pada tahun 1850, muncul ide rencana pembuatan bendungan atas dasar inisiatif dari warga Surabaya. Rancangan teknis dibuat oleh Ir. C. Geil. Biaya yang disediakan pemerintah kolonial sebesar 2,6 juta gulden. Selanjutnya di tahun 1852, pengerjaan bendungan yang awal mulanya bernama Stuwdaam Lengkong ini dimulai. Dengan mengerahkan tenaga rakyat secara paksa oleh Bupati Kromodjojo Adinegoro, bupati ke lima Mojokerto yang menjabat pada tahun 1866 – 1894 masehi. Tahun 1857 pengerjaan Stuwdam Lengkong selesai. Kemudian Tahun 1892 lembaga Irrigatie Afdeling Brantas dibentuk dengan payung hukum Gouvernements Besluit di mana lembaga ini berfokus pada sistem pengoperasian irigasi Sungai Brantas.

Pertengan tahun 1920, Rolak Songo mengalami renovasi sebagai bentuk perbaikan bangunan. Pasca kemerdekaan, Dam Rolak Songo dibongkar total karena mengalami kerusakan cukup parah pada bagian pintu air saat terjadi perang kemedekaan. Kerusakan tersebut menyebabkan Sidoarjo dan Surabaya kebanjiran.  Ir. Sutami, Menteri PU berperan penting dalam pembuatan dam yang kemudian dinamakan Dam Lengkong Baru.

Pos pemantauan air Sungai Brantas.

Kurangnya perhatian masyarakat terhadap sejarah dam ini berdampak pada pelestarian peninggalan bangunan bersejarah. Padahal jika masyarakat lokal mau dan sepakat untuk memajukan tempat bersejarah ini, maka mereka juga yang akan mendapatkan manfaatnya. Antara lain semakin ramai pengunjung yang berdatangan dan menaikkan omzet penjualan mereka. Situasi sekitar dam ini juga terbilang asri sebab masih banyak pepohonan tinggi nan hijau yang beridi kokoh. Pengunjung tidak akan merasa kepanasan. Faktor keamanan sudah terjamin dengan terpasangnya pagar pembatas dan disertai penjaga yang berkeliling lokasi.

Sembari menimati jajanan yang tersedia, pengunjung juga dapat berswafoto dengan spot foto alami yang ditawarkan, tanpa harus mengekuarkan biaya yang mahal dan tidak perlu takut kantong menjadi kering di tanggal tua. Berbagai macam jajanan mulai dari pentol alias cilok, es tebu alami, kerupuk sambal, sampai makanan berat seperti nasi campur, rawon, dan bakso, semua ada di sini. Tak ketinggalan pula buah-buahan segar yang dijajakan pedagang sesuai musimnya. Dan yang terakhir, kenikmatan berwisata beramai-ramai bersama keluarga, orang terdekat, atau teman akan semakin lebih menyenangkan lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.