Belum Lengkap Ke Semarang Tanpa Ke Pasar Semawis

0
57
Pedagang membakar sea food yang akan saya santap.

Semarang adalah salah stau kota favorit saya dalam jalan-jalan. Selain banyak bangunan bersejarah, kota ini juga kaya akan tempat kuliner yang membuat lapar mata. Ketika berjalan-jalan ke Semarang, ada salah satu tempat yang sangat sayang untuk dilewatkan. Tempat itu bernama Pasar Semawis.

Sebenaranya, pasar ini tidak berada di sebuah bangunan pasar. Melainkan, berada di sepanjang Jalan Gang yang dekat dengan kawasan Pecinan Semarang. Kalau dari arah Kotalama Semarang, saya hanya tinggal berjalan kaki ke arah selatan atau ke arah Pasar Johar. Pasar ini baru dimulai pukul 6 sore atau saat makan malam tiba.

Baru tiba  di pasar tersebut, saya sudah terkejut. Ramai benar pengunjung yang datang sampai-sampai saya bingung akan memulai dari sebelah mana dahulu. Saya rasa, hampir sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Kota Semarang pasti menyempatkan diri datang ke sini. Parkiran pun penuh dengan motor dan mobil dari berbagai kota di Indonesia. Pendek kata, pasar ini benar-benar meriah.

Pengunjung yang sangat banyak.

Dengan tekad yang bulat, saya dan teman saya pun mulai masuk ke lokasi pasar. Tak dinyana, air liur saya semakin ingin menetes ketika saya menemukan penjual seafood yang dengan entengnya membakar olahan dagangannya dengan api yang membara. Bau bumbu madu dan kecap yang khas langsung menusuk hidung. Saking kepinginnya menyantap makanan tersebut, saya sampai ternganga. Tanpa pikir panjang, saya pun membeli beberapa ekor cumi untuk disantap.

Sayang, saya harus menelan kecewa. Tak ada tempat duduk yang tersisa untuk bisa saya gunakan. Alhasil, saya pun memilih untuk membungkus makanan tersebut dan menyantapnya di hotel nanti. Tak apalah, yang penting saya sudah menemukan keinginan saya.

Namun, tidak dengan teman saya yang masih mencari santapan apa yang kira-kira bisa ia nikmati dari pasar ini. Akhirnya, ia memilih beberapa gorengan dan sate taichan sebagai pengganjal perut di malam itu. Sebenarnya, masih ada banyak pedagang makanan yang kulinernya siap untuk dinikmati. Ada olahan nasi goreng, nasi soto, ayam dan ikan bakar, serta beberapa masakan khas Semarang lainnya.

Berbagai magnet kulkas dengan miniatur bungkus aneka makanan.

Kendalanya, kami datang memang saat malam Minggu di saat pengunjung benar-benar penuh. Jangankan untuk mencari tempat duduk, untuk berjalan saja kami harus berdesakan. Makanya, jika datang ke tempat ini lagi, sebaiknya datang lebih awal atau sekitar sore hari. Di samping masih sepi, kita bisa lebih leluasa untuk menikmati apa saja suguhan yang ada di Pasar Semawis ini.

Tak sekadar makanan, aneka minuman pun juga tersedia. Ada ronde dan STMJ dan beberapa olahan buah seperti sup buah. Ada juga salad buah yang ditata cantik sedemikian rupa. Malah, saya menemukan pedagang yang menjual pernak-pernik yang bisa digunakan sebagai oleh-oleh yakni tempelan kulkas yang dibuat dengan replika bungkus aneka makanan olahan. Satu buah pernak-pernik ini dijual seharga Rp 6.000. Saya membeli beberapa buah yang saya gunakan sebagai oleh-oleh.

Semakin malam, makin banyak pengunjung yang datang. Beberapa diantara mereka juga menyempatkan diri untuk nongkrong di warung kopi yang berada di bangunan berlanggam Tionghoa. Walau harus susah payah berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan berdesakan, saya cukup puas. Kunjungan saya ke Semarang tidak sia-sia. Terlebih, beberapa pengamen jalanan yang menyanyikan lagu-lagu Jawa menggema dan menyemarakkan pasar tersebut. Pasar ini hanya buka pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Dan belum lengkap ke Semarang jika belum ke Pasar Semawis ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.