Belajar Membuat Gerabah di Desa Wisata Melikan, Kabupaten Klaten

0
186
Proses produksi gerabah.

Kabupaten Klaten selalu memberikan pengalaman dan kenangan manis bagi siapa saja yang mengunjunginya. Karena Kabupaten Klaten tak hanya kaya akan destinasi wisata alam saja, tapi juga kaya akan destinasi wisata edukasi yang bisa memberikan ilmu yang berharga dan tidak bisa kita pelajari di bangku sekolah ataupun kuliah.

Salah satu destinasi wisata edukasi yang ada di Kabupaten Klaten yang sangat keren yaitu Desa Wisata Melikan. Desa wisata yang satu ini sangat unik karena hampir semua warga yang hidup di sana pandai membuat gerabah. Desa Wisata Melikan berada di Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Untuk menuju ke sini lumayan mudah karena letaknya dekat dengan Jalan Raya Wedi-Bayat atau Jalan Sunan Pandanaran, kurang lebih 30 menit perjalanan dari pusat Kota Klaten.

Ada Apa Saja di Desa Wisata Melikan Ini? 

Ternyata Desa Wisata Melikan ini adalah sentra pengrajin gerabah di Kabupaten Klaten. Setelah memasuki gerbang Desa Wisata Melikan, kalian akan melihat toko-toko penjual gerabah yang berjejer di sepanjang pinggir jalan. Berbagai macam bentuk gerabah dengan ukuran yang bervariasi menghiasi sepanjang jalan menuju Bayat, sebuah kecamatan yang ada di Kabupaten Klaten.

Hasil gerabah desa wisata melikan.

Meskipun secara administratif Desa Wisata Melikan masuk dalam Kecamatan Wedi, tapi gerabah d isini lebih sering disebut sebagai gerabah Bayat. Menurut masyarakat sekitar, adanya tradisi pembuatan gerabah di desa wisata ini tak terlepas dari peran Sunan Panandaran atau yang sering juga disebut Sunan Tembayat (Pangeran Mangkubumi). Beliau adalah putra dari Ki Ageng Pandan Arang, Bupati pertama Semarang).

Hampir sebagian besar pengrajin gerabah di Desa Wisata Melikan ini berada di Dusun Pagerjurang. Setelah memasuki gapura Dusun Pagerjurang, kalian akan melihat berbagai macam bentuk gerabah, baik yang sudah jadi ataupun yang sedang dalam proses pembuatan. Dan salah satu keunikan gerabah di desa wisata ini terdapat pada cara pembuatannya yang menggunakan teknik putaran miring. Umumnya di daerah lain dalam pembuatan gerabah menggunakan roda putar datar.

Nah kenapa bisa dinamakan teknik putaran miring? Karena dahulu pengrajin gerabah ini mayoritas perempuan, yang mana perempuan zaman dahulu masih memakai pakaian adat Jawa yaitu kebaya dan kain jarik. Karena orang Jawa terkenal akan kesopanannya, maka dalam pembuatan gerabah, mereka masih tetap menjunjung tinggi nilai kesopanan dengan cara duduk miring atau tidak membuka paha (ngangkang) dalam bekerja.

Teknik putaran miring dalam membuat gerabah.

Ditambah lagi dengan cara duduk miring tadi ternyata juga menambah kemudahan bagi para perempuan yang memakai jarik karena mereka tak perlu repot menekuk kakinya. Karena itulah teknik tersebut dinamai putaran miring. Itulah filosofi teknik putaran miring yang lahir dari kebudayaan dan adat istiadat setempat. Meskipun saat ini banyak pengrajin perempuan yang tidak memakai kain jarik, tapi teknik putaran miring ini masih dilestarikan hingga sekarang.

Keunikan teknik putaran miring ini ternyata membuat penasaran seorang profesor dari Jepang yaitu Prof. Kawasaki. Beliau adalah alumnus Jurusan Patung dari Kyoto City College of Art dan juga seorang dosen di Fakultas Seni Kyoto Seika University. Akhirnya beliau tertarik membuat sebuah laboratorium gerabah di Desa Wisata Melikan ini. Selain bisa berbelanja gerabah, di desa wisata ini kita bisa melihat langsung proses pembuatan gerabah dan juga bisa belajar langsung membuat gerabah. Untuk biaya membuat gerabah sekitar Rp 10.000-Rp 20.000 per orang dan hasilnya bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Jadi, ayo berwisata ke Desa Wisata Melikan! Karena, selain bisa berwisata, kita juga bisa mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman yang sangat berharga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.