Belajar Dari Desa Wae Rebo

0
253
Suasana Pagi Di Desa Wae Rebo.

Desa Wae Rebo, desa yang menjadi permata wisata Indonesia. Sepertinya sudah banyak orang di negeri ini yang tahu. Tapi hanya sebatas tahu. Tidak sampai dikenal lebih dekat. Justru wisatawan asing yang memaknai desa ini lebih tinggi. Bisa dilihat dari jumlah wisatawan asing yang lebih banyak dibandingkan wisatawan lokalnya.

Perjalananku ke sini dalam rangka wisata mengelilingi flores melalui jalur darat atau biasa disebut overland. Perjalanan dimulai setelah selesai wisata di Labuan Bajo. Aku ditemani oleh 2 orang teman kerjaku. Perjalanan aku bilang sangat jauh. Dari awalnya perjalanan yang melewati jalanan raya besar hingga akhirnya kami berbelok ke jalan yang lebih kecil. Kami sepertinya melewati sebuah desa. Selama perjalanan banyak sekali kulihat anak berjalan pulang dari sekolah. Kala itu mereka berpakaian seragam pramuka. Satu hal baru yang kudapatkan ketika itu adalah anak-anak di sana sangat ramah. Kalau kita melambaikan tangan mereka sontak membalasnya. Bahkan ada yang rela lari mengejar mobil kami yang berjalan. Lucu iya. Terharu bahagia juga iya. Mereka bisa bahagia dari hal sekecil itu.

Kain Tentun dan Kopi untuk Dibeli.

Setelah melewati desa, jalan semakin sempit dan pemandangan berubah menjadi tepi pantai. Ya… kami berjalan tepat berada di tepi pantai. Ketika ada mobil berpapasan, salah satu harus berhenti terlebih dahulu untuk memberikan jalan. Untungnya waktu itu kami hanya berpapasan dengan 2 mobil saja. Tidak berkali-kali berhenti jadinya. Cukup lama menyusuri pantai, akhirnya kami beristirahat di tempat makan. Menunya adalah ikan bakar dengan nasi merah. Penyajian nasi merah di daerah situ memang sudah menjadi hal yang biasa. Selesai makan, perjalan dilanjutkan. Karena terlalu kenyang, kami semua tertidur. Ketika kami terbangun, mobil sudah berhenti di sebuah rumah penginapan tempat para wisatawan berisitirahat sebelum maupun sesudah ke Desa Wae Rebo. Sekitar penginapan itu ternyata berfungsi sebagai parkiran umum. Perjalanan semua kendaraan berakhir di situ.

Perjalanan selanjutnya adalah menuju titik awal pendakian ke Desa Wae Rebo. Dari parkiran umum kita masih harus berjalan kaki cukup jauh di jalan beraspal. Tetapi tenang saja, bagi yang bosan berjalan, di sana ada jasa ojek motor yang siap membantu mengantar hingga ke titik awal pendakian. Kala itu kami memilih berjalan kaki. Begitu sampai di titik awal pendakian, kami istirahat sebentar. Medan perjalanan selanjutnya tanah berbentuk zig-zag. Pesanku, siapkan fisikmu dengan benar. Setelah cukup lama menempuh medan zig-zag tersebut, akhirnya kami temukan medan yang sudah berubah menjadi landai.

Aktivitas Para Ibu Menyiapkan Makan Malam.

Kaki terus kami pacu melangkah. Perjalanan menjadi jauh lebih ringan. Tidak lama, kami mulai disuguhi dengan pemandangan indah. Perbukitan hijau di depan mata. Tenaga seperti terisi kembali. Semangat mendorong perjalanan kami. Akhirnya kami sampai di sebuah bangunan adat. Melalui bangunan ini kami bisa melihat Desa Wae Rebo yang sudah dekat di bawah. Tidak berlama-lama berdiam di situ, kami berjalan lagi hingga akhirnya sampai di tujuan kami.

Sesampainya di desa, kami diajak menuju rumah tetua di sana terlebih dahulu untuk mendapatkan izin. Setelah izin didapatkan, kami dibawa ke salah satu rumah adat yang dipakai sebagai penginapan semua pengunjung. Bentuk rumah adat di sini melingkar. Jadi, semua pengunjung tidur bejajar melingkar mengikuti bentuk bangunan. Kopi dan teh disajikan sebagai penyambut. Kami meminum sajian tersebut sambil ikut mendengarkan penjelasan mengenai Desa Wae Rebo ini yang diceritakan oleh salah seorang penduduk desa kepada wisatawan asing. Satu hal yang membuat aku salut adalah penduduk desa tersebut fasih berbahasa Inggris. Ternyata meskipun desa ini jauh dari dunia luar, penduduknya tetap merajut ilmu bersekolah di luar desa. Ketika hari sekolah, mereka akan turun. Sebaliknya, ketika hari libur, mereka akan naik kembali ke Desa Wae Rebo.

Suasana Penginapan.

Setelah itu, kami mulai menjelajah keramian di luar. Melihat kegembiraan dari banyaknya aktivitas yang dilakukan, aku menjadi ikut bahagia. Para ibu-ibu memasak menyiapkan makan malam pengunjung. Anak-anak bermain berlarian ke sana ke mari. Laki-laki yang dewasa melakukan olah raga. Para tetua duduk santai sambil melihat semua yang terjadi di sini. Kami memutuskan untuk bermain-main dengan anak-anak sambil mengabadikan keindahan di sana. Rata-rata anak di sana tidak pemalu. Mereka bisa berinteraksi dengan para pengunjung seperi sudah kenal lama. Jadi, kami yang sebagai pengunjung merasa desa ini sungguh ramah sekali. Sedikit naik ke luar dari gerbang posisi datang, bisa dilihat kebun kopi penduduk. Hasil kopi ini dijual di dalam penginapan bersamaan dengan beberapa hasil kain tenun penduduk desa. Harganya bervariasi.

Malam tiba, semua pengunjung masuk ke dalam penginapan. Makan malam segera dihidangkan. Cara penyajiannya tradisional sekali. Piring kosong beserta sendok garpu dibagikan terlebih dahulu. Setelah itu beberapa panci berukuran kecil mulai diedarkan bergiliran. Panci tersebut ada yang berisikan nasi dan ada yang berisikan lauk. Makanan diambil masing-masing individu ke piring masing-masing. Setelah selesai silahkan dilanjutkan ke orang di samping anda. Terakhir minuman diedarkan. Setelah makan malam selesai, para pengunjung dipersilahkan menikmati malam di luar atau beristirahat. Kami mencoba mengintip keluar mencari bintang. Sayangnya bintang tidak ada malam itu. Hanya ada angin dingin. Jadi, kami putuskan beristirahat saja karena besok perjalanan masih berlanjut.

Suasana Pagi Di Desa Wae Rebo.

Esok paginya, kami sempatkan merasakan suasana pagi di sini sebelum pulang kembali. Seperti pada umumnya, suasana pagi jauh lebih sepi dibandingkan siang. Ketika matahari sudah mulai berada di atas kepala, kami putuskan kembali. Para pengunjung lainnya juga sudah berpergian pulang.

Mengunjungi desa ini membuatku mendapatkan banyak kebahagiaan. Satu nilai terpenting yang kupegang adalah kebahagiaan itu lebih banyak didapat dari kesederhanaan. Sekian ceritaku di Desa Wae Rebo. Sampai jumpa di artikel berikutnya.

Salam Bahagia Itu Sederhana!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.