Apakah Moto-Backpacking Cara Aman untuk Traveling?

0
137
Pemandangan Alam di Jalan Alternatif.

Sebelumnya …  Hari minggu, tanggal 15 Maret 2020, saya masih melakukan perjalanan atau traveling ke pantai-pantai di Anyer. Ada dua pantai yang dikunjungi dari tiga pantai yang saya rencanakan sebelumnya. Saya melakukan perjalanan dengan cara Moto-Backpacking.

Moto-Backpcaking ini adalah cara melakukan perjalanan dengan menggunakan moda transportasi berupa sepeda motor. Orang yang melakukan cara ini akan menjelajahi setiap daerah untuk mencapai destinasi wisata yang direncanakan tanpa harus khawatir memesan tiket transportasi.

Walaupun  saya masih melakukan perjalanan di daerah sendiri alias tidak keluar kota, saya hampir seharian keliling dengan cara Moto-Backpacking ini untuk mencapai daerah wisata Anyer. Rute perjalanan kali ini tidak seperti biasanya karena saya melewati Kota Serang dan menuju perbatasan Anyer-Cilegon.

Dari mulai awal masuk Kecamatan Anyer, saya sudah melihat banyak kendaraan, baik mobil atau pun motor, yang memadati beberapa pantai di Anyer. Bahkan ada juga beberapa Bus Pariwisata yang terparkir di pantai yang akan saya masuki, yaitu Pantai Pasir Putih Bandulu.

Salah Satu Pantai di Anyer yang Terlihat Sepi.

Setelahnya … Saya baru mengetahui imbauan pemerintah tentang social distancing ketika tiba di rumah pada malam hari. Ada beberapa berita di televisi dan media online yang menjelaskan tentang hal ini.

Dalam social distancing, saya seharusnya menghindari tempat-tempat umum yang sangat ramai dan harus berjaga jarak dengan orang lain agar tidak terinfeksi virus corona. Akhirnya, saya merasa khawatir dan mengingat-ingat lagi interaksi saya dengan orang lain selama di perjalanan dan ketika berada di pantai tadi siang.

Mungkin hari itu adalah hari keberuntungan saya karena saya tidak terlalu banyak berdekatan dengan orang lain. Di perjalanan, saya beristirahat di sebuah masjid yang tampak sepi di salah satu kampung yang saya lewati karena saya memilih jalur melalui perkampungan. Dan, ketika memasuki pantai, saya memang melewati beberapa kerumunan orang, tapi bisa dipastikan jaraknya lebih dari dua meter.

Hanya saja, setelah selesai berenang, saya memesan secangkir kopi dan cemilan di warung di pinggir pantai. Mungkin itu jarak yang cukup dekat bagi saya dengan pemilik warung. Kalau saja saya tahu, pastinya tidak akan memesan kopi dan hanya memakan bekal yang saya bawa dari rumah. Atau, menggunakan hand sanitizer terlebih dahulu.

Jalan Alternatif Menuju Daerah Wisata Anyer.

Jadi, apakah Moto-Backpacking ini cara aman untuk traveling?

Menurut saya, Moto-Backpacking lebih aman daripada menggunakan transportasi umum. Karena selama di perjalanan, saya benar-benar sendiri, tidak duduk berdekatan dengan orang lain seperti di bus atau kereta api. Saya juga bisa memilih tempat isitirahat untuk makan dan minum yang jauh dari keramaian. Tidak harus berkumpul seperti di stasiun kereta api atau terminal bus.

Dengan cara Moto-Backpacking, saya bisa mengkondisikan ketika akan mendekati tempat wisata. Saya bisa memilih tempat-tempat wisata mana saja yang kira-kira tidak terlalu ramai atau masih memungkinkan untuk berjaga jarak. Misalnya, ketika akan memasuki pantai, dari kejauhan saya bisa melihat-lihat terlebih dahulu pantai mana yang tidak terlalu banyak wisatawannya dan memarkirkan motor jauh dari keramaian.

Moto-Backpaking berarti mengendarai motor sendiri melalui daerah-daerah yang saya ingingkan. Saya tidak harus mengikuti jalur yang biasa transportasi umum lalui. Artinya, saya bisa melewati jalan alternatif yang tidak seramai jalan utama. Melalui jalan alternatif, biasanya pemandangannya juga lebih bagus.

Salah Satu Masjid di Jalan Alternatif.

Tiga hal itu yang mungkin menjadi nilai plus dari Moto-Backpacking. Namun, perlu diingat bahwa sebagai warga negara yang baik, saya harus mengikuti imbauan pemerintah untuk selalu berdiam diri di rumah. Imbauan social distancing ini sebenarnya akan berakhir sampai tanggal 29 Maret 2020. Hanya saja, di beberapa daerah ada yang memperpanjang waktu imbauan ini. Bahkan, sekarang imbauannya berganti menjadi physical distancing yang mengharuskan saya benar-benar tidak melakukan kontak dengan orang lain.

Disamping itu, baik di Jakarta ataupun di berbagai destinasi popular di Indonesia telah menutup beberapa tempat wisatanya. Seperti di Bali yang telah menutup 30 tempat wisata. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya pertemuan orang dalam jumlah besar dan juga untuk membersihkan tempat tersebut dengan disinfektan. Jadi, saat ini percuma saja saya melakukan Moto-Backpacking untuk mengunjungi suatu destinasi wisata jika ternyata saya tidak bisa memasuki tempat-tempat wisatanya.

Melakukan Moto-Backpacking memang seru, tapi akan lebih seru dan aman lagi jika saya melakukannya saat Indonesia sudah terbebas dari penyebaran virus corona dan aman untuk traveling lagi. Untuk saat ini lebih baik saya berada di rumah saja, bekerja di rumah, dan beribadah di rumah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.