Aneka Mainan Anak-Anak Tempo Dulu di Sudut Kota Tua Jakarta

0
650
Mainan Tradisional
Pak Suparman & Mainan Anak-anak yang dijualnya.

Landmark Kota Tua Jakarta merupakan kawasan wisata yang selalu diserbu pengunjung dari berbagai kalangan dan usia karena bisa dikategorikan sebagai tempat wisata yang lengkap. Selain tempat wisata sejarah, kawasan ini juga mempunyai banyak destinasi wisata murah meriah berbasis kreatifitas yang sangat layak dan menarik untuk dikunjungi. Tidak heran jika kawasan yang memiliki luas sekitar 1,3 km persegi dan masuk dalam wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat ini selalu ramai pengunjung, tidak hanya pada hari libur.

Magnet utama destinasi Kota Tua Jakarta adalah bangunan-bangunan tua peninggalan pendudukan penjajah VOC-Belanda yang masih berdiri kokoh dengan label masing-masing sebagai museum bersejarah yang tentunya menyimpan beraneka macam keilmuan dan pengetahuan.

Gedoeng Jasindo
Gedoeng Jasindo.

Tapi jangan salah! Selain menyimpan banyak pernak-pernik sejarah, destinasi Wisata Kota Tua Jakarta juga menyajikan wisata kuliner yang beragam, dari kelas kafe yang nyaman dan tenang seperti Cafe Batavia yang menempati gedung tertua di Jakarta setelah Museum Fatahilah sampai yang kelas jalanan ala spot  kulineran rakyat yang harganya tentu pasti bersahabat.

Di samping kanan Cafe Batavia berjajar aneka pedagang kuliner rakyat seperti bakso,  soto, mie ayam dan lain-lainnya, sedangkan di sekitaran lapangan  Fatahilah banyak sekali pedagang yang berjualan aneka barang, termasuk kulineran seperti gorengan, pecel, Es Krim dan Selendang Mayang yang juga siap menyegarkan tenggorokan ditengah terik Jakarta.

Kota Tua Batavia
Gedung Pos Indonesia.

Selain kulineran, kreatifitas pelaku pariwisata di area wisata Kota Tua juga patut mendapat apresiasi, antara lain keberadaan sepeda ontel yang bisa disewa untuk berkeliling lapangan fatahilah, kreatifitas pesulap-pesulap jalanan serta para pengamen jalanan yang mempunyai skill luar biasa.

Sedangkan dari luar kawasan lapangan fatahillah, khususnya di jalan Lada yang menuju stasiun Kereta Api Jakarta Kota, tepat di pintu keluar lapangan fatahillah, berjajar dokar atau delman khas Betawi yang siap mengantar pengunjung berputar-putar Jakarta!

Gasing Bambu
Aneka mainan anak-anak jadul yang ini namanya gasing bambu.

Disepanjang jalan Lada ini sampai mendekati Stasiun Kereta Api Jakarta Kota berjejer pedagang yang menjual aneka barang dagangan, tidak hanya kulineran rakyat saja, tapi juga mainan anak-anak, baju-kaos, batu akik, aneka perhiasan aksesoris dan satu lagi yang paling menarik perhatian saya adalah aneka mainan anak-anak tradisonal jadul alias jaman dulu yang terbuat dari bambu dagangan bapak-bapak setengah baya berbaju merah.

Sudah puluhan tahun saya tidak pernah bertemu apalagi memainkan aneka mainan anak-anak jadul seperti gasing, seruling, otok-otok, pletokan, peluit bambu dan yang lainnya yang dulu di era awal-awal 80-an menjadi mainan favorit saya dan teman-teman.

Meskipun hampir semua mainan-mainan tersebut cara memainkannya bersifat individual, tapi unik dan anehnya! Dulu kami memainkanya selalu rame-rame alias secara komunal bersama dengan banyak teman-teman. Ini jelas berbanding terbalik dengan situasi terkini anak-anak jaman now yang lebih akrab dengan gadget.

Dalam gadget yang berisi aneka macam game atau permainan yang harus dilakukan secara komunal alias rame-rame, tapi riilnya di mainkan sendiri-sendiri bahkan dari tempat paling pribadi dan paling jauh dari dunia komunal yaitu di sudut kamar.

Aneka mainan jadul
Seruling, Tok-tok, peluit burung, gasing.

Karena tertarik sekaligus penasaran dengan aneka mainan anak-anak jadul yang secara bergantian terus dimainkan dan diperagakan oleh si Bapak yang ternyata asli dari Gunung Kidul, Jogjakarta tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk duduk di hadapan si-bapak setengah baya yang mengaku bernama lengkap Pak Suparman tersebut. Sambil bertanya seluk beluk aneka mainan yang dijual Pak Parman, saya juga ikut mencoba beberapa jenis mainan yang puluhan tahun lalu sering saya mainkan itu.

Luar biasa! Ini sangat luar biasa bagi saya! Entah mimpi apa saya tadi malam, hari ini di salah satu sudut Kota Tua Jakarta yang penuh dengan catatan sejarah, tanpa diduga bisa bernostalgia dengan mainan-mainan unik masa lalu.

Di sini, di lapak Pak Suparman, saya seperti tersedot oleh pusaran mesin waktu yang membawa saya kembali ke masa silam, ke masa dimana dunia layaknya milik saya dan teman-teman semata. Dunia penuh warna dan canda yang begitu indah dengan berbagai permainan tradisonal yang unik.

Dari pertemuan dan obrolan singkat dengan Pak Suparman, ternyata Si Bapak telah puluhan tahun memproduksi sekaligus menjajakan berbagai mainan anak-anak tradisional yang dibuat dari bahan bambu di seputaran Kota Tua Jakarta.

Sayang, di Kota Tua Jakarta yang juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia) yang memiliki luas 1,3 km persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat itu hanya Pak Suparman satu-satunya pedagang mainan anak-anak tempo dulu tersebut. Entah sampai kapan Pak Suparman tetap bisa bertahan untuk memproduksi sekaligus menjajakan berbagai produk kreatif mainan anak-anak tradisonal tempo dulu  salah satu bagian tak terpisahkan dari budaya kita (tempo dulu).

Yuk, ikut berpartisipasi aktif untuk melestarikan aneka mainan-mainan tradisonal yang sangat mengasyikkan saat dimainkan itu! Caranya? 

Saya memulai dengan membeli barang-barang dagangan Pak Suparman, masing-masing satu buah per-jenisnya untuk koleksi sekaligus buah tangan. Ini sebagai  media perkenalan bagi anak-anak saya di Banjarmasin dan yang terpenting, sebagai support untuk Pak Suparman agar terus bertahan menjadi “pelestari”  berbagai mainan anak-anak tradisional dari bahan bambu yang mulai langka tersebut,  sebaiknya tidak usah menawar harganya yang hanya berkisar antara 7000-10.000 rupiah tersebut.

Anda ikut tertarik untuk bermain? Singgah saja ke Jalan Lada di seputar Destinasi Wisata Kota Tua Jakarta. Di sepanjang jalan itu, biasanya Pak Suparman tidak henti-hentinya memperagakan cara memainkan aneka mainan anak-anak tradisonal berbahan bambu tersebut secara bergantian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.