Aneka Kreasi Unik di Museum Layang-Layang Jakarta

0
309
Layang-layang berbentuk capung.

Bulan lalu, saya kembali mengunjungi Jakarta untuk menghadiri sebuah acara temu blogger dan konten kreator nasional. Sebelum acara berlangsung, saya terlebih dahulu menyempatkan diri untuk berwisata sejenak ke sebuah museum yang menurut saya asyik sekali. Museum ini terletak tak jauh dari venue acara yang saya ikuti, yaitu di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Saya memulai perjalanan dengan bus TransJakarta dari penginapan di daerah Kota Tua, Jakarta Barat, menuju Terminal Blok M untuk transit dengan bus jurusan Pondok Labu. Sesampainya di sebuah mall yang akan dijadikan tempat acara, saya hanya tinggal menyeberang jalan. Berjalan kaki sekitar 400 meter, saya akhirnya sampai di tempat yang saya tuju.

Sebuah bangunan dengan tembok berbatu bata khas dengan ukiran Jawa yang sangat kental. Sepasang gapura bentar menyambut saya sebelum masuk ke museum tersebut. Inilah Museum Layang-Layang Indonesia yang menjadi salah satu museum kebanggaan Kota Jakarta. Di pagi itu, suasana masih terbilang sepi. Saya diarahkan oleh petugas keamanan untuk menemui seorang staf museum.

Staf tersebut dengan mudah saya jumpai di kantornya. Ia meminta saya untuk membayar tiket masuk seharga Rp. 15.000. Tiket ini termasuk pula fasilitas membuat satu buah layangan yang bisa dibawa pulang. Ah senangnya! Sayang, saya tak punya waktu banyak jadi saya tak sempat untu mencoba membuat layang-layang. Mungkin lain kali ya.

Suasana bagian halaman Museum Layang-Layang.

Sebelum masuk museum, saya diarahkan terlebih dahulu untuk masuk ke ruang audio visual. Di ruangan yang mirip sebuah balai ini, saya diperkenankan untuk duduk bersila sambil melihat tayangan mengenai sejarah dan berbagai jenis layang-layang yang ada di Indonesia.

Dari video ini, saya baru paham jika layang-layang bukanlah bentuk permainan anak-anak semata. Layang-layang juga berfungsi sebagai media dalam upacara religi dan budaya. Makanya, kita mengenal berbagai festival layang-layang di berbagai tempat di Indonesia. Tak hanya itu saja, layang-layang juga digunakan sebagai alat untuk mencari ikan serta penelitian. Sungguh, saya baru tahu akan beragamnya fungsi layang-layang ini. Makanya, di ruangan audio visual ini, terdapat pula berbagai macam gambar anak-anak SD dan TK mengenai fungsi dan kegunaan layang-layang.

Selepas menonton tayangan mengenai layang-layang, saya segera beranjak ke bagian museum. Di sini, terdapat aneka ragam layang-layang dengan bentuk yang sangat besar. Ada yang berbentuk hewan seperti capung, kuda, burung, gajah, dan lain sebagainya. Ada pula layang-layang yang berbentuk kendaraan kereta. Namun, perhatian saya lebih tertuju kepada layangan berbentuk wau yang sering digunakan oleh Bangsa Melayu. Layang-layang ini kerap diidentikkan sebagai simbol Negara Malaysia.

Aneka layang-layang tersebut dipajang di bagian serambi depan. Saya sangat takjub meski kondisi cuaca yang panas dan hujan serta tiupan angin yang cukup besar, aneka layang-layang itu masih tetap utuh. Beranjak ke bagian dalam, saya menemukan lebih banyak varian layang-layang yang dipajang. Ada layang-layang yang terbuat dari anyaman bambu. Ada pula layang-layang yang dihias dengan motif batik dan naga. Beberapa layang-layang dari Tionghoa juga dipajang di sini.

Bagian dalam ruang galeri.

Melihat rumitnya pembuatan layang-layang tersebut, saya jadi bertanya dalam hati. Kira-kira berapa lama ya layang-layang itu dibuat? Ternyata, dari penuturan staf museum, pembuatan layang-layang tergantung dari bentuk dasar layang-layang tersebut. Semakin rumit bentuknya, maka semakin lama pula waktu pengerjaannya.

Perjalanan saya masih berlanjut ke ruang galeri dan lukisan mengenai layang-layang. Di sini, koleksi lebih banyak memuat aneka layang-layang dengan tokoh pewayangan. Tokoh Pandawa, Rahwana, dan Punakawan menjadi motif utamanya. Berbeda dengan koleksi pada ruangan sebelumnya, layang-layang di ruangan ini berbentuk lebih seragam. Hanya motif yang beraneka ragamlah yang menjadi pembedanya.

Tur singkat ini saya akhiri dengan menyantap kudapan ringan yang dijual di kantin museum. Sambil merasakan sepoi angin yang berembus menerpa pepohonan rindang, jalan-jalan ke museum ini amatlah pas di tengah panasnya Kota Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.