Ada Apa dengan Lasem? Jalan-jalan di Lasem Part 2

0
666
Cu An Kiong, keleteng tertua di Pulau Jawa.

Sudah baca tulisan sebelumnya tentang Jalan-Jalan di Lasem Part 1? Nah sekarang, mari  cari tahu kelanjutannya. Ada apa saja sih di Lasem itu?

Jalan-Jalan di Lasem Part 2

Aku cerita ulang lagi ya, sedikit tentang Lasem, kota kecil di utara Jawa. Tidak jarang orang yang masih suka bertanya: “Lasem itu dimana?”. Biasanya sambil bercanda aku akan bilang, “Pergi ke Rembang dan terus susuri jalur pantura. Kalau sudah melihat banyak ladang garam, jangan coba berkedip karena tak lama lagi kamu akan tiba di Lasem.”

Lasem memang merupakan kota kecamatan di Kabupaten Rembang, sekitar 12 km dari pusat Kota Rembang. Dengan luas wilayah 4.504 ha, di mana 505 ha untuk pemukiman, 281 ha lahan tambak, dan 624 ha hutan milik negara. Tidak terlalu luas, tapi Lasem menawarkan wisata yang berbeda.

Jadi ada apa lagi saja di Lasem? Ini dia list lanjutan tempat-tempat yang aku kunjungi di Lasem kemarin:

Rumah Pabrik Tegel

Saat berkunjung ke rumah-rumah tua di Lasem, aku selalu memperhatikan tegelnya yang unik. Tua, tapi cantik. Rupanya, inilah sumber asal tegel-tegel itu. Dari sebuah pabrik tegel yang memang berada di Lasem.

Rumah Tegel Lasem dulu sangat terkenal dan mengirimkan tegel-tegelnya ke wilayah Rembang, Juwana, Pati, Blora, Semarang, Kudus, hingga Surabaya. Sayangnya, kini pabrik tegel ini sudah tidak lagi memproduksi tegel-tegel cantik lagi. Meski begitu, mesin yang didatangkan dari Leipzig untuk membuat tegel-tegel cantik itu masih bisa kita temukan di sini. Lucunya,  meski nama pabrik ini adalah Pabrik Lie Thiam Kwie, tapi nama merek dagangnya adalah LZ yang merupakan nama mesin yang digunakan.

Rumah Tante Farida.
Rumah Tante Farida

Ini dia alasan kenapa sebaiknya menggunakan jasa tour guide lokal saat di Lasem. Berkat didampingi Mas Pop, aku jadi berkesempatan mengunjungi beberapa rumah warga, salah satunya Ibu Farida. Saat aku datang, tante berparas cantik ini kebetulan sedang menerima tamu.

Sambil menunggu, aku pun menatap sekeliling rumah, sebuah rumah tradisional Tiongkok Lasem yang lagi-lagi usianya sudah ratusan tahun. Yang disebut dengan rumah Tradisional Tiongkok Lasem umumnya memiliki gerbang memanjang, beranda utama yang mengadopsi kebudayaan Jawa, rumah utama, dan bangunan di samping rumah utama.

Usai menerima tamunya, Tante Farida pun mengajak kami mengobrol. Tante Farida kini hanya tinggal seorang diri dan lebih nyaman berada di bagian samping rumah daripada rumah utama. Rumah utama hanya ia bersihkan, tidak ia tempati dengan alasan takut. Usut punya usut, tamu yang sebelumnya datang adalah calon pembeli rumah. Jika bisa, Tante Farida ingin tinggal bersama anak-anaknya saja.

Sekilas memang terasa lebih baik sih. Tapi yang bikin aku sedih, umumnya pembeli rumah-rumah tua di Lasem hanya ingin mengambil kayu jati yang menjadi fondasi rumah dan tegel tuanya. Setelah itu biasanya rumah dibiarkan berantakan begitu saja. Sedih ya?

Cu An Kiong, keleteng tertua di Pulau Jawa.
Cu An Kiong

Kelenteng Cu An Kiong bukan saja Kelenteng tertua di Lasem, tapi diperkirakan juga yang tertua di Pulau Jawa. Kelenteng ini diperkirakan dibangun sekitar abad ke-16 oleh orang-orang Cina yang berlabuh di Lasem. Uniknya material bangunan tidak menggunakan kayu pada kapal yang memang umum digunakan untuk membangun kelenteng pada masa itu, tapi justru menggunakan kayu jati yang banyak tumbuh di Lasem.

Kelenteng ini terletak di Jalan Dasun no 19, Desa Soditan. Cu An Kion merupakan Kelenteng dengan dewa utamanya adalah Dewi Samudra. Tidak ada yang tahu pasti kapan persisnya kelenteng ini dibangun, tapi beberapa inskripsi menyebutkan bahwa kelenteng Cu An Kion dipugar pada tahun 1838. Jadi, sudah pasti bangunan kelenteng ini ada jauh sebelum tahun itu.

Lubang Candu di Lawang Ombo.
Lawang Ombo

Lawang Ombo yang berarti pintu besar juga dikenal sebagai rumah candu. Terletak di jalan Sunan Bonang, Desa Soditan, letak rumah ini memang tak jauh dari Sungai Lasem. Tak heran bila di dalam rumah ini terdapat sebuah lubang yang terhubung dengan sungai yang dahulu digunakan untuk menyelundupkan candu.

Sektiar abad ke-19 perdagangan candu memang cukup ramai. Candu memang kerap kali dikonsumsi oleh golongan rakyat jelata hingga kaum ningrat. Namum, ketika Belanda masuk ke Indonesia, candu menjadi hal terlarang. Itu sebabnya barang ini didistribusikan secara sembunyi-sembunyi.

Senja di Ladang Garam.
Pantai Caruban

Lasem juga memiliki wisata pantai mengingat lokasinya berada di jalur Pantai Utara Pulau Jawa. Salah satunya adalah Pantai Caruban yang katanya merupakan pantai paling hits di Lasem. Sebenarnya kunjungan aku ke pantai ini tidak sengaja. Yang sebenarnya kami incar adalah ladang garam yang berada tak jauh dari lokasi pantai ini.

Iya, sebagai kota di pinggir pantai, garam menjadi komoditi utama bagi warga Lasem. Menikmati senja di ladang garam dan di pantai bisa menjadi alternatif wisata saat berkunjung ke Lasem. Apalagi bila kamu mulai merasa lelah menikmati wisata sejarah yang umumnya ditawarkan di Lasem.

Beranda Rumah Opa.
Rumah Opa

Lo Geng Gwan, nama penghuni rumah yang terletak di Jalan Karangturi IV. Ketika aku berkunjung lima tahun lalu, Opa, begitu panggilannya, masih tinggal bersama Sri Khalawati Gunawan, alias Oma, yang merupakan adik kandungnya. Selain Opa, masih ada Mbak Minuk, asisten rumah tangga di rumah ini.

Rumah Opa seringkali menjadi salah satu tujuan yang diagendakan oleh Mas Pop saat di Lasem. Rumah yang diperkirakan berusia 300 tahun ini sudah turun temurun milik keluarga Opa. Kondisi rumahnya sendiri kini mungkin sudah kurang terawat, tapi bukan berarti tidak menarik untuk dikunjungi. Salah satu momen yang aku suka adalah bercakap-cakap dengan Opa yang kini sudah berusia 90-an.

Ngebatik di bawah pohon trembesi raksasa.
Pohon Trembesi

Spot terakhir yang dikunjungi sebelum pulang adalah mengunjungi pohon trembesi. Pohon raksasa ini kini menjadi salah satu spot favorit di Lasem.

Jenis pohon trembesi memang terkenal akan berukuran besar serta cabang dan ranting yang banyak. Di Lasem ada beberapa pohon trembesi, tapi pohon trembesi Raksasa yang terlekat di Desa Karasjajar ini memang terlihat paling juara.

Selain pohon trembesi, yang menarik di tempat ini adalah tempat bekerja pembatik dari Rumah Batik Pusaka Beruang. Konon, tak jarang digelar beberapa acara di tempat ini. Hmmm, menarik sekali kan ya?

Tiga hari dua malam di Lasem aku pikir akan mengobati rasa rindu. Tapi ternyata, kali ini aku salah. Aku malah semakin rindu. Masih banyak yang bisa di explore dari Lasem. Bagi kalian yang mau ke Lasem, sekali lagi aku sarankan untuk menggunakan jasa tour guide lokal ya. Biar puas blusukan-nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.