Ada Apa dengan Lasem? – Jalan-Jalan di Lasem Part 1

0
645
Pos Pondok Pesantren Kauman.

Ada apa dengan Lasem sampai aku terus-menerus berkata rindu pada kota kecil yang berada di sisi pantai utara Jawa ini? Semenjak kunjunganku di tahun 2014 lalu, aku berulang kali berkata ingin kembali ke kota ini. Baru Oktober 2019 lalu, akhirnya mimpi itu terwujudkan. Ada apa sih di Lasem ini, sampai aku betah ingin kembali? Dan apakah kembalinya aku ke Lasem akhirnya mengobati rasa rindu?

Jalan-Jalan Lasem Part 1

Lasem, kota kecamatan di Kabupaten Rembang ini memiliki julukan Tiongkok Kecil di Pulau Jawa bukan tanpa alasan. Hal ini dikarenakan Lasem merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di Pulau Jawa pada abad ke-14 dan ke-15. Perkampungan Tionghoa sendiri cukup banyak tersebar di kota ini dan menjadi salah satu daya tarik yang bikin aku ingin terus kembali ke sini.

4-6 Oktober 2019 kemarin akhirnya aku kembali lagi berkunjung ke Lasem. Berbeda dengan sebelumnya aku hanya berdua saja dengan suami dan menyewa jasa tour guide lokal, kali ini aku datang bersama rombongan sebuah tour. Beruntung aku lagi-lagi aku bertemu dengan Mas Pop, tour guide lokal yang dulu memanduku, kini lagi-lagi dia yang akan memandu rombongan kecil kami.

Jadi, kembali pada pertanyaan awal, ada apa dengan Lasem? Ke mana saja kunjunganku kali ini?

Rumah Merah
Rumah Merah Lasem.

Bertempat di Jalan Karangturi no 4/7, Rumah Merah menjadi tempat pertama yang aku kunjungi di Lasem kali ini. Ini adalah sebuah rumah perpaduan kombinasi gaya Tionghoa dan Kolonial Indies Belanda yang kini menjadi sebuah penginapan. Benar, selama 2 malam, aku akan menghabiskan waktu dengan bermalam di sini.

Jalan Karangturi sendiri merupakan kampung pecinan di mana hampir di sepanjang jalan ini berjejer manis rumah-rumah lawas bergaya tradisional Tionghoa serta Indies.  Ini adalah salah satu kawasan favorit aku di Lasem, di mana setiap pintu menarik untuk dijadikan tempat berfoto.

Yopia
Siek Tian Nio Membuat Yopia.

Kalau Jogja memiliki Bakpia, Lasem memiliki Yopia. Bedakah? Jelas beda dong. Yopia adalah kue kering berkulit tipis berisi gula Jawa. Sabtu pagi, aku sudah diajak berkunjung langsung ke rumah Siek Tian Nio, yang memproduksi Yopia. Sebuah rumah kono yang berada di kawasan Dusun Karangturi.

Sebagaimana ciri khas Lasem, Yopia merupakan makanan akulturasi antara budaya Tionghoa dan Nusantara. Makanan China bisa dilihat dari kulitnya yang dibuat dari terigu, sedangkan gula Jawa yang menjadi isian, khas Nusantara.

Tempe Mbah Sripah
Tempe Mbak Sripah.

Tempe dengan mudah bisa ditemukan di Indonesia, hampir tidak terkecuali. Tapi ada yang beda dengan tempe di Lasem. Tempe Mbah Sripah, namanya. Salah satu produsen tempe rumahan ini sudah ada selama 30 tahun, memasok sejumlah warung makan di Lasem.

Lantas apa keistimewaan Tempe Mbah Sripah ini? Tempe ini dibungkus dengan daun jati. Ini yang membuat umumnya tempe goreng yang ditemui di Lasem terasa renyah dan berbumbu gurih.

Pasar Sumbergirang

Tak lengkap rasanya bila berkunjung ke suatu kota tanpa mengunjungi pasar trasdisionalnya. Apalagi Pasar Sumbergirang ini tak jauh lokasinya dari rumah produksi Tempe Mbah Sripah. Jadi, apa saja yang aku temui di pasar ini?

Wedang Cemoe, menjadi daya tarik pertama aku begitu memasuki area pasar. Minuman hangat yang terbuat dari lada, adas, sereh, jahe, gula, dan kelapa muda tambah menarik karena disajikan dari kendi. Yang tak kalah menarik mata aku adalah rumput laut, atau lebih dikenal dengan ‘latoh’. Sebagai kota yang berada di pesisir laut, tak heran sih seharusnya aku melihat adanya rumput laut. Tapi karena ini pertama kalinya aku melihat rumput laut di pasar tradisonal, jangan heran kalau aku berlaku norak.

Pembatik Lasem di Nyah Kiok.
Batik Lumintu

Berburu batik jelas menjadi salah satu agenda utama ke Lasem. Batik Lumintu Lasem menjadi tempat singgah rumah batik pertama aku kali ini. Terletak di Jalan Sumberingin II No. 2, Lasem, Batik Lumintu ibarat rumah batik tua yang sempat tertidur pulas dan berusaha untuk kembali bangun. Rumah yang sudah berusia 200 tahun ini kini menjalankan usaha batiknya lewat Ekaningsih, yang berusaha melanjutkan usaha batik almarhum kakeknya dan sempat dilanjutkan oleh Kakak dari Ibundanya di Solo.

Motif yang ditawarkan di Batik Lumintu adalah motif-motif klasik Lasem. Mbak Eka bercerita sempat membuat batik cap agar harga bisa lebih terjangkau, tapi karena ada imbauan dari pemerintah setempat agar kembali melestarikan batik tulis, maka saat ini Batik Lumintu hanya menawarkan batik tulis.

Pondok Pesantren Kauman

Hal lain yang menarik perhatian di Lasem, bagaimana perbedaan sepertinya tidak menjadi sebuah masalah. Hal ini bisa terlihat dari bagaimana bangunan di Pondok Pesantren Kauman ini bergaya Tionghoa, dengan dominan warna merah. Tidak seperti pesantren lain yang umumnya berwarna hijau.

Tulisan berbahasa arab pun bersanding dengan tulisan bahasa Cina. Bahkan ada batik Lasem yang kental dengan gaya Tionghoa namun bertulisankan bahasa Arab. Batik ini adalah batik Pak Sigit, yang memang terkenal dengan batik Lasem-Tionghoa.

Pos Pondok Pesantren Kauman.
Batik Nyah Kiok

Sejak zaman dahulu Lasem terkenal dengan batiknya. Batik Lasem menjadi salah satu komoditi yang paling dicari sejak abad ke-19. Batik Tiga Negeri merupakan salah satu corak batik Lasem. Batik ini dibuat di 3 tempat, warna biru dari Pekalongan, warna sogan dari Solo, dan warna merah dibuat di Lasem. Warna merah Lasem yang seperti warna darah ayam ini menjadi salah satu ciri khas batik Lasem.

Meski kini motif batik semakin berkembang banyak, Batik Nyah Kiok masih hanya menawarkan koleksi motif klasik. Rumah Batik Nyah Kiok tertelak di Jalan Karangturi Gang VI, merupakan rumah batik milik Hadi Sutjahyo dan Lisyorini (Nyah Kiok). Usaha batik ini sempat dilanjutkan oleh keponakan mereka, Hartono, namun kini Rumah Batik Nyah Kiok dikelola oleh salah satu anak Nyah Kiok. Sayangnya tidak ada galeri batik di tempat ini. Tapi aku cukup puas kok menikmati rumah ini sambil foto-foto.

Masih ada banyak tempat menarik di Lasem yang aku kunjungi Oktober 2019 kemarin. Tapi karena daftarnya masih panjang, to be continue ke tulisan berkutnya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.