Acaraki: Jamu ala Kedai Kopi di Kota Tua

0
233
Kunyi Asam Saring.

Jamu. Minuman tradisional ini umumnya dijajakan oleh seorang wanita yang kerap dipanggil Mbok Jamu. Botol-botol yang sudah diisi jamu ditaruh di dalam bakul, dan siap berkeliling menjajakan jamu. Tak jarang mereka menggunakan kain dan kebaya saat bekeliling sambil berteriak “Jamu, jamu….”

Pemandangan jamu gendong, meski kini sudah tak banyak lagi, tentunya sudah tidak asing. Kita terbiasa mengenal jamu dengan cara penjualan seperti itu. Tapi kini, Acaraki mencoba menghadirkan jamu di era modern dengan cara yang baru.

Bertempat di Gedung Kerta Niaga 3, kawasan Kota Tua, Jakarta, tempat ini sekilas mirip dengan kedai kopi. Tapi bila kamu masuk ke dalamnya, alih-alih kamu menemukan menu kopi, kamu justru akan disuguhi minuman jamu.

Golden Sparkling.
Jamu New Wave by Acaraki

Ketika kamu memasuki area Acaraki, sekilas yang akan kamu rasakan adalah suasana kedai kopi pada umumnya.Layaknya kedai kopi, peralatan penyeduh kopi seperti french press, rok presso, aeropress, V60, hingga flair espresso maker ada di sini. Lho ini kedai kopi atau kedai jamu sebenarnya?

Jamu New Wave. Begitu mereka menyebut jamu yang ditawarkan di Acaraki. Dengan dua bahan dasar jamu sebagai pilihan, kunyit asam dan beras kencur, diracik menjadi minuman kekinian yang dipadu dengan soda, susu, serta creamer.

Lupakan soal pahitnya minum jamu bila berada di Acaraki. Bila kamu tak percaya, kamu bisa membuktikannya sendiri mencoba menu-menu yang tersedia di sini. Kamu bisa memesan Golden Sparkling, Jamu Batu, Bareskrim, Saranti, dan Berkesan. Tapi kalau misalkan kamu ingin mencicipi Kunyit Asam atau Beras Kencur, di Acaraki juga tersedia dengan 3 pilihan, yakni saring, tubruk, serta pekat.

Soal harga layaknya sebuah kedai kopi, satu gelas jamu di Acaraki dibandrol dengan harga berkisar 18 ribu hingga 30 ribu. Mahal? Sepertinya itu tergantung darimana kita melihatnya. Karena bahan baku yang digunakan di Acaraki menggunakan bahan lokal yang berasal dari berbagari daerah di Indonesia, seperti Sukabumi, Sidoarjo, Wonogiri, hingga Lampung.

Acaraki sendiri memiliki arti peracik jamu, dalam bahasa Sansekerta. Kata “Acaraki” tercantum dalam Prasasti Madhawapura, penginggalan Kerajaan Majapahit. Jadi, bila barista adalah orang yang meracik kopi, maka acaraki adalah orang yang meracik jamu.

Saranti.
Sudut-Sudut Cantik di Acaraki

Berada di Kawasan Kota Tua, tentunya memberikan nilai lebih untuk mendapatkan ambience yang berbeda. Susana bangunan tua dipadankan dengan gaya industrial sebagai bagian dari interior kafe membuat Acaraki menjadi nyaman sebagai tempat nongkrong. Apalagi ada sebuah rak dengan barang-barang jadul di satu sisinya, menjadi salah satu suduh spot foto yang menarik.

Layaknya sebuah kafe, Acaraki menjadi tempat yang asik untuk nongkrong. Peneranganya cukup baik, tidak terlalu terang, tapi juga tidak remang-remang. Percayalah, meski berada di gedung tua, tapi tidak ada kesan angker dari tempat ini. Dari sisi luasnya juga lumayan, karena Acaraki terdiri dari dua lantai.

Untuk menemukan Acaraki tidak terlalu sulit. Gedung Kerta Niaga 3 ini berada di seberang pintu masuk Museum Fatahilah. Masuk saja ke dalam gedung, ikuti lorongnya, kamu akan menemukan Acaraki di sebelah kanan, tak jauh dari pintu masuk gedung.

Menikmati jamu setelah berkeliling kawasan Kota Tua tentunya menjadi pilihan yang sulit ditolak. Biar bagaimana pun jamu bukan sekedar minuman tradisional, tapi jamu juga minuman kesehatan. Pastinya badan akan kembali segar usai kamu menikmati segelas jamu di Acaraki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.