Sepi Raga Sunyaragi

0
111
Gua Sunyaragi, Cirebon

Gua Sunyaragi berlokasi di Kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon, atau tepatnya di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono. Gua Sunyaragi, sering disebut Taman Air Sunyaragi atau Taman Sari Sunyaragi. Nama “Sunyaragi” sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta. Kata “Sunya” yang artinya sepi, dan kata “Ragi” yang artinya raga. Jadi Gua Sunyaragi artinya adalah gua yang digunakan untuk menyepi.

Pada zaman dahulu kompleks gua seluas 15 hektare tersebut di kelilingi oleh sebuah danau, yaitu Danau Jati. Lokasi dimana dahulu terdapat danau Jati saat ini sudah mengering dan dilalui oleh jalan by pass Brigjen Dharsono, Sungai Situngkul, lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas Sunyaragi milik PLN, persawahan, dan sebagiannya lagi menjadi pemukiman penduduk.

Gua Sunyaragi
Komplek Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari Keraton Pakungwati, yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan Cirebon. Kompleks Gua Sunyaragi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. Bangunan gua berbentuk gunung-gunungan, dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air.

Gapura Gua Sunyaragi

Bagian luar komplek bermotif batu karang dan awan. Pintu gerbang luar berbentuk Candi Bentar dan pintu dalamnya berbentuk paduraksa. Paduraksa adalah bangunan berbentuk gapura yang memiliki atap penutup yang lazim ditemukan dalam arsitektur kuno dan klasik di Jawa dan Bali.

Sejarah berdirinya Tamansari Gua Sunyaragi memiliki dua versi, yang pertama adalah menurut cerita para bangsawan Cirebon atau keturunan keraton yang disampaikan secara turun-temurun. Versi tersebut dikenal sebagai Carub Kanda. Versi kedua merupakan versi Caruban Nagari yaitu berdasarkan buku Purwaka Caruban Nagari yang ditulis tangan oleh Pangeran Kararangen (Pangeran Arya Carbon) pada tahun 1720.

Versi inilah yang digunakan sebagai acuan bagi pemandu wisata Gua Sunyaragi. Berdasarkan versi tersebut Gua Sunyaragi didirikan oleh Pangeran Kararangen yang merupakan cicit dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1703. Tujuan utama dibangunnya Gua Sunyaragi adalah sebagai tempat untuk beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya. Tempat ini beberapa kali mengalami perombakan dan perbaikan.

Gua Sunyaragi, Cirebon

Dilihat dari gaya atau corak dan motif-motif  yang muncul serta pola-pola bangunan yang beraneka ragam, dapat disimpulkan bahwa gaya arsitektur Gua Sunyaragi merupakan hasil dari perpaduan antara gaya Indonesia klasik atau Hindu, gaya Cina atau Tiongkok kuno, gaya Timur Tengah atau Islam, dan gaya Eropa.

Gua Sunyaragi didirikan pada zaman penjajahan Belanda sehingga gaya arsitektur Belanda atau Eropa turut memengaruhi gaya arsitektur gua Sunyaragi. Sebagai peninggalan keraton yang dipimpin oleh Sultan yang beragama Islam, Gua Sunyaragi dilengkapi pula oleh pola-pola arsitektur bergaya Islam atau Timur Tengah.

Secara visual, bangunan-bangunan di kompleks Gua Sunyaragi lebih banyak memunculkan kesan sakral. Kesan sakral dapat terlihat dengan adanya tempat bertapa seperti pada Gua Padang Ati, Gua Peteng, dan Gua Kelanggengan. Di depan pintu masuk Gua Peteng terdapat patung Perawan Sunti. Menurut legenda masyarakat lokal, jika seorang gadis memegang patung tersebut maka ia akan susah untuk mendapatkan jodoh.

Tetapi bagi yang tidak sengaja memegang patung tersebut, ada baiknya pergi ke Gua Kelanggengan yang berada tidak jauh dari pohon lengkeng. Konon disitu juga siapapun yang masuk ke Gua Kelanggengan tersebut akan enteng jodohnya. Jika sudah memiliki jodoh, dipercaya juga langgeng terus cintanya. Tapi pada saat musim hujan, Gua Kelanggengan ini tidak dapat dimasuki dikarenakan tergenang air.

Patung Perawan Sunti

Mitos Patung Batu Prawan Sunti tetap dijaga oleh para pemandu dan mereka selalu memberikan imbauan kepada pengunjung agar tidak berperilaku sembarangan ketika berada di lokasi Gua Sunyaragi apalagi sampai memegang Patung Batu Prawan Sunti.

Pada tahun 1997 pengelolaan gua Sunyaragi diserahkan oleh pemerintah kepada pihak Keraton Kasepuhan. Hal tersebut sangat berdampak pada kondisi fisik Gua Sunyaragi. Kurangnya biaya pemeliharaan menyebabkan lokasi wisata Gua Sunyaragi lama kelamaan makin terbengkalai.

Walaupun berubah-ubah fungsinya menurut kehendak penguasa pada zamannya, secara garis besar Gua Sunyaragi adalah tempat para pembesar keraton dan para prajurit-prajuritnya bertapa, untuk meningkatkan ilmu kanuragan.

Tepat di samping Gua Kelanggengan terdapat sesosok batu berbentuk manusia dengan kepala garuda yang dililit ular. Patung tersebut mempunyai makna bahwa seorang pemimpin yang sudah berkuasa tidak boleh lupa akan tanggung jawabnya pada rakyat.

Selain itu ada juga sebuah patung yang berbentuk gajah, konon jika seseorang memasukan koin pada belalainya dipercaya akan mendatangkan hujan. Ada juga sebuah kolam yang berada di depan museum Gua Sunyaragi. Kolam tersebut biasanya kering pada musim kemarau namun disisi pojok kolam tersebut terdapat bagian yang tidak pernah mengering, konon pada bagian tersebut dipercaya terdapat lubang yang sangat dalam tidak berdasar yang menjadi tempat tinggal seekor buaya putih.

Jam Buka
Senin-Minggu 08.00 Wib - 17.30 Wib

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.