Dia gendut tapi lucu dan menggemaskan. Begitulah penampakan penghuni Pulau Sikka, Alor ini. Namanya Mawar, dia tampan. Dia itu jantan, dan dia punya anak serta pasangan. Mereka sekeluarga hidup damai dan bahagia di Pulau Sikka.

Laut biru terhampar di depanku, membuatku terpaku di pasir putih Pantai Mali. Tak begitu jauh di depan sana, terdapat sebuah pulau kecil tak berpenduduk. Pulau tersebut bernama Pulau Sikka. Pulau Sikka merupakan tujuan kami saat ini. Di pulau tersebut hiduplah tiga ekor dugong yang dilindungi karena merupakan hewan langka.

Dugong, orang biasa menyebutnya sebagai duyung. Ada juga yang menyebut dugong adalah sapi laut. Dugong termasuk hewan mamalia, seperti juga lumba-lumba. Dugong sendiri sudah sangat langka dan jarang dijumpai di Indonesia. Penyebaran dugong di Indonesia rata-rata berada di Indonesia bagian Timur.

Populasi dugong di Indonesia saat ini hanya sekitar 1.000 ekor saja dan tersebar di empat lokasi, salah satunya di Pulau Alor, dan konon dari empat lokasi tersebut, hanya di Pulau Alor saja terdapat dugong yang menetap, yang lainnya berpindah-pindah sesuai alur migrasi.

Pantai Mali, Alor

Selain itu, kata Ketua Forum Ikan Kabola di Kelurahan Kabola itu, Alor telah bekerja sama dengan World Wildlife Fund (WWF) untuk menjaga, merawat, dan melestarikan dugong. Pada 2009, Pak One juga mengizinkan pihak WWF Indonesia untuk mengamati tingkah laku dugong di perairan Pantai Mali. Mereka diperbolehkan berenang di sekitar untuk melihat dugong, tetapi dengan syarat tertentu. Yaitu supaya dijaga agar dugong-dugong tersebut tidak stress.

Pak One menyadari, lambat laun keberadaan dugong Alor menjadi daya tarik wisata. Meskipun demikian, beliau tak lantas menjadikan dugong sebagai objek wisata. Pak One memperlakukan dugong layaknya mitra dan memikirkan keberlangsungan hidup mereka.

Mawar Si Dugong
Dugong alor

Untuk bertemu Mawar, kita harus meminta izin Pak One. Pak One merupakan satu-satunya pawang dugong yang berada di Alor. Beliau secara khusus mampu berinteraksi dengan dugong. Setelah menemui Pak One, kita kemudian menuju ke Pantai Mali untuk naik sampan yang akan mengantar kita menemui Mawar. Jarak Pantai Mali dari rumah Pak One sekitar 500 meter. Bisa ditempuh dengan jalan kaki ataupun dengan ojek.

Saat naik ke sampan, pemandu kami sudah berpesan agar tidak berisik ketika sudah tiba di Pulau Sikka. Dugong adalah binatang yang sangat mudah stress, karena itu pengunjung harus menjaga sikap. Beberapa waktu yang lalu sebenarnya masih diperbolehkan untuk berenang bersama dugong dengan catatan tidak boleh menggunakan fin atau kaki katak dan tidak boleh diving. Tetapi sejak ada kelakuan orang-orang tidak bertanggungjawab yang mengakibatkan stressnya dugong penghuni Pulau Sikka ini, kebijakan mengizinkan berenang bersama dugong akhirnya dicabut.

Saat ini, pengunjung hanya boleh melihat dugong dari atas sampan serta memasukkan kamera underwater ke dalam air tetapi harus dengan hati-hati jangan sampai mengenai dugong tersebut. Waktu berkunjung pun dibatasi, hanya boleh selama satu jam saja tidak boleh lebih.

Di perairan pulau ini banyak tumbuh rumput laut yang merupakan makanan utama dugong. Dikarenakan jernihnya air dan dasar laut yang tak terlalu dalam bertabur pasir putih, maka kita bisa melihat makanan dugong tersebut dari atas sampan.

Pantai Mali, Alor.

Alor, pulau kecil ini disebut juga Bumi Nusa Kenari. Selain itu Bapak Bupati Alor pun mencetuskan, “Alor Tanah Terjanji, Bumi Persaudaraan, Surga di Timur Matahari”. Tak terbayangkan betapa bahagia rasa hati ketika menginjakkan kaki di Tanah Terjanji ini. Menuju Alor dari Jakarta tidaklah sulit. Kita bisa mengambil penerbangan langsung Jakarta-Kupang kemudian dilanjutkan penerbangan Kupang ke Alor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.